Arief Rachman : Pendidikan di Indonesia Miskin Proses

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Pengamat pendidikan dan Guru Besar
Universitas Negeri Jakarta, Prof. Arief Rachman, menilai pendidikan di
Indonesia masih miskin proses. Kalangan pendidik dan pengajar selama ini
hanya memusatkan perhatian pada orientasi hasil, bukan proses pembelajaran.
"Ini kritik besar terhadap dunia pendidikan kita. Harus ada rekonstruksi
terhadap proses pembelajaran," kata Arief Rachman, Kamis, 12 Mei 2011.
Berita terkait


- Arief Rachman: Pancasila Tidak
Dihilangkan
- Polisi Usut Penyimpangan Dana di
Al-Zaytun
- Besok, Hasil Unas SMA Dibagikan

- Salah Besar, Menghilangkan Pancasila dari Kurikulum Pendidikan

- Pemerintah Diminta Ungkap Beking Gerakan NII


Arief menilai, sikap guru kurang mendukung pembentukan sikap pada siswa,
sehingga yang terjadi hanya transfer ilmu dan pengetahuan, bukan
transformasi sikap kepada pelajar. Untuk pelajaran Pancasila, misalnya,
siswa hanya mengetahui isi pelajaran Pancasila tanpa mengetahui cara
bersikap dari nilai-nilai Pancasila. "Orang tahu dan mengerti bukan berarti
dia bisa bersikap," kata Arief.

Orang tua juga tak luput dari tanggung jawab karena harus menanamkan sikap
kepada putra-putri mereka. Misalnya, bagaimana bersikap sesuai dengan agama
Islam, bahwa di dalam Islam tidak disebutkan bagaimana membentuk negara
Islam, tapi bagaimana memperkokoh kehidupan masyarakat Islam.

Arief menilai selama ini fenomena yang muncul dalam dunia pendidikan
nasional adalah perhatian pada kekuatan kognitif siswa semata, bukan
penekanan pada sisi afektif mereka. Ibaratnya, pengetahuan sudah dikemas
dengan baik, sedangkan sikap sebagai akibat dari pengetahuan justru tidak
dikuasai siswa.

"Selama ini hanya fokus pada hal-hal yang dapat diukur dan diamati, misalnya
nilai," kata Arief. "Padahal, hal-hal yang tidak terukur dan teramati justru
lebih penting."

Arief juga mengamati munculnya gaya hidup yang berbahaya dalam kehidupan
berbangsa, yakni segala aktivitas masyarakat hanya terpaku pada hasil, bukan
proses. Apalagi ditambah dengan budaya hidup serba instan. "Orang yang
materialistis cenderung tidak sabar karena spiritualitasnya lemah," kata
Arief.

Tak hanya proses pembelajaran untuk pembentukan sikap, Arief juga menilai
kekeliruan pendidikan nasional terletak pada sistem evaluasi. Selama ini
yang dievaluasi hanya nilai, sedangkan sikap pelajar sering diabaikan guru.
"Yang penting bukan mata pelajarannya, tapi proses dan evaluasinya."

*MAHARDIKA SATRIA HADI*

0 komentar:

Poskan Komentar