Bukan Sekedar Memenuhi Database

Oleh : Reza Ervani *)

Jika anda pemerhati Wikipedia, dalam artian sebenarnya, maka anda tentu akan akrab dengan ragam proyek di toolserver, seperti geohack. Toolserver sendiri dikembangkan oleh Wikipedia Belanda sebagai tempat pengembangan perangkat lunak tambahan untuk membuat wikipedia semakin powerfull.

Proyek geohack sendiri – satu diantara proyek toolserver yang sudah dianggap stabil – tidaklah berdiri sendiri, ada beberapa perangkat lunak dari NASA dan GoogleMap yang dilibatkan dalam proyek ini untuk dibuat teritegrasi dengan Wikipedia. Filosofi OPEN SOURCE yang dianut oleh program-program tersebut membuat keterlibatan banyak pihak menjadi dimungkinkan dalam pengembangan ini. Sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi jika dunia perangkat lunak hanya mengenal Proprietary Software.

Skema pengembangan cluster server di toolserver juga bukan hal yang kecil, tapi lintas negara. Server utama di Amsterdam terkoneksi dengan server lain di Florida, USA. Total ada 13 server yang digunakan untuk proyek ini.

Atau jika anda mencermati development Moodle, anda juga akan menemukan pengembangan tool yang diharapkan mampu membuat keberadaan Moodle sebagai sebuah Learning Management System menjadi semakin kokoh. Moodle 2.0 misalnya, telah menjadikan internasionalisasi menjadi bagian penting dalam kode programnya. Kemampuan sebuah perangkat lunak pendidikan menembus batas-batas bahasa – misalnya – menjadi tantangan yang nampak di hampir seluruh penyedia konten online, baik komersil maupun nirlaba.

Ini menunjukkan bahwa di negeri "sana" upaya pengembangan konten digital terutama untuk kepentingan pengetahuan bukanlah hal sederhana. Pengembangan konten bukan sekedar merubah materi pelajaran menjadi format digital, tetapi juga termasuk upaya menjadikannya valid, sustainable, reliable, documented dan multi platform, sehingga mampu menjawab perkembangan inovasi pembelajaran di masa mendatang.

Content is the King, konten adalah raja, dan karena raja adalah pelayan masyarakatnya, maka pengembangan konten juga harus mampu melayani perkembangan media belajar. Dan tidak bisa tidak, riset teknologi – baik perangkat lunak maupun perangkat keras – menjadi prasyarat wajib untuk bisa memenuhi tugas pelayanan tersebut.

Dan penulis berharap, Rumah Ilmu Indonesia dengan SUPERPEDIA yang dirintis semenjak 2008 nantinya mampu mendorong hal yang sama di negeri ini.

Mudah-mudahan semakin banyak pihak yang terketuk hatinya untuk membantu rintisan kecil ini.

Amin.



0 komentar:

Poskan Komentar