Belajar tekstual dan faktual

Melihat dan membaca riuhnya diskusi mengenai hal-hal "sensitif" di milis,
saya jadi berpikir dan bertanya-tanya ; terlihat sekali ungkapan pendapat
seseorang (pasti) dipengaruhi oleh persepsi (dan mungkin asumsi) seseorang
pada hal tsb. Saya membayangkan otaknya bekerja keras berusaha mendapatkan
semua dasar-dasar pengetahuan, fakta-fakta, dan logika berpikirnya meramu
hal-hal tsb menjadi sebuah kesimpulan yang menurutnya mantab.

Dalam pengetahuan ada ruang yang disebut perkembangan, di mana suatu saat
"ilmu" mengalami *stressing test* di dunia nyata kemudian secara kolektif
orang akan berpikir ke arah yang kurang lebih sama untuk menemukan sebuah
"pemahaman" baru berdasarkan kaidah-kaidah dasar dan harapan. (benarkah
asumsi saya ini ??)

Saya sedang penasaran apa yang seandainya terjadi jika ruang-ruang kelas
berisi diskusi faktual mengenai masalah-masalah yang muncul pada suatu ranah
keilmuan tertentu. Ibu Aulia sudah menjawab hal ini pada postingan di subjek
lain, dan mengatakan bahwa hal tsb mungkin dilakukan. Ya, benar, sangat
mungkin dilakukan. Faktornya "pemicu"-nya hanya gurunya mau atau tidak.
Salah satu keuntungan dari diskusi adalah semua orang (termasuk guru) mau
tidak mau akan berhadapan dengan kemungkinan *extra-ordinary*, yang akan
memaksa otak untuk bersenam-ria dalam menganalisa hal-hal yang sama sekali
baru, *out of imagination*.

Ilmu-ilmu sosial jauh lebih menarik untuk didiskusikan karena sifatnya
lentur dan normatif. Bagaimana dengan ilmu-ilmu agama ? Benarkah diskusi
akan membawa pencerahan ?

Jika berkenan, saya mengajak Bapak Ibu untuk mendiskusikan tentang diskusi
faktual ilmu-ilmu sosial, agama, dan penerapannya di ruang kelas. Kita akan
coba kupas, apa saja yang akan "muncul" dari diskusi ini. Bayangkan juga,
apakah guru diizinkan mem-veto pendapat ?

Silakan ....

Salam hormat
PakPur

0 komentar:

Poskan Komentar