Bocah Belia dengan Ide Besar

ANDA mungkin ingat dengan peraih Ashoka Young Changemaker 2009, Kusuma Dyah
Sekararum atau biasa disapa Ara.Ara yang saat itu masih berusia sembilan
tahun menerima penghargaan karena proyeknya, Moo’s Project, yakni melakukan
pendampingan kepada peternak sapi di Boyolali, Jawa Tengah. Kini muncul nama
Aghnie Hasya Rif,siswi SMP Alfa Centauri, Bandung.

Aghni yang masih berusia 14 tahun terpilih sebagai peraih young changemaker
termuda untuk tahun 2010. Baik Ara dan Aghnie memiliki kesamaan, yakni masih
sama-sama bocah namun memiliki ide perubahan sosial layaknya orang dewasa.
Berbicara dengan Ara dan Aghnie, layaknya Anda berbicara dengan dua bocah
yang masih terbata- terbata bicaranya.

Namun, Anda akan terkejut, dalam kalimat- kalimatnya yang pendek itu
ternyata meluncur ide pembaruan dan perubahan sosial yang bahkan tidak
terpikir oleh orang dewasa kebanyakan. Boleh kagum atau terpesona, yang
jelas Ara dan Aghnie adalah dua bocah Indonesia yang samasama memiliki
keprihatinan melihat kondisi lingkungan sekitar.

Melihat Ara dan Aghnie mengingatkan kita pada tokoh Trevor McKinney dalam
film Pay It Forward. Berbicara tentang Aghnie yang masih duduk di kelas 3
SMP ini,dia prihatin dengan kondisi ketimpangan sosial di sekolahnya.SMP
Alfa Centauri, Bandung, tempatnya menimba ilmu, memang merupakan sekolah
yang menerapkan subsidi silang.

Namun, nyatanya terdapat kondisi yang tidak seimbang di mana lebih banyak
siswa tidak mampu dibanding yang mampu hingga sering menjadi kendala bagi
sebagian siswa, seperti kesulitan mendapat buku pelajaran, tidak ada biaya
untuk outing,dan sebagainya. Kepada SINDO Aghnie mengisahkan betapa
tragisnya apabila melihat temannya harus diminta keluar dari kelas hanya
gara-gara tidak memiliki buku pelajaran.

Sungguh ironis, ketika negara sedang menggalakkan gerakan wajib belajar 9
tahun namun masih banyak anak dari masyarakat miskin yang harus rela menelan
pil pahit karena kesulitan ekonomi. Toh jika bisa sekolah pun,tidak mampu
membeli buku. Kondisi inilah yang membuat Aghnie mengajak teman-teman
sekelasnya mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual dalam kegiatan
Garage Sale bertema “Sama Rata Sama Rasa”, yang hasilnya diperuntukkan bagi
temanteman Aghnie yang kesulitan biaya.

Dengan mengusung moto “Dari kita untuk kita”beruntung Aghnie mendapat
dukungan dari guru dan teman-temannya hingga dia berhasil menyelenggarakan
Garage Sale lebih dari tiga kali.Dalam proses pengumpulan barang bekas,
Aghnie melibatkan teman-temannya dalam panitia kecil, serta secara
bergerilya masuk ke kelaskelas maupun ke rumah kerabat dan teman-temannya,
khusus untuk menyosialisasikan program ini. Hasilnya, dari kegiatan Garage
Saleyang sudah terlaksana,terkumpul dana Rp2,6 juta.

Dana yang terkumpul ini sudah digunakan untuk membeli sebanyak 127 buku
pelajaran yang kemudian disimpan di perpustakaan. Siswa di sekolah Aghnie
pun sudah menggunakan buku yang disediakan. Mereka menggunakannya secara
bergantian. Bagaimana cara Aghnie menjual barang-barang bekas yang di
antaranya barang elektronik dan baju bekas layak pakai itu? “Dijual di
sekolah, di kota, di gang Jalan Lombok di Bandung, dan juga dibantu Ibu
Aghnie untuk dijual kepada teman-temanya di kantor,”ujarnya polos.

Untuk ke depan,Aghnie akan terus menampung barang-barang yang ingin orang
sumbangkan dan dijual di Garage Sale berikutnya. Lalu uang hasil
penjualannya akan dipakai untuk membeli buku yang disimpan di perpustakaan
sekolah sehingga dapat membantu temantemannya yang kesulitan membeli
buku.Apalagi,Aghnie juga membentuk suatu komunitas cinta baca di sekolahnya,
yang bertujuan meningkatkan minat membaca anak bangsa.

Aktivitas Aghnie ternyata tidak hanya berhenti di situ. Jika melalui Garage
Sale bertemakan ”Sama Rata Sama Rasa” dia membantu teman-teman sekolahnya,
kini Aghnie mulai ingin membantu ibu dari teman-temanya yang kesulitan
membeli buku itu. Melalui ”Sekolah Ibu” yang dimulai sejak tiga bulan
lalu,Aghnie ingin memberikan bekal keterampilan bagi ibu-ibu untuk membuat
kerajinan tangan. Silakan ditebak.

Bahan baku kerajinan tangan pun merupakan sebagian kecil hasil penjualan
dari Garage Sale untuk membeli manik-manik yang akan dijadikan kalung dan
aksesori lain sebagai modal fundraising jika tidak ada lagi barang bekas
yang bisa dijual. Kini sudah ada delapan ibu yang bergabung di Sekolah Ibu
untuk ikut belajar membuat kerajinan tangan.Hasil karya dari para ibu-ibu
ini pun nantinya juga untuk membantu pembelian buku pelajaran. Mentornya
nantinya juga dibuat bergilir.

Yakni ibu yang saat ini menjadi siswa dan mahir, nantinya akan diminta
menjadi mentor bagi ibu lainnya. Bahkan, sudah ada perusahaan di Bandung
yang menawarkan diri untuk merekrut karyawan dari alumni Sekolah Ibu apabila
memang dianggap terampil. ”Model sekolahnya dengan pertemuan tiga kali
seminggu,saat ini hasil kerajinannya masih buat contoh, belum dijual. Ke
depan, Sekolah Ibu inilah yang ingin saya tingkatkan sehingga bisa semakin
baik,”katanya.

Selain Aghnie dari Malang Jawa Timur juga ada Thantien Hidayati yang
melakukan gerakan pendidikan alternatif guna pengembangan kapasitas anak.
Thantien melihat anak-anak yang tinggal di kampung yang dikelilingi
perumahan mewah di daerah pelabuhan menunjukkan perilaku yang kurang berbudi
pekerti dan beretika.

Melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Aksara di
Perpustakaan Anak ‘’Pustaka Aksara’’, anak-anak didampingi secara
berkelanjutan dan difasilitasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan
berbudi pekerti, tentunya juga dengan penggalian potensi minat bakat dalam
diri mereka untuk dikembangkan secara lebih terarah.

Komunitas Aksara juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk kaum muda dengan
tujuan untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap permasalahan sosial dan
juga pelatihan serta pendampingan untuk komunitas-komunitas kaum muda yang
memiliki gerakan sevisi dengan Komunitas Aksara. (abdul malik/islahuddin)

0 komentar:

Poskan Komentar