Memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Konsep Pendampingan Komunitas/Sanggar Belajar

Oleh: Maia Rosyida (Pelajar Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga)

Komunitas Belajar dibangun atas dasar kesadaran untuk membangun kemandirian,
kekuatan dan kemauan kuat tentang peradaban yang baru melalui jaringan
pendidikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam pembentukan Sanggar/ Kelompok/
Komunitas Belajar ini adalah rasa demokratis, rasa kemanusiaan, rasa
subtansial, rasa esensial dan memahami kebutuhan dengan berasaskan belajar
sebagai bahan yang diwajibkan oleh semua agama.

Dalam hal mendirikan sebuah Komunitas Belajar diperlukan keikutsertakan
anggota yang di sini tidak harus banyak. Berangkat dari orang yang
sedikit/cukup dan sama-sama memiliki kesanggupan yang kuat akan lebih
efisien daripada sebaliknya. Nah, selama 4 bulan ini kami dipercaya oleh
sebuah NGO (Non Government Organization) untuk membantu mendirikan Komunitas
Belajar di lokasi pasca bencana Padang Pariaman, Sumatra Barat dan telah
berhasil ‘menarik perhatian’ masyarakat yang berada di 9 desa. Kami
mengisinya dengan beragam pengenalan tentang konsep Komunitas Belajar.
Lumayan gampang, karna Minangkabau sendiri menganut pepatah ‘Alam Takambang
Jadi Guru’ yakni Alam adalah guru kita yang jika dijabarkan berarti
hakikatnya kita ini seharusnya belajar dalam keadaan bebas, lugas, tak
terbatas dan berasas. Simpel: kita kumpulkan masyarakat, kami melakukan
sosialisasi, kami berdiskusi tentang metode pembelajaran yang pernah
dilakukan oleh Sutomo, Wahidin Sudirohusodo dan kawan-kawan dalam Budi Utomo
yakni belajar dengan berkumpul, membangun suasana diskusi yang nantinya akan
menciptakan rumah kreatif yang membangkitkan antusias belajar dan berkarya
demi memajukan kualitas daerah dan bangsa. Sehingga pada akhirnya dimaknai
sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei tersebut. Pada waktu
itu, demi melawan ambisi Belanda yang akan menguasai sistem pendidikan
bangsa kita. Tetapi karna terjadi permasalahan politik, Budi Utomo pun
dilibatkan dalam suasana ‘serang menyerang’. Karnanya, hingga sekarang
warisan Belanda masih tertinggal dan Hari Kebangkitan Nasional, menurut Asvi
Marwan Adam (Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pada
akhirnya dimaknai sebagai proses yang diharapkan terus berlangsung, bukannya
sebuah tonggak. Dan di sini, Budi utomo berposisi sebagai penggerak utama.
Sebagai teladan bagi kita semua yang diharapkan bersedia untuk terus
melanjutkan perjuangan beliau.

