BANGSA YANG TIDAK MEMBACA

Halangan terbesar adalah penguasaan Bahasa Inggris?

Waktu masih di Madison dulu aku juga berpikir demikian ... bahwa batu sandungan terbesar di bnagsa ini adalah penguasaan bahasa Inggris. Karena itulah selama 8 tahun aku ngoprek bahasa-bahasa dunia (the top 43) untuk mendapatkan cara terbaik dan universal untuk mengajar/belajar bahasa secara efektip, 3 bulan intensip -- practically any language. I finished the project, as planned, however ...

Setelah di tanahair, terutama setelah pulang dari diskusi nasional Bahasa Indonesia di Yogya (UNY), aku menyadari bahwa problem bangsa ini bukan sekedar penguasaan bahasa Inggris --itu juga masih problem besar; nomor 2 lah, -- tetapi sesungguhnya problem nomor wahid adalah kenyataan bahwa bangsa ini, secara kolektip, adalah BANGSA YANG TIDAK MEMBACA. Seperti aku tulis sebelumnya ...

<< Sejak pertemuan di Yogya tersebut, aku bikin survey pribadi, setiap ketemu orang dibawah usia 50 tahun aku tanya apakah sudah pernah baca "Siti Nurbaya." Kebanyakan reaksinya bengong ... siti siapa? Itu lho, novelnya Marah Rusli .. atau apa kalian pernah baca Layar Terkembang, Katak Hendak Menjadi Lembu ... Pujangga Lama, Pujangga Baru, Angkatan 45, ... Kwartet Buru dari Pramudya. Dari seratus orang hanya 2-3 yang pernah baca, dan itupun karena orangtuanya punya dan suruh dia baca [dari sekolah tidak ada dorongan, anjuran atau assignment untuk melakukan itu]. >>

Nah, kalau literatur karya orang kita sendiri (dan dalam bahasa kita sendiri) saja tidak dibaca, apakah kita bisa mengharapkan mereka ini membaca literatur dalam bahasa asing? Padahal penguasan bahasa ini tidak mungkin dilakukan tanpa membaca buku, tanpa kemampuan memahami konsep dari sebuah paragraph -- yang merupakan element atau building block dari ide besar dari sebuah buku. Setelah melalui proses "decoding" atau "deciphering" ribuan paragraphs inilah barulah orang "menguasai" bahasanya, apakah itu bahasa ibu kita (L1) maupun bahasa asing (L2).

Tidak ada cara lain untuk menguasai bahasa Inggris (yang dalam hal ini adalah L2) kecuali dengan membaca buku-bukunya. Berapakah di antara kita yang punya privilege untuk mendapat exposure pada kultur dan native speaker secara intensip (misalkan tinggal dan bekerja/sekolah di luar)? Begitu juga dengan bahasa Indonesia, tanpa membaca yang dalam dari literatur yang berbobot (bukan sekedar buku teks garing seperti yang diterbitkan BSE), bagaimana mungkin kita bisa menguasai bahasa Indonesia. Ini menjelaskan nilai ujian yang sungguh menyedihkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia (bahasa kita sendiri!)

Kalau nilai UN yang jeblok masih belum meyakinkan, cobalah tengok assessment PISA/OECD yang diterbitkan bulan ini: Dalam kompetensi "reading", Indonesia rankingnya nomor ke 57Š out of 65 countries !!! Dan iini tidak bergeming dari laporan 4 tahun sebelumnya (2006) dimana ranking kita adalah nomor ke 51 ... out of 57 countries. [Dan tentu saja dalam math dan science tidak banyak berbeda, malahan lebih rendah, karena penguasaan setiap ilmu itu tidak lepas dari kemampuan memahami bacaannya.]

Bagaimana memecahkan problem ini?

Pertama-tama, marilah berpikir dan bersikap realistis. Ini masalah tidak bisa sekedar selesai dengan memerintahkan begini begitu, dengan menghimbau penerbitan buku ini-itu (tentu saja tersedianya literatur yang baik, yang aksesible, akan banyak menolong. Berhentilah berpikir secara instant, seolah semuanya itu bisa selesai dalam semalam (yang aku suka sebut sebagai "sangkuriang complex"). Ini problem "generational" yang --if we do it right-- baru bisa kelihatan hasilnya dalam satu-dua generasi, i.e., 20 sampai 30 tahun.

Apakah ada REAL & PRACTICAL solution?

Problem ini sudah ada di kepala jauh sebelum aku meninggalkan tanah air, ketika masih sekolah di Bandung, tetapi baru 16 tahun terakhir di Madison aku bener-bener "go deeply ... where no one has gone before" melakukan risetnya. Dan akhirnya kulihat ada setitik harapan, a point of light at the end of the tunnel ... yang pada dasarnya mengatakan: kalau kita menanamkan budaya membaca ini sejak usia dini (TK/SD, bahkan pre-school age) agaknya masih ada harapan buat bangsa ini di masa depan.

Dari mendalami masalah language aquisition (adult and early age) aku melihat paralelnya dengan budaya atau kegemaran membaca ini: sesuatu yang hampir mustahil diajarkan (walau pakai paksa atau bribe) setelah usia dewasa, tetapi begitu mudah dan "natural" untuk dilakukan ketika mereka ini masih kecil (umur 3-10 tahun). Ini mirip dengan fenomena "phonological bootstrapping" yang terjadi ketika anak-anak mendapatkan bahasanya yang pertama. "Parameter setting" dilakukan di saat itu (as early as 1-2 years old). Tentu saja tidak ada kata "terlambat" dalam belajar apa saja. Mulai membaca (dan belajar bahasanya) kapanpun akan besar manfaatnya, dan ini juga diperlukan untuk mengerti dan membantu proses "pembudayaannya" ... tetapi harapan paling besar (dan berarti penggunaan resource) haruslah diletakkan pada anak-anak yang akan menggantikan kita 20-30 tahun mendatang.

Mark Twain pernah berujar, "A person who won't read has no advantage over one who can't read." Kalau ini diperluas secara kolektip, bangsa kita ini tak ubahnya dengan bangsa yang tidak bisa membaca atau buta huruf. Dan ini juga punya dampak pada penerbit (seperti Erlangga misalnya), bangsa yang tidak membaca berarti tidak menumbuhkan kebutuhan akan buku, pencetakan buku menurun. Karena buku jadi langka, yang masih mau baca juga susah cari bahan bacaan ... lingkaran setan yang "spiralling down" sampai saat ini: rankingnya 51 out of 57!

tabik,
\KM/

0 komentar:

Poskan Komentar