Pak Guru dan Solidaritas Merapi

Mulyadi terharu. Sepasang suami-istri yang sempat mengungsi di rumahnya saat erupsi Gunung Merapi datang untuk mencuci karpet yang dahulu mereka gunakan sebagai alas tidur. Beberapa orang lagi datang untuk mencangkul kebun di belakang rumahnya yang sempat digunakan untuk menampung sapi pengungsi.

Padahal saya sudah bilang (kepada mereka) tidak usah,” tutur Mulyadi sambil tersenyum saat ditemui di rumahnya di Desa Winong, Kecamatan Boyolali Kota, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Kini, suasana di rumah berkamar empat di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi itu kembali lengang. Sungguh bertolak belakang dengan sekitar sepekan sebelumnya ketika masih ada puluhan pengungsi yang tinggal di kamar, di ruang tamu, bahkan di teras rumah Mulyadi, mantan guru sekolah dasar yang kini bertugas sebagai pengawas sekolah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, itu.

Sekitar 20 hari Mulyadi yang biasanya tinggal di rumah itu hanya bersama istrinya, Sri Wahyuni, harus berbagi ruang privasi dengan puluhan, bahkan sempat 160 pengungsi, dari Kecamatan Selo dan Cepogo. Hal ini tentu bukan hanya dilakukan keluarga Mulyadi, melainkan juga sukarelawan lain yang terketuk hatinya melihat penderitaan sesama.

Dari empat kamar yang ada, Mulyadi memilih satu kamar untuk ditempatinya bersama istri, mertua, dan beberapa kerabatnya yang turut mengungsi. Sementara tiga kamar lainnya digunakan beberapa sukarelawan medis serta warga pengungsi, terutama yang sudah uzur.

Semula tak ada niat Mulyadi mendirikan posko pengungsi erupsi Gunung Merapi di rumahnya. Awalnya dia hanya menjadi sukarelawan pada Lembaga Bakti Kemanusiaan Umat Beragama (LBKUB), sebuah organisasi lintas keyakinan yang bergerak di bidang sosial. Dia bertugas mengantarkan logistik makanan ke lokasi pengungsian di Desa Klakah, Jrakah, dan Lencoh (Selo).

Pada Rabu (3/11) sore, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas berentetan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral lalu memperpanjang daerah rawan dari radius 10 kilometer (km) menjadi 15 km.

Namun, Mulyadi tetap mengantar ransum sehingga sempat terjebak di Klakah, 5-6 km dari puncak Merapi. Dengan mobil Toyota Kijang buatan tahun 1995, bersama seorang relawan, ia membawa 1.200 bungkus nasi. Suasananya mencekam karena petir menyambar-nyambar di puncak Merapi, diikuti suara gemuruh. Api pijar tampak dari puncak Merapi. Sementara abu vulkanik membuat pohon bertumbangan.

”Saya kebetulan menelepon saudara, dia sedang menonton televisi dan mengatakan arah awan panas ke Kali Gendol (Sleman). Karena itu, saya pulang ke arah Selo,” kenang Mulyadi.

Saat melintas di Lapangan Samiran, yang menjadi pos pengungsian warga Selo, sekitar pukul 20.00, ia melihat masih ada beberapa orang tua dan perempuan yang kebingungan. Rupanya mereka tertinggal saat ada relokasi pengungsi ke daerah yang lebih aman. Maklum, pos pengungsi yang disiapkan pemerintah itu hanya berjarak 4,5 km dari puncak Merapi, bukan batas aman.

”Jadilah saya ajak mereka turun. Ada 22 orang bersesakan di mobil saya. Orang tua di dalam, sedangkan yang lebih muda usianya bergelayutan,” tuturnya.

Membeludak

Lantaran tak ada lokasi memadai, Mulyadi memutuskan menampung mereka di rumahnya. Maklum, Pemerintah Kabupaten Boyolali belum siap dengan skenario yang memburuk. Pendopo Kantor Bupati Boyolali sudah penuh, begitu pula dengan pendopo dan ruangan di DPRD Boyolali. Jumlah pengungsi malam itu membeludak hingga dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya.

Mulyadi dan istrinya pula yang menyiapkan makanan untuk hari pertama itu. Karpet, tikar, dan perlengkapan pribadi di rumah itu digunakan seadanya untuk menampung pengungsi.

Baru pada hari kedua Mulyadi mendapat dukungan logistik dari LBKUB. Istri Mulyadi mengoordinasi pembukaan dapur umum di Kantor LBKUB yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Mulyadi.

Ketika rumahnya tak lagi cukup, beberapa tetangga Mulyadi turut menyediakan rumah mereka untuk pengungsi. Total pengungsi yang ditampung Mulyadi dan tetangganya sekitar 350 orang.

Suka, duka, jengkel, sekaligus terenyuh bercampur selama 20 hari berbagi ruang. Gegar budaya dialami pengungsi yang terbiasa hidup di lereng Merapi. Dua kamar mandi dan kakus di rumah Mulyadi tak memadai untuk pengungsi sebanyak itu. Sampai-sampai istri Mulyadi mengungsi untuk mandi ke rumah tetangga.

Selain itu, beberapa perabot Mulyadi rusak. Misalnya, keran dispensernya rusak karena diputar, alih-alih ditekan. Begitu pula dengan gagang pintu kamar mandi. Malah, meja batu di halaman rumahnya juga rusak terbelah dua lantaran diduduki orang dewasa.

”Mau saya ingatkan, tetapi khawatir nanti ada kata yang tidak pas malah menusuk perasaan. Lebih baik saya diamkan, nanti juga bisa diperbaiki,” ungkapnya.

Tak hanya menampung pengungsi, ia kemudian juga menyediakan lahan kebunnya digunakan untuk menampung ternak milik pengungsi. Mulyadi khawatir para pengungsi bakal celaka jika harus kembali ke rumah untuk memberi pakan ternak.

Bermanfaat

Mengapa Mulyadi mau repot-repot? ”Saya senang kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Untuk apa hidup ini kalau hanya bermanfaat buat diri sendiri?” tuturnya.

Ia lalu mencontohkan betapa manusia tidak bisa bahagia sendirian. ”Tertawa sendiri kan tidak bisa? Malah nanti kita dibilang gila,” ujarnya tersenyum.

Kendati saat itu sibuk mengurusi pengungsi, ia mengaku hanya sehari tak masuk kantor di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Mojosongo.

Kini, setelah rumahnya kembali ”kosong”, Mulyadi tidak tinggal diam. Ada tugas tambahan baginya, yakni membantu eks pengungsi yang sudah kembali ke rumah masing-masing. Mereka belum memiliki logistik karena pemerintah baru menyediakan jatah hidup setelah tanggap darurat selesai, yakni 9 Desember nanti.

Mulyadi dan rekan-rekannya dari LBKUB tetap mengirimkan paket makanan berupa beras dan mi untuk lima hari kepada ribuan penduduk di Klakah dan Jrakah. Bantuan itu langsung diserahkan kepada setiap keluarga agar lebih mengena sasaran

0 komentar:

Poskan Komentar