Ruang Kosong di SDN RSBI

Sabtu pagi tadi, Adam, (6), anakku, begitu girang. "Enak ya, ruangannya ber-AC," katanya nyengir. Ya, ruang kelas 1 SDN 11 Kebun Jeruk Jakarta Barat itu memang adem. Terdengar musik dalam bahasa bule. Gambar warna warni. Juga hasil karya siswa. Beberapa puisi ditulis dalam bahasa Ratu Elizabeth.

Sejurus kemudian, Adam kembali berkomentar. "Ada internetnya Yah," Adam makin heroik. Sambil menyusuri jalanan, Adam kembali berceloteh. "Jadi, Adam tidak akan ganggu laptop ayah lagi. Adam bisa main game sepuasnya di sekolah. Adam juga bisa kirim email ke ayah," katanya. Aku nyaris tersedak mendengar kalimat-kalimat kecilnya ini. Kutahan air mataku agar tak jatuh.

Adam memang setiap hari bermain game di laptopnya. Dia sudah bosan dengan CD permainan dari Akal. Juga bosan dengan lima CD lainnya. Baginya, satu CD bisa sekali santap. Sesekali dia melahap laptopku yang dialiri internet. Dia sudah kecanduan gameonline. Aliran internet memang sering kuputus alias tidak kupinjami. Aku masih khawatir dengan racun internet. Suatu hari, ia sempat membuka google dan mengetikkan kata: singa. Gambar singa berbagai ukuran memikat hatinya. Tapi dia ingin singa yang paling gagah dan paling raksasa. Ia pun mengetik kata "raja' di depan kata 'singa.' Di luar dugaanya, gambar yang muncul "abakadabrul..." "Ayaaaahhhh..." Sejak itu, aliran internet sering kuputus atau kutunggui sampai capek.

Kembali ke prapendaftaran SDN 11 Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Sampai di rumah, Bunda Adam memberi tahu hasil open house, prapendaftaran di SD RSBI itu. "Nanti, sekolah hanya menyediakan ruang kosong. Untuk mengisi bangku dan kursinya menjadi tanggung jawab orang tua murid. Kalau pakai AC, ya saweran orang tua. Pokoknya sekolah cuma menyediakan ruang kosong,"suara Bunda Adam membuatku nyaris pingsan. "Apa??!!"

Ya. Hanya ruangan kosong. Lantas ruang ber-AC yang diplot untuk kelas 1 dibawa ke mana. AC dan seluruh isinya itu milik orang tua kelas satu yang sekarang naik kelas dua. Itu bukan hak murid baru. "Whaaatt??!!" Begitu seterusnya untuk kelas dua hingga kelas enam. "Ini korupsi!!" kataku keras. Ruang kelas, bangku, kursi