60 Ribu Situs Porno Ditutup di China

BEIJING--MICOM: China menutup lebih dari 60 ribu situs internet porno tahun
ini dengan 5.000 di antaranya sedang dalam proses hukum.

Kepala Kantor Badan Penerangan Pemerintah Wang Chen, berjanji untuk tidak
akan menghentikan operasi melawan muatan yang dianggap cabul itu.

Beijing melancarkan tindakan perlawanan atas apa yang disebut sebagai
banyaknya muatan internet dan telepon seluler yang tidak senonoh dan kotor
di negara itu dan mengancam kesehatan emosional anak-anak.

Kritik yang menuduh pemerintah China melakukan tindakan keras dan
memperketat keseluruhan sensor yang dilancarkan pada Desember tahun lalu
itu, menyebutkan bahwa operasi tersebut menjaring banyak situs berisi muatan
politik yang sensitif atau bahkan situs yang sederhana dan umum.

Wang Chen yang juga juru bicara kabinet tersebut mengatakan bahwa operasi
itu merupakan hal yang penting.

"Operasi kami mendapat keberhasilan besar dan hal ini tidak dicapai dengan
mudah," katanya dalam konferensi pers, Kamis (30/12). Pemerintah ini
berupaya menjadikan lingkungan internet lebih bersih, yang tadinya banyak
menyediakan situs porno.

"Kami telah mengubah situasi dan hal ini telah cukup diterima banyak pihak
di masyarakat. Tapi operasi kami tidak akan berhenti, ini akan menjadi
perjuangan panjang," kata Wang.

Selama masih ada orang yang mempunyai motivasi buruk yang ingin menyebarkan
kekerasan atau informasi pornografi, pemerintah akan melanjutkan operasi
untuk menindak tegas penyebaran informasi semacam itu.

Dari 4.965 tersangka, 1.332 orang mendapatkan hukuman kriminal dengan 58
dipenjara lebih dari lima tahun. Pemerintah memeriksa 1,79 juta situs
internet dan menghapus 350 juta artikel, foto, dan cuplikan video porno dan
cabul.

China memiliki lebih banyak populasi dalam jaringan (online) dibanding
negara lain dengan perkiraan 450 juta pengguna internet hingga akhir
November.

Pemerintah kemudian khawatir kalau internet dapat menjadi kanal yang
berbahaya yang mengancam citra dan pemikiran di China.

China memblokir beberapa situs dan layanan internet populer seperti Google,
YouTuber, Twitter, Flickr dan Facebook dan juga situs China lainnya.

Pemerintah menuduh mereka mengandung muatan berbahaya untuk keamanan China
dan melanggar Undang-undang China termasuk gambar yang memperlihatkan protes
di wilayah sensitif seperti Tibet.

Wang mengatakan ia sudah membaca berita media mengenai direktur Facebook
Mark Zuckerberg yang mengunjungi China baru-baru ini namun menyebut bahwa
Zuckerberg tidak berkunjung ke departemennya yang berwenang untuk mengawasi
internet di China.

"Kami membaca berita bahwa ia bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal di
industri internet China. Kami juga masih mencoba untuk mempelajari lebih
jauh mengenai kunjungannya ke China," tambahnya.

Google Inc, mesin pencari internet terbesar di dunia menutup layanan
pencariannya di China pada Maret, dua bulan setelah pihak Google mengatakan
akan menghentikan sensor pencarian terhadap apa yang disebut sebagai
serangan dunia maya yang rumit yang terlacak ke China dan ditambah
meningkatnya pembatasan kebebasan berekspresi di sana.

Perselisihan yang diselesaikan pada Juli setelah Google mengubah
mekanismenya dengan memandu pengguna ke mesin pencari tanpa filter. Kasus
tersebut memicu ketegangan diplomatik antara China dan Amerika Serikat
mengenai kebebasan situs internet. (Ant/Reuters/OL-11)

0 komentar:

Poskan Komentar