Ibuku, Perpustakaan Pertamaku

Ibuku, Perpustakaan Pertamaku Wijaya Kusumah, Penulis buku Guru Tangguh Berhati Cahaya Berdomisili di Jakarta Malam makin larut. Anak dan istriku sudah tertidur lelap.Tinggal aku sendiri yang masih belum bisa tidur. Entah kenapa mata ini sulit sekali terpejam, dan tiba-tiba saja aku melihat foto almarhum ibu bersamaku sedang memegang sebuah buku. Bagiku, ibuku adalah perpustakaan pertamaku. Setiap kali ada hal yang tak bisa kujawab, kutanyakan kepada ibu. Hebatnya, ibuku selalu saja bisa menjawab pertanyaanku. Ibu seperti perpustakaan yang lengkap dan tahu dimana buku-buku itu diletakkan. Ibuku memang hebat dalam membaca buku. Mungkin itu yang membuatnya serba tahu bila kami anak-anaknya bertanya. Bila ibu tak bisa menjawabnya, maka dia akan mencari tahu dan bertanya kepada orang yang tahu. Di rumah, kami berlangganan majalah dan koran. Dengan begitu kami tak pernah ketinggalan informasi baru. Bahkan majalah bobo selalu setia menemaniku. Ada paman gembul yang lucu. Dengan perut besar berada di tubuhnya. Terkadang aku jadi geli sendiri sebab kini perutku sudah seperti paman gembul yang lucu. Jadi malu dech aku, hehehe. Ibuku memang mendidikku untuk rajin membaca. Waktu itu belum ada internet seperti sekarang ini. Berita di televisepun baru ada TVRI dan radio di RRI. Pokoknya jadul banget dah! Ibuku memang kutu buku. Di tengah-tengah kesibukannya masih suka membaca. Bagi ibu membaca adalah jendela dunia. Siapa yang rajin membaca, maka dia serasa berkeliling dunia. Baca buku,buka dunia. Itulah motto yang dituliskan ibu di meja belajar kami anak-anaknya. Peran ibu dalam pendidikan anak memang tak bisa diremehkan. Aku suka dan hobi membaca seperti ini karena didikan ibuku. Ibu selalu mengingatkan pentingnya membaca, khususnya membaca buku dan membaca kalam ilahi. Oleh karenanya semua anak-anaknya diwajibkan ikut pengajian di mushalla Nuruli mandekat rumah kami di Kodamar Sunter Jakarta Utara. Aku masih ingat ketika pak ustadz Syamsulis Ismail mengajariku membaca Al-quran. Dari beliaulah aku mengenal “iqra” dan menghapal surat-surat pendek dalam Al-quran. Alhamdulillah, tamat sekolah dasar aku sudah khatam Al quran. Hanya saja perlu sedikit dibenahi bacaan tajwid dan makhroznya. Jujur aku akui bahwa aku belum bisa membaca Al-quran secara tartil. Ibuku selalu membimbingku dan membetulkan bacaan Al-quran yang aku baca dengan keras. Ibu selalu mengecek bacaan qur’an anak-anaknya. Ibupun selalu melengkapi buku-buku pelajaran kami di sekolah. Bila kurang lengkap, ibu biasanya mengajakku ke toko buku. Ibu mengatakan bahwa buku adalah jendela ilmu. Dengan banyak membaca buku akan banyak ilmu yang didapatkan. Bahkan Allah berfirman dalam Al quran bahwa orang-orang yang berilmu pengetahuan akan ditinggikan derajatnya (QS Al-Mujaadilaht ayat 11) Membaca buku jelas berbeda dengan membaca di internet. Membaca buku jauh lebih baik hasilnya dari pada membaca di internet yang terkadang artikelnya tidak dikemas secara lengkap. Sering kali merupakan potongan-potongan dari isi buku. Sedangkan dari membaca buku, kita mendapatkan informasi dari a sampai z secara utuh. Itulah kenapa ibuku selalu member contoh dalam membaca buku. Tantowi Yahya yang diangkat menjadi duta baca Indonesia mengatakan bahwa membaca adalah penyakit menular yang harus ditularkan kepada khalayak ramai. Membaca adalah jendela menjadi pintar. Tidak banyak membaca akan membuat kita menjadi bodoh. Bodoh itu mendekati kemiskinan. Ibuku memang perpustakaan pertamaku. Beliaulah yang mengajariku membaca dan menulis. Di sekolahku bapak dan ibu guru juga membantuku dalam hal membaca buku agar aku jadi anak yang pintar.Tapi bagiku, ibuku adalah guru utamaku. Kini aku merasakan benar kehebatan ibu dalam mengajarkan kami membaca.Tak terasa membawa kami dalam melangkah mewujudkan mimpi-mimpi kami. Dari 6 orang anaknya, 4 sudah sarjana dan dua sarjana muda. Bahkan sudah ada dua orang yang sudah lulus pasca sarjana. Alhamdulillah. Meskipun ayahku sangat sibuk melaut, ayah tak pernah lupa mengajak kami ke took buku. Sebulan sekali ayah mengajak kami ke took buku untuk membeli buku baru. Biasanya ibu yang lebih banyak beli bukunya, sedangkan aku lebih suka beli buku Komik atau novel. Waktu itu aku lebih suka baca lupus dan komik tintin. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku merasakan benar entingnya membaca buku yang diajarkan ibuku. Tak salah bila aku menyebut ibuku sebagai perpustakaan pertamaku, karena beliaulah tempat aku bertanya dari kegelapan ilmu pengetahuan yang kumiliki saat itu. Hobi membaca menular kepadaku. Tak salah bila akupun mengajarkan anak-anakku senang untuk membaca buku. Kedua anakku, Intan dan Berlian selalu aku ajak ke took buku memilih apa yang disukainya. Istrikupun demikian. Sangat hobi membaca buku, makanya aku suka ketawa sendiri. Selimut istriku adalah buku karena sering tertidur setelah membaca buku atau majalah yang disukainya. Koran kompas, dan majalah bobo adalah santapan tambahan keluarga kami. Anak-anakku harus senang dan suka membaca agar mereka pintar dan mampu menulis sepertiku. Ibuku adalah perpustakaan pertamaku. Tiba-tiba saja aku ingin sekali berjumpa dengannya. Ibu selalu membacakan aku dongeng atau cerita dari buku yang dia baca. Aku akan tertidur pulas ketika ibu menyelesaikan cerita-ceritanya. Seperti dongeng kancil yang suka mencuri ketimun. Akupun larut dalam mimpi indah bersama cerita ibu. Sayang beliau telah tiada. Tinggal rasa sedih menerpa diri. Belum sempat berbakti ibu sudah dipanggi lIlahi Rabbi. Ingin sekali aku memelukmu. Seperti anak-anakku memeluk mamanya dalam tidurnya. Tinggallah aku sendiri menuliskan kisah ini di ponsel jadulku. Kapan-kapan akan kuceritakan kembali tentang kehebatan ibuku yang suka membaca. Baik membaca buku maupun kitab sucinya. Rasanya tak pernah ibuku meninggalkan membaca Al quran dalam sehari. Ibuku, perpustakaan pertamaku. Selalu siap menjawab semua pertanyaanku yang selalu ingin tahu. Dengan lembut beliau menjelaskan apa yang kutanyakan. Cuma satu pertanyaanku yang tak bisa dijawabnya. Kapan kita akan mati? link asal http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=731:ibuku-perpustakaan-pertamaku&catid=4:bingkai-sekolah&Itemid=5

0 komentar:

Poskan Komentar