Menggagas UAS Alternatif

SEMESTER pertama dari tahun ajaran 2010/2011 akan segera berakhir. Salah
satu ritual 6 bulanan yang menandai berakhirnya masa semester adalah adanya
evaluasi pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana
keberhasilan dari program pembelajaran yang telah direncanakan pada awal
semester.

Idealnya, evaluasi yang dilakukan harus bersifat menyeluruh terhadap hal-hal
yang ada kaitannya dengan proses pembelajaran selama satu semester. Tidak
hanya kompetensi siswa yang harus dievaluasi, tapi kinerja guru dan sarana
pendukung pembelajaran pun mesti dikritisi.

Sayangnya, konstruksi sosial dan budaya kita selalu menganggap bahwa
evaluasi pembelajaran dilakukan hanya pada siswa dengan menyelenggarakan
ujian akhir semester (UAS). Hal ini merupakan imbas dari persepsi mereka
yang selalu memosisikan siswa sebagai objek pembelajaran. Celakanya model
evaluasi yang dilakukan hanya terbatas pada aspek akadmis an sich dan ukuran
nilai secara tekstual yang dijadikan indikatornya.

Model UAS yang diadopsi oleh kebanyakan sekolah pun persis seperti model
evaluasi ujian nasional (UN). Agak lucu memang, di satu sisi banyak guru
berteriak bahwa UN tidak sesuai dengan semangat KTSP, tapi pada saat yang
sama mereka mengadopsi model ujian seperti itu. Padahal pada saat evaluasi
akhir semester, biasanya mereka diberikan kebebasan untuk menentukan model
evaluasi yang akan dipergunakan.

Oleh karena itu sudah saatnya sekolah menggagas evaluasi pembelajaran
alternatif yang lebih kreatif dan tidak membatasi ruang gerak dan ruang
pikir siswa. Artinya, bentuk evaluasi yang diberikan harus mampu merespons
siswa untuk mencari dan menggali makna di balik setiap topik yang disajikan,
sehingga siswa mampu mengeksplorasi kehidupan sehari-hari dan lingkungan
sekitar berdasar teori yang diperoleh di sekolah.

Salah satu evaluasi alternatif yang bisa dilakukan adalah authentic
assessment atau penilaian autentik. Bentuk tersebut, menurut John Mueller,
merupakan penilaian yang mengharuskan siswa merujuk pada kondisi dunia nyata
dan mempraktikkannya melalui aplikasi yang penuh makna dari esensi
pengetahuan dan kemampuan siswa. Dalam hal ini, authentic assessment
biasanya merupakan ujian atau tugas bagi siswa untuk menampilkan kinerja
berdasar daya kreasi masing-masing. Itu semua akan dievaluasi berdasar
standar kompetensi yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam pembejalaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa
untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada
situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (2002:165), penilaian
autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang
telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar.

Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan dalam penilaian autentik
antara lain, pertama, portofolio, yaitu kumpulan tugas yang dikerjakan
siswa dalam konteks belajar di kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan untuk
mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh kebebasan
dalam belajar sekaligus memberikan kesempatan luas untuk berkembang serta
memotivasi siswa.

Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat
pada proses siswa sebagai pembelajaran aktif. Sebagai contoh, siswa diminta
untuk melakukan survei mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan
rumahnya.
Kedua, tugas kelompok. Dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan
projek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil
mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing
siswa. Isi dari projek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh
karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. Sebagai contoh,
siswa diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab
pencemaran sungai di lingkungan siswa.

Ketiga, demonstrasi, caranya siswa diminta menampilkan hasil penugasan
kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Para
penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan siswa. Sebagai contoh, siswa
diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya
dalam pertunjukan drama.

Menurut Brooks & Brokks dalam Johnson (2002:172), bentuk penilaian seperti
ini lebih baik dari pada menghafalkan teks, siswa dituntut untuk menggunakan
keterampilan berpikir yang lebih tinggi guna membantu memecahkan masalah
yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, evaluasi pembelajaran pada setiap akhir semester merupakan
waktu yang tepat bagi guru dan sekolah untuk secara independen menggunakan
model evaluasi yang tidak membatasi ruang gerak dan ruang pikir siswa
seperti yang dilakukan pada UN. Salah satunya dengan menggunakan authentic
assessment atau penilaian autentik. (*)


http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/36743/menggagas-uas-alternatif

0 komentar:

Poskan Komentar