Sejauh ini yang telah berjalan dan bisa sedikit kami bagikan adalah: Kami
atas nama SaKA (Sanggar Anak Kreatif) Indonesia yang merupakan sebuah
organisasi baru dan bekerjasama dengan warga belajar Komunitas Belajar
Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga, ikut berpartisipasi dalam Komunitas
Belajar yang baru memulai proses di 9 desa Pariaman tersebut. Masing-masing
dari desa menentukan jadwal mereka untuk berkumpul. Kami hanya tinggal
datang dan mendampingi atau menemani. Meskipun awal-awal masih kita tuturkan
dan tawarkan tentang apa saja yang biasa kami pelajari, tapi harapan kami
untuk ke depannya sanggar-sanggar tersebut akan mengemukakan inisiatif
sendiri. Sehingga benar-benar menjadi sebuah forum atau rumah belajar yang
kita semua impikan. Dalam hal ini, anak-anak mengaku sangat bahagia. Karna
ternyata dengan belajar cara seperti ini, mereka merasa lebih merdeka, lebih
leluasa, lebih betah, lebih butuh dan lebih realistis. Sebagian masyarakat
mungkin masih bertanya-tanya, ini tuh sebenernya tawaran apaan. Tapi
sebagian yang lain udah langsung bisa nangkep dan sangat tertarik. Beberapa
malah udah langsung semangat mengumpulkan karya, setelah kami beberkan
tentang pentingnya apresiasi karya dalam sebuah Komunitas Belajar. Tujuan
utama dari sebuah Komunitas Belajar memang karya. Karna menurut kami, untuk
menjadi Negara yang bagus seperti Negara-Negara yang udah maju, memang harus
mandiri dalam berkarya. Dimulai dari hal hal kecil, seperti misalnya
pengolahan sampah plastik. Sepele, tapi kalo kita mengerjakannya dengan niat
kuat dan ulet, hasilnya akan sangat luar biasa dan identitas budaya kita
akan semakin jelas. Dan juga ditegaskan dalam prinsip sebuah Sanggar/
Komunitas Belajar adalah menjauhkan tujuan-tujuan politik yang memasukkan
arah-arah bisnisasi yang mengarah pada satu pihak. Seperti yang tengah
ditengarai oleh pendidikan barat, yakni dengan membangun komoditas melalui
jual beli jasa di dalam kelas. Guru menjual dan siswa membeli. Ini menurut
prinsip Komunitas Belajar sangat melanggar nilai-nilai subtansi belajar dan
menyimpang dari segala elemen prinsip yang akan mengakibatkan melencengnya
arah tujuan belajar yang sesungguhnya. Jual beli yang tidak pada pemanfaatan
yang tepat (beli sesuatu yang dipatok dengan waktu dan tidak bisa dipilih)
akan menjadikan beban siswa dan menambah masalah. Padahal pada prinsip
Komunitas Belajar bahwasannya belajar adalah suatu pemecahan masalah
(Problem Solving) dan tidak terbatas pada waktu. Bukannya malah
nambah-nambahin masalah atau beban moral. Dan fenomena demikian sejelasnya
tidak cocok diterapkan di Negara kita yang nyatanya serba ada dan memiliki
kekayaan alam yang mewah.
Guru pendamping yang akan terlibat di sini tidak wajib pinter, karna dalam
sebuah Komunitas Belajar utamanya adalah mengedepankan manfaat dan pinter
kita posisikan sebagai bonus. Dalam pandangan kami, jika logika kita balik,
orang yang pintar belom pasti benar dan manfaat. Tetapi orang yang tau makna
belajar, akan menjadi manusia yang sangat bermanfaat untuk diri sendiri dan
orang lain. Dan itulah sebaik-sebaik manusia. Karnanya meskipun tidak
dituntut harus pintar, tapi akan ada point-point penting yang setidaknya
disandang seorang guru pendamping demi terbentuknya sebuah Komunitas Belajar
yang ideal, yakni di antaranya: Punya kemauan kuat untuk setia menemani
anak-anak, berkemauan belajar dengan siapa pun termasuk anak-anak dan tidak
ada ambisi untuk selalu mengajari, memposisikan diri di dalam lingkarana
anak (red: setara dengan anak-anak), punya semangat berkarya, mengajak
anak-anak berkarya dan mengapresiasi karya mereka (red: media apresiasi juga
dibikin bareng anak-anak), selalu menawarkan/memancing ide-ide yang muncul
dari benak anak-anak untuk kemudian pendamping bergabung menyumbangkan ide
bersama mereka dan mengganggap anak-anak adalah kakak atau adek-adek
pendamping sendiri, sehingga dalam sebuah Komunitas Belajar tercipta sebuah
suasana kekeluargaan yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.
Ini menurut Pak Mochtar Buchori (Tokoh Pendidikan; red), merupakan wujud
demokrasi yang sebenar-benarnya. Karna di dalamnya terdapat inti daripada
egaliter/ kesetaraan yang akan menciptakan perasaan santun dalam
masing-masing diri. Sehingga demokrasi berakhlak yang dicita-citakan oleh
bangsa ini akan tercapai dan terciptalah rasa damai.

