Dana abadi pendidikan terhambat birokrasi

Sebagian orang tua berhadap dana abadi ini membantu pendidikan

Dana abadi pendidikan untuk beasiswa tidak bisa dicairkan untuk tahun 2010
karena Kementerian Keuangan mengaku tidak memiliki dasar hukum bagi
penggunaannya.

Pemerintah memiliki dana abadi beasiswa sebesar Rp1 triliun yang berasal
dari lonjakan penerimaan negara dari kenaikan harga minyak dunia pada awal
2010.

Tetapi dana abadi untuk beasiswa itu masih disimpan dalam deposito dan baru
dapat dicairkan jika komite pendidikan terbentuk.

Komite pendidikan merupakan lembaga gabungan antar departemen yaitu
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan dan
Kementerian Perhubungan.

Namun hingga kini lembaga itu belum terbentuk sehingga Kementerian Keuangan
menyatakan tidak bisa mencairkan dana tersebut.
Memanfaatkan bunganya

Kepala Pusat Investasi Pemerintah, PIP, Kementerian Keuangan, Soritaon
Siregar mengatakan dana itu akan terus bertambah setiap tahun dan hanya
bunganya yang akan dicairkan.

"Dengan bunga tujuh persen berarti Rp70 miliar per tahun, nah bunganya ini
antara lain untuk beasiswa. Sedangkan kebijakan kemana uang dikirim, siapa
yang menerima dan mekanismenya akan ditentukan oleh komite pendidikan
nasional," kata Soritaon Siregar.

Sementara itu Ade Irawan dari Koalisi Pendidikan mengatakan sebaiknya dana
abadi untuk beasiswa ini disalurkan melalui kementrian yang sudah memilki
program pendidikan, seperti Kementrian Pendidikan Nasional dan Kementrian
Agama, agar cepat disalurkan.

Selain itu harus jelas dulu tujuannya. "Mesti dijelaskan tujuannya apa
apakah untuk anak-anak kelompok miskin supaya tidak drop out atau anak-anak
orang yang berpendapatan cukup tetapi memiliki intelejensi bagus supaya
lebih kreatif lagi akan menerima beasiswa," kata Ade Irawan.

Organisasi pemerhati pendidikan juga menyatakan sangat ironis pemerintah
tidak dapat mencairkan dana abadi beasiswa, padahal banyak anak yang
membutuhkannya.
Tidak gratis

Negara katanya hutangnya ngak ada tapi kok sekolahan ngak maju-maju. Kalau
sudah maju kok ngak ada sekolahan gratisan. Katanya di televisi dikatakan
gratis tapi ngak ada yang gratis

Wiwin

Hal terlihat ketika wartawan BBC Sri Lestari mengunjungi sebuah tempat di
Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Seorang warga, Wiwin,
ibu tiga anak mengeluhkan biaya ujian anaknya. Sehari-hari Wiwin berjualan
kue dan nasi goreng di sekolah.

Wiwin berharap pemerintah menggratiskan biaya pendidikan sampai tingkat
SLTA.

"Negara katanya hutangnya ngak ada tapi kok sekolahan ngak maju-maju. Kalau
sudah maju kok ngak ada sekolahan gratisan. Katanya di televisi dikatakan
gratis tapi ngak ada yang gratis," kata Wiwin.

Untuk membantu warga seperti Wiwin bisa saja dana pendidikan ini
dialokasikan kepada mereka. Namun persoalan birokrasi menjadi salah satu
hambatannya karena Komite Pendidikan belum terbentuk.

Dana Abadi untuk beasiswa ini merupaka ide dari Mantan Menteri Keuangan Sri
Mulyani untuk menambah anggaran pendidikan sebesar 20 persen yang diamatkan
dalam UUD 1945.

0 komentar:

Poskan Komentar