Kenapa Guru Harus Menulis?

Oleh: Abdus Salam
Guru di STISIP Muhammadiyah Madiun

Gagasan yang dilakukan Ikatan Guru Indonesia (IGI) bekerja sama sama dengan
harian Kompas dan Surya melakukan pelatihan Guru Menulis di Media Masa, akhir
Oktober 2010 silam di Surabaya, patut diapresiasi semua pihak. Utamanya IGI,
Kompas dan Surya yang telah memberikan ruang dan waktu untuk meningkatkan
kapasitas para guru untuk bisa menulis di media massa.

Kegiatan yang dihadiri 480 orang peserta ini dari berbagai sekolah di sejumlah
kota di Jawa Timur itu memberikan kontribusi positif, utamanya bagi para guru
yang berkutat dengan dunia pendidikan. Bahkan, Mendiknas Muhamad Nuh sangat
mengapresiasi kegiatan tersebut.

Mengingat keterbatasan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan dan
profesionalisme guru seperti diakui Mendiknas di depan peserta pelatihan. Oleh
karena itu, dukungan pihak ketiga seperti Kompas dan Surya yang turut membantu
melakukan pelatihan terhadap guru agar lebih kreatif dan produktif, utamanya
dalam hal menulis di media massa.

Tidak bisa dimungkiri bahwa guru adalah kelompok intektual yang berkutat dengan
dunia keilmuan. Transformasi pengetahuan terhadap peserta didik menjadi mutlak
adanya. Tentunya seorang guru tidak hanya berhenti pada transformasi pengetahuan
yang verbalistik.

Lebih dari itu, guru dituntut untuk lebih produktif dalam memberikan pencerahan
terhadap masyarakat melalui karya tekstual seperti menulis di media maupun
melalui jurnal pendidikan, pengetahuan bahkan buku yang berkaitan dengan dunia
pendidikan.

Guru, digugu lan ditiru (menjadi panutan dan contoh) menjadi adagium klasik yang
sering dilekatkan pada sosok guru. Digugu lantaran seorang guru dinilai memiliki
kelebihan oleh masyarakat, baik secara keilmuan maupun secara etika sosial. Pun,
masyarakat akan meniru perilaku seorang guru karena guru adalah laboratorium
pengetahuan di mana masyarakat akan bergantung pada seorang guru.

Banyak kasus yang menimpa para guru saat ini, masih banyak para guru (mulai
tingkat SD-SMA) yang gagap teknologi (gaptek) sementara para peserta didiknya
justru lebih piawai dan leluasa menjelajahi dunia teknologi seperti internet.
Para murid justru lebih pintar dan tahu ketimbang guru mengenai dunia teknologi.
Jika demikian yang terjadi, masih layakkah digugu atau ditiru guru yang tidak
sigap dengan perkembangan zaman dan teknologi ini?

Paradoks adalah kata yang tepat bagi seorang guru jika pada awalnya dinilai
masyarakat sebagai sumber pengetahuan sementara pada realitasnya yang terjadi
sebaliknya. Sungguh ironis jika mengaca data yang disampaikan Mendiknas bahwa
tunjangan sertifikasi dan profesi tidak berbanding lurus dengan profesionalisme
dan peningkatan kapasitas seorang guru, lebih-lebih dalam dunia menulis.

Mencermati data yang disampaikan Mendiknas bahwa jumlah guru golongan IVb hanya
0,87 persen, golongan IVc (0,007 persen), golongan IVd (0,002 persen). Tragisnya
banyak guru yang tidak naik ke golongan IVb ke atas karena tidak bisa
menghasilkan karya tulis ilmiah. Setidaknya sampai dengan November 2009 silam
terdapat 569.611 guru (21,84 persen) yang golongannya terhenti di tataran IV/a.
Tentunya, ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi para guru untuk berkarya
melalui tulisan.

http://klubguru.com

0 komentar:

Poskan Komentar