Komunitas Belajar juga bertujuan untuk menggali potensi desa. Yakni dengan
mengenali kelebihan apa saja yang dimiliki desa, menyangkut utamanya;
ekonomi, matapencaharian dan budaya. Contoh realnya seperti mengenali
keunggulan desa masing-masing dengan cara penelitian, lalu melakukan
analisa-analisa dan membangun proyek bersama dari hasil analisis tersebut.
Seperti yang telah dicontohkan oleh desa Klangon di Madiun Jawa Timur yaitu
dengan masyarakatnya menemukan bahwa potensi alam di sana adalah tanaman
Porang. Dengan mengolahnya menjadi bahan tofu (tahu Jepang), desa yang
dulunya sangat miskin ini sekarang menjadi sangat maju dan berkembang pesat.
Semua penduduknya yang tadinya tertinggal, sekarang telah berkedudukan
sebagai masyarakat menengah ke atas.
Mengenali potensi alam di desa sendiri sangatlah penting. Hal ini bertujuan
untuk terciptanya sebuah desa yang indah, kuat, terpelajar dan menakjubkan.
Sehingga impian jangka panjangnya, jika tiap-tiap desa terpencil di
Indonesia ini kuat dan beridentitas, maka alangkah cemerlangnya masa depan
bangsa nantinya. Tidak akan ada lagi kamus kiblat ke ibu Kota (Red:
Jakarta). Karna masing-masing daerah telah terlahir dengan kultur, adat,
bahasa serta cara-cara sendiri untuk membangun sebuah peradaban. Kurikulum
KTSP yang direkomendasikan pemerintah pun secara otomatis akan terlaksana
dengan pemikiran mandiri seperti ini.
Dengan demikian, gagahnya Bhineka Tunggal Ika tidak akan hanya menjadi
embel-embel lagi, tapi sebaliknya. Menjadi bangsa yang cerah oleh perbedaan,
bangsa yang rukun karna perbedaan, bangsa yang ramai dan seru oleh
perbedaan, bangsa yang berciri khas karna perbedaan, bangsa yang saling
mendukung dan memotivasi karna perbedaan. Karnanya, sangat dibutuhkan para
pendamping atau penggerak bagi berdirinya Komunitas Belajar atau bisa juga
dikatakan sebagai manusia-manusia yang setia dan bersedia serta bersahabat
dengan masyarakat. Ini sangat perlu karna demi kepentingan dan interaksi
sosial. Tetapi melihat kondisi, karakter dan kapasitas manusia yang
berbeda-beda yakni memliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, ya mari
kita cari solusinya bersama-sama. Seperti misalnya salah satu pendamping
tabi’at dari sananya memang udah pemalu atau selalu canggung setiap ingin
memulai bicara dengan orang banyak, ya mari kita bagi-bagi peran. Seperti
yang sudah ada dalam Kisah Nabi Musa yang terbata-bata dalam bicara kemudian
ada Nabi Harun yang bersedia membantu. Berbagi peran, misalnya ada yang
tugas ke lapangan, ada yang di rumah. Yang satu tekun berdekatan dengan
masyarakat untuk menyebarluaskan informasi dan satunya di rumah aja menjaga
anak-anak. Ini sah-sah saja, asal dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Ngga
repot kan ya?

Dari sebuah diskusi, kita bangkitkan jiwa Nasionalis yang bebas, humanis,
kreatif dan komunikatif…sehingga menjadi bangsa yang bahagia, mandiri,
representaif dan reboisasif serta bertranmigrasi dalam hal kapasitas dan
obesitas… Loh loh, mulai mulai… ^<^

Komunitas Belajar dibangun atas dasar kesadaran untuk membangun kemandirian,
kekuatan dan kemauan kuat tentang peradaban yang baru melalui jaringan
pendidikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam pembentukan Sanggar/ Kelompok/
Komunitas Belajar ini adalah rasa demokratis, rasa kemanusiaan, rasa
subtansial, rasa esensial dan memahami kebutuhan dengan berasaskan belajar
sebagai bahan yang diwajibkan oleh semua agama.

Dalam hal mendirikan sebuah Komunitas Belajar diperlukan keikutsertakan
anggota yang di sini tidak harus banyak. Berangkat dari orang yang
sedikit/cukup dan sama-sama memiliki kesanggupan yang kuat akan lebih
efisien daripada sebaliknya. Nah, selama 4 bulan ini kami dipercaya oleh
sebuah NGO (Non Government Organization) untuk membantu mendirikan Komunitas
Belajar di lokasi pasca bencana Padang Pariaman, Sumatra Barat dan telah
berhasil ‘menarik perhatian’ masyarakat yang berada di 9 desa. Kami
mengisinya dengan beragam pengenalan tentang konsep Komunitas Belajar.
Lumayan gampang, karna Minangkabau sendiri menganut pepatah ‘Alam Takambang
Jadi Guru’ yakni Alam adalah guru kita yang jika dijabarkan berarti
hakikatnya kita ini seharusnya belajar dalam keadaan bebas, lugas, tak
terbatas dan berasas. Simpel: kita kumpulkan masyarakat, kami melakukan
sosialisasi, kami berdiskusi tentang metode pembelajaran yang pernah
dilakukan oleh Sutomo, Wahidin Sudirohusodo dan kawan-kawan dalam Budi Utomo
yakni belajar dengan berkumpul, membangun suasana diskusi yang nantinya akan
menciptakan rumah kreatif yang membangkitkan antusias belajar dan berkarya
demi memajukan kualitas daerah dan bangsa. Sehingga pada akhirnya dimaknai
sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei tersebut. Pada waktu
itu, demi melawan ambisi Belanda yang akan menguasai sistem pendidikan
bangsa kita. Tetapi karna terjadi permasalahan politik, Budi Utomo pun
dilibatkan dalam suasana ‘serang menyerang’. Karnanya, hingga sekarang
warisan Belanda masih tertinggal dan Hari Kebangkitan Nasional, menurut Asvi
Marwan Adam (Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pada
akhirnya dimaknai sebagai proses yang diharapkan terus berlangsung, bukannya
sebuah tonggak. Dan di sini, Budi utomo berposisi sebagai penggerak utama.
Sebagai teladan bagi kita semua yang diharapkan bersedia untuk terus
melanjutkan perjuangan beliau.

Sejauh ini yang telah berjalan dan bisa sedikit kami bagikan adalah: Kami
atas nama SaKA (Sanggar Anak Kreatif) Indonesia yang merupakan sebuah
organisasi baru dan bekerjasama dengan warga belajar Komunitas Belajar
Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga, ikut berpartisipasi dalam Komunitas
Belajar yang baru memulai proses di 9 desa Pariaman tersebut. Masing-masing
dari desa menentukan jadwal mereka untuk berkumpul. Kami hanya tinggal
datang dan mendampingi atau menemani. Meskipun awal-awal masih kita tuturkan
dan tawarkan tentang apa saja yang biasa kami pelajari, tapi harapan kami
untuk ke depannya sanggar-sanggar tersebut akan mengemukakan inisiatif
sendiri. Sehingga benar-benar menjadi sebuah forum atau rumah belajar yang
kita semua impikan. Dalam hal ini, anak-anak mengaku sangat bahagia. Karna
ternyata dengan belajar cara seperti ini, mereka merasa lebih merdeka, lebih
leluasa, lebih betah, lebih butuh dan lebih realistis. Sebagian masyarakat
mungkin masih bertanya-tanya, ini tuh sebenernya tawaran apaan. Tapi
sebagian yang lain udah langsung bisa nangkep dan sangat tertarik. Beberapa
malah udah langsung semangat mengumpulkan karya, setelah kami beberkan
tentang pentingnya apresiasi karya dalam sebuah Komunitas Belajar. Tujuan
utama dari sebuah Komunitas Belajar memang karya. Karna menurut kami, untuk
menjadi Negara yang bagus seperti Negara-Negara yang udah maju, memang harus
mandiri dalam berkarya. Dimulai dari hal hal kecil, seperti misalnya
pengolahan sampah plastik. Sepele, tapi kalo kita mengerjakannya dengan niat
kuat dan ulet, hasilnya akan sangat luar biasa dan identitas budaya kita
akan semakin jelas. Dan juga ditegaskan dalam prinsip sebuah Sanggar/
Komunitas Belajar adalah menjauhkan tujuan-tujuan politik yang memasukkan
arah-arah bisnisasi yang mengarah pada satu pihak. Seperti yang tengah
ditengarai oleh pendidikan barat, yakni dengan membangun komoditas melalui
jual beli jasa di dalam kelas. Guru menjual dan siswa membeli. Ini menurut
prinsip Komunitas Belajar sangat melanggar nilai-nilai subtansi belajar dan
menyimpang dari segala elemen prinsip yang akan mengakibatkan melencengnya
arah tujuan belajar yang sesungguhnya. Jual beli yang tidak pada pemanfaatan
yang tepat (beli sesuatu yang dipatok dengan waktu dan tidak bisa dipilih)
akan menjadikan beban siswa dan menambah masalah. Padahal pada prinsip
Komunitas Belajar bahwasannya belajar adalah suatu pemecahan masalah
(Problem Solving) dan tidak terbatas pada waktu. Bukannya malah
nambah-nambahin masalah atau beban moral. Dan fenomena demikian sejelasnya
tidak cocok diterapkan di Negara kita yang nyatanya serba ada dan memiliki
kekayaan alam yang mewah.
Guru pendamping yang akan terlibat di sini tidak wajib pinter, karna dalam
sebuah Komunitas Belajar utamanya adalah mengedepankan manfaat dan pinter
kita posisikan sebagai bonus. Dalam pandangan kami, jika logika kita balik,
orang yang pintar belom pasti benar dan manfaat. Tetapi orang yang tau makna
belajar, akan menjadi manusia yang sangat bermanfaat untuk diri sendiri dan
orang lain. Dan itulah sebaik-sebaik manusia. Karnanya meskipun tidak
dituntut harus pintar, tapi akan ada point-point penting yang setidaknya
disandang seorang guru pendamping demi terbentuknya sebuah Komunitas Belajar
yang ideal, yakni di antaranya: Punya kemauan kuat untuk setia menemani
anak-anak, berkemauan belajar dengan siapa pun termasuk anak-anak dan tidak
ada ambisi untuk selalu mengajari, memposisikan diri di dalam lingkarana
anak (red: setara dengan anak-anak), punya semangat berkarya, mengajak
anak-anak berkarya dan mengapresiasi karya mereka (red: media apresiasi juga
dibikin bareng anak-anak), selalu menawarkan/memancing ide-ide yang muncul
dari benak anak-anak untuk kemudian pendamping bergabung menyumbangkan ide
bersama mereka dan mengganggap anak-anak adalah kakak atau adek-adek
pendamping sendiri, sehingga dalam sebuah Komunitas Belajar tercipta sebuah
suasana kekeluargaan yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.
Ini menurut Pak Mochtar Buchori (Tokoh Pendidikan; red), merupakan wujud
demokrasi yang sebenar-benarnya. Karna di dalamnya terdapat inti daripada
egaliter/ kesetaraan yang akan menciptakan perasaan santun dalam
masing-masing diri. Sehingga demokrasi berakhlak yang dicita-citakan oleh
bangsa ini akan tercapai dan terciptalah rasa damai.

Komunitas Belajar juga bertujuan untuk menggali potensi desa. Yakni dengan
mengenali kelebihan apa saja yang dimiliki desa, menyangkut utamanya;
ekonomi, matapencaharian dan budaya. Contoh realnya seperti mengenali
keunggulan desa masing-masing dengan cara penelitian, lalu melakukan
analisa-analisa dan membangun proyek bersama dari hasil analisis tersebut.
Seperti yang telah dicontohkan oleh desa Klangon di Madiun Jawa Timur yaitu
dengan masyarakatnya menemukan bahwa potensi alam di sana adalah tanaman
Porang. Dengan mengolahnya menjadi bahan tofu (tahu Jepang), desa yang
dulunya sangat miskin ini sekarang menjadi sangat maju dan berkembang pesat.
Semua penduduknya yang tadinya tertinggal, sekarang telah berkedudukan
sebagai masyarakat menengah ke atas.
Mengenali potensi alam di desa sendiri sangatlah penting. Hal ini bertujuan
untuk terciptanya sebuah desa yang indah, kuat, terpelajar dan menakjubkan.
Sehingga impian jangka panjangnya, jika tiap-tiap desa terpencil di
Indonesia ini kuat dan beridentitas, maka alangkah cemerlangnya masa depan
bangsa nantinya. Tidak akan ada lagi kamus kiblat ke ibu Kota (Red:
Jakarta). Karna masing-masing daerah telah terlahir dengan kultur, adat,
bahasa serta cara-cara sendiri untuk membangun sebuah peradaban. Kurikulum
KTSP yang direkomendasikan pemerintah pun secara otomatis akan terlaksana
dengan pemikiran mandiri seperti ini.
Dengan demikian, gagahnya Bhineka Tunggal Ika tidak akan hanya menjadi
embel-embel lagi, tapi sebaliknya. Menjadi bangsa yang cerah oleh perbedaan,
bangsa yang rukun karna perbedaan, bangsa yang ramai dan seru oleh
perbedaan, bangsa yang berciri khas karna perbedaan, bangsa yang saling
mendukung dan memotivasi karna perbedaan. Karnanya, sangat dibutuhkan para
pendamping atau penggerak bagi berdirinya Komunitas Belajar atau bisa juga
dikatakan sebagai manusia-manusia yang setia dan bersedia serta bersahabat
dengan masyarakat. Ini sangat perlu karna demi kepentingan dan interaksi
sosial. Tetapi melihat kondisi, karakter dan kapasitas manusia yang
berbeda-beda yakni memliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, ya mari
kita cari solusinya bersama-sama. Seperti misalnya salah satu pendamping
tabi’at dari sananya memang udah pemalu atau selalu canggung setiap ingin
memulai bicara dengan orang banyak, ya mari kita bagi-bagi peran. Seperti
yang sudah ada dalam Kisah Nabi Musa yang terbata-bata dalam bicara kemudian
ada Nabi Harun yang bersedia membantu. Berbagi peran, misalnya ada yang
tugas ke lapangan, ada yang di rumah. Yang satu tekun berdekatan dengan
masyarakat untuk menyebarluaskan informasi dan satunya di rumah aja menjaga
anak-anak. Ini sah-sah saja, asal dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Ngga
repot kan ya?
Dari sebuah diskusi, kita bangkitkan jiwa Nasionalis yang bebas, humanis,
kreatif dan komunikatif…sehingga menjadi bangsa yang bahagia, mandiri,
representaif dan reboisasif serta bertranmigrasi dalam hal kapasitas dan
obesitas… Loh loh, mulai mulai… ^<^

Dari sebuah diskusi, kita bangkitkan jiwa Nasionalis yang bebas, humanis,
kreatif dan komunikatif…sehingga menjadi bangsa yang bahagia, mandiri,
representaif dan reboisasif serta bertranmigrasi dalam hal kapasitas dan
obesitas… Loh loh, mulai mulai… ^<^



Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html

0 komentar:

Poskan Komentar