Duh, Ratusan Siswa Diguyur Hujan Sambut Presiden

BANDA ACEH--Kasihan benar ratusan siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Banda Aceh. Demi melihat dan menyambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mereka berjejer di pinggir jalan yang dilewati Presiden menuju Hutan Kota Banda Aceh. Kondisi cuaca ketika itu sedang diguyur hujan cukup lebat.

Mereka sudah berdiri di sepanjang trotoar Jl Panglima T Nyak Makam dekat tempat Presiden menginap. Para siswa berasal dari berbagai sekolah di Banda Aceh, salah satunya, SD Negeri 24 Lampineung. Mereka melambaikan tangan dan mengibarkan bendera merah putih berukuran kecil.

Para siswa ini masih mengenakan seragam sekolah. Mereka didampingi gurunya masing-masing. Dari kejauhan tampa baju mereka basah kuyup karena tak memakai payung, apalagi jaket. Selain itu, di sepanjang jalan juga terlihat ratusan polisi dan personel militer, beberapa di antaranya membawa senjata laras panjang.



http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/11/29/149506-duh-ratusan-siswa-diguyur-hujan-sambut-presiden
Read More......

Tutorial Cisco

buat teman2 yang memerlukan, ini ada tutorial2 cisco bisa di download gratis

CBT Nuggets - CCNA (640-802)->http://rapidshare.com/users/M0FV1Z
CCNP BCMSN 642-812 - Train Signal->http://rapidshare.com/users/5FG1NI
CBT Nuggets - Jeremy Cioara - Cisco CCNA - ICND2
(640-816)->http://rapidshare.com/users/CJ63CE
CBT Nuggets - Jeremy Cioara - Cisco CCNA-CCENT - ICND1
(640-822)->http://rapidshare.com/users/9G75I
Cisco Press - Wendell Odom - CCNA Video
Mentor->http://rapidshare.com/users/WS32FF
Scott Morris - IPeXpert's CCIE Routing & Switching
v4->http://rapidshare.com/users/7IZKT2
Sybex - Todd Lammle - CCNA Study Guide (6th
Edition)->http://rapidshare.com/users/AHRUVR
TrainSignal - CCNA-CCENT 640-822 ICND1->http://rapidshare.com/users/X7KYLQ



Read More......

BANGSA YANG TIDAK MEMBACA

Halangan terbesar adalah penguasaan Bahasa Inggris?

Waktu masih di Madison dulu aku juga berpikir demikian ... bahwa batu sandungan terbesar di bnagsa ini adalah penguasaan bahasa Inggris. Karena itulah selama 8 tahun aku ngoprek bahasa-bahasa dunia (the top 43) untuk mendapatkan cara terbaik dan universal untuk mengajar/belajar bahasa secara efektip, 3 bulan intensip -- practically any language. I finished the project, as planned, however ...

Setelah di tanahair, terutama setelah pulang dari diskusi nasional Bahasa Indonesia di Yogya (UNY), aku menyadari bahwa problem bangsa ini bukan sekedar penguasaan bahasa Inggris --itu juga masih problem besar; nomor 2 lah, -- tetapi sesungguhnya problem nomor wahid adalah kenyataan bahwa bangsa ini, secara kolektip, adalah BANGSA YANG TIDAK MEMBACA. Seperti aku tulis sebelumnya ...

<< Sejak pertemuan di Yogya tersebut, aku bikin survey pribadi, setiap ketemu orang dibawah usia 50 tahun aku tanya apakah sudah pernah baca "Siti Nurbaya." Kebanyakan reaksinya bengong ... siti siapa? Itu lho, novelnya Marah Rusli .. atau apa kalian pernah baca Layar Terkembang, Katak Hendak Menjadi Lembu ... Pujangga Lama, Pujangga Baru, Angkatan 45, ... Kwartet Buru dari Pramudya. Dari seratus orang hanya 2-3 yang pernah baca, dan itupun karena orangtuanya punya dan suruh dia baca [dari sekolah tidak ada dorongan, anjuran atau assignment untuk melakukan itu]. >>

Nah, kalau literatur karya orang kita sendiri (dan dalam bahasa kita sendiri) saja tidak dibaca, apakah kita bisa mengharapkan mereka ini membaca literatur dalam bahasa asing? Padahal penguasan bahasa ini tidak mungkin dilakukan tanpa membaca buku, tanpa kemampuan memahami konsep dari sebuah paragraph -- yang merupakan element atau building block dari ide besar dari sebuah buku. Setelah melalui proses "decoding" atau "deciphering" ribuan paragraphs inilah barulah orang "menguasai" bahasanya, apakah itu bahasa ibu kita (L1) maupun bahasa asing (L2).

Tidak ada cara lain untuk menguasai bahasa Inggris (yang dalam hal ini adalah L2) kecuali dengan membaca buku-bukunya. Berapakah di antara kita yang punya privilege untuk mendapat exposure pada kultur dan native speaker secara intensip (misalkan tinggal dan bekerja/sekolah di luar)? Begitu juga dengan bahasa Indonesia, tanpa membaca yang dalam dari literatur yang berbobot (bukan sekedar buku teks garing seperti yang diterbitkan BSE), bagaimana mungkin kita bisa menguasai bahasa Indonesia. Ini menjelaskan nilai ujian yang sungguh menyedihkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia (bahasa kita sendiri!)

Kalau nilai UN yang jeblok masih belum meyakinkan, cobalah tengok assessment PISA/OECD yang diterbitkan bulan ini: Dalam kompetensi "reading", Indonesia rankingnya nomor ke 57Š out of 65 countries !!! Dan iini tidak bergeming dari laporan 4 tahun sebelumnya (2006) dimana ranking kita adalah nomor ke 51 ... out of 57 countries. [Dan tentu saja dalam math dan science tidak banyak berbeda, malahan lebih rendah, karena penguasaan setiap ilmu itu tidak lepas dari kemampuan memahami bacaannya.]

Bagaimana memecahkan problem ini?

Pertama-tama, marilah berpikir dan bersikap realistis. Ini masalah tidak bisa sekedar selesai dengan memerintahkan begini begitu, dengan menghimbau penerbitan buku ini-itu (tentu saja tersedianya literatur yang baik, yang aksesible, akan banyak menolong. Berhentilah berpikir secara instant, seolah semuanya itu bisa selesai dalam semalam (yang aku suka sebut sebagai "sangkuriang complex"). Ini problem "generational" yang --if we do it right-- baru bisa kelihatan hasilnya dalam satu-dua generasi, i.e., 20 sampai 30 tahun.

Apakah ada REAL & PRACTICAL solution?

Problem ini sudah ada di kepala jauh sebelum aku meninggalkan tanah air, ketika masih sekolah di Bandung, tetapi baru 16 tahun terakhir di Madison aku bener-bener "go deeply ... where no one has gone before" melakukan risetnya. Dan akhirnya kulihat ada setitik harapan, a point of light at the end of the tunnel ... yang pada dasarnya mengatakan: kalau kita menanamkan budaya membaca ini sejak usia dini (TK/SD, bahkan pre-school age) agaknya masih ada harapan buat bangsa ini di masa depan.

Dari mendalami masalah language aquisition (adult and early age) aku melihat paralelnya dengan budaya atau kegemaran membaca ini: sesuatu yang hampir mustahil diajarkan (walau pakai paksa atau bribe) setelah usia dewasa, tetapi begitu mudah dan "natural" untuk dilakukan ketika mereka ini masih kecil (umur 3-10 tahun). Ini mirip dengan fenomena "phonological bootstrapping" yang terjadi ketika anak-anak mendapatkan bahasanya yang pertama. "Parameter setting" dilakukan di saat itu (as early as 1-2 years old). Tentu saja tidak ada kata "terlambat" dalam belajar apa saja. Mulai membaca (dan belajar bahasanya) kapanpun akan besar manfaatnya, dan ini juga diperlukan untuk mengerti dan membantu proses "pembudayaannya" ... tetapi harapan paling besar (dan berarti penggunaan resource) haruslah diletakkan pada anak-anak yang akan menggantikan kita 20-30 tahun mendatang.

Mark Twain pernah berujar, "A person who won't read has no advantage over one who can't read." Kalau ini diperluas secara kolektip, bangsa kita ini tak ubahnya dengan bangsa yang tidak bisa membaca atau buta huruf. Dan ini juga punya dampak pada penerbit (seperti Erlangga misalnya), bangsa yang tidak membaca berarti tidak menumbuhkan kebutuhan akan buku, pencetakan buku menurun. Karena buku jadi langka, yang masih mau baca juga susah cari bahan bacaan ... lingkaran setan yang "spiralling down" sampai saat ini: rankingnya 51 out of 57!

tabik,
\KM/
Read More......

elas Pendek Pustakawan Sekolah (pendaftaran gelombang II)

APISI, lembaga pengembangan kompetensi pustakawan sekolah, akan mengadakan
kursus singkat bersertifikat untuk menambah keterampilan pustakawan sekolah
dalam pengembangan program perpustakaan di sekolahnya. Melalui kursus ini,
para pustakawan sekolah akan diajarkan keterampilan teknis dan konseptual
untuk peningkatan kinerja dan perannya sebagai pekerja informasi di sekolah.
Pustakawan sekolah yang berminat dapat memilih materi kursus berdasarkan
kebutuhannya.

Kursus singkat ini akan diadakan pada tanggal 3-8 Januari 2011 di Pusat
Dokumentasi Informasi Ilmiah LIPI (*PDII*) *LIPI Alamat*: Jl Gatot Subroto
No 10, *Jakarta. *Adapun materi kursus yang ditawarkan di Kelas Pendek Awal
Tahun diantaranya:

*3-5 Januari 2011*

Kelas Pagi, 08.00-13.00, Manajemen Dasar Perpustakaan Sekolah (13 jam
pelajaran)

Kelas Siang, 13.00-17.00, Literatur Anak (12 jam pelajaran)

*6-8 Januari 2011*

Kelas Pagi, 08.00-13.00, Manajemen Pengelolaan Koleksi dengan Software SLiMS
(13 jam pelajaran)

Kelas Siang, 13.00-17.00, Literasi Informasi (12 jam pelajaran)

Adapun syarat-syarat peserta kursus antara lain:

1. Peserta adalah pustakawan sekolah, guru ataupun mereka yang berminat
menekuni kepustakawanan sekolah.

2. *Peserta yang bukan lulusan D3 atau S1 jurusan Ilmu Perpustakaan dan
Informasi wajib mengikuti kelas Manajemen Dasar Perpustakaan
Sekolah*terlebih dahulu sebelum mengambil materi kursus lainnya.

3. Peserta wajib membayar biaya Kelas Pendek sesuai dengan materi kursus
yang dipilihnya.

Biaya per materi kursus adalah sebesar Rp. 750.000,- per materi kursus.
Pendaftaran paling lambat tanggal 28 Desember 2010. Diskon 10 persen untuk
siswa yang mengikuti lebih dari satu materi kursus.

* *

*Pendaftaran dapat menghubungi menghubungi Novi di 021-98096988 /
08568655377 atau mengirimkan email ke kotaksurat@apisi.org *

* *

*Informasi lebih lengkap dapat dibaca di www.apisi.org*
Read More......

Pejabat Kemendiknas Jadi Tersangka Korupsi

Jakarta - Kejaksaan Agung menetapkan Joko Sutrisno,
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan pada Ditjen Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional sebagai
tersangka korupsi.

" Penetapan tersangka itu berdasarkan Surat Perintah Direktur
Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, 13 Desember
2010" kata Juru Bicara Kejaksaan Agung, Babul Khoir Harahap di
Jakarta, Rabu 22 Desember 2010.

Kasus dugaan korupsi itu terkait pelaksanaan Lomba Keterampilan Siswa
(LKS) SMK XVII dan Pameran SMK pada Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Kemdiknas 2009.

Menurut penetapan tersangka itu merupakan pengembangan dari hasil
penyidikan tindak pidana korupsi pelaksanaan LKS SMK XVII dan Pameran
SMK atas nama tersangka Sukowiyanto.

Dikatakan, sebelumnya Kejagung telah menetapkan tiga tersangka dalam
penyidikan dugaan korupsi tersebut, yakni, Sukowiyanto (penanggung
jawab kegiatan). Kemudian Susilowati (Kasubdit SMK Direktorat
Pembinaan SMK Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdiknas
atau Pejabat Pembuat Komitmen). "Tersangka berikutnya, yakni, mantan
Bendahara Pengeluaran Pembantu," katanya.

WDA | ANT

sumber http://tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/12/22/brk,20101222-300999,id.html
Read More......