Menangislah Ki Hadjar!

Terbukanya kotak pandora bangsa ini, ambil korupsi dan perilaku koruptif,
menyisakan pertanyaan: masihkah bangsa ini punya harga diri dan martabat?

Nation and character building, sebuah jargon magis tidak lagi punya muruah,
tidak punya roh, tidak bermakna. Dunia nyata yang menjadi habitat praksis
pendidikan tidak connect dengan apa yang diselenggarakan sekolah atau
kampus. Lingkungan pendidikan ibarat enklave, terkucil dari hiruk-pikuknya
dunia.

Kita setuju hasil ujian nasional sekolah menengah atas dengan kenyataan
melorotnya persentase kelulusan dievaluasi. Perlu ditemukan akar masalahnya.
Tidak hanya soal perlu tidaknya ujian nasional, tetapi terutama penyegaran
tujuan menyelenggarakan pendidikan lewat sekolah. Berarti pula berani
menempatkan lembaga pendidikan sebagai bagian utama dari upaya pembangunan
negara dan karakter bangsa.

Praksis pendidikan dan hasil didik tidak seluruhnya tergantung dari sekolah.
Di sana ada kesempatan strategis menghadapi rusaknya habitat. Ketika di
sekolah tidak lagi dibiasakan kejujuran, tertanamlah benih koruptif—dan
terjadilah seperti yang hari ini riuh di media.

Ki Hadjar Dewantara, salah satu bapak bangsa, Menteri Pendidikan pertama
yang hari lahirnya ditabalkan sebagai Hari Pendidikan, 2 Mei, niscaya
menangis. Tidak oleh semakin susutnya obor lembaga pendidikan Taman Siswa,
tetapi terutama oleh pupusnya kebanggaan sebagai bangsa bermartabat.
Pemerintah dan kita mengabaikan kesempatan membangun karakter dan martabat
bangsa itu.

Tawar-menawar soal anggaran pendidikan sekadar contoh kekerdilan kita
menaruh perhatian pada upaya pembudayaan bangsa. Kiat mengakali anggaran 20
persen bukti bahwa sektor pendidikan tidak masuk dalam sektor infrastruktur.

Culture matters, kata magis itu menunjuk pada muruah mutu suatu bangsa,
tidak saja ditegaskan oleh banyak pakar, tetapi juga bukti nyata yang telah
diraih Korea Selatan atau tetangga sebelah, Malaysia, misalnya. Tahun 1990
Ghana dan Korea Selatan sama persis dalam segala-galanya, 10 tahun kemudian
Korea Selatan melejit 30 kali lipat.

Apa yang diraih Korea Selatan, juga diraih Malaysia, Jepang, dan belakangan
disusul Vietnam, hanya membuat kita gigit jari. Keberhasilan mereka
sebaiknya kita jadikan batu penjuru dan referensi. Namun, yang muncul adalah
rasa iri dan sibuk berdalih, simbol manusia tidak bermartabat. Kita pun
terbenam dalam kegemaran berakrobat politik dan perilaku koruptif yang
ditutupi dengan kepura-puraan.

Evaluasi penyelenggaraan ujian nasional perlu kita perluas sebagai bagian
dari upaya mengembalikan muruah pendidikan. Kita hapus bersama air mata Ki
Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan, tidak dengan semangat saling membela
diri, tetapi semangat kolegial bertanggung jawab atas praksis pendidikan
sebagai bagian dari upaya nation and character building.


Sumber
http://cetak.kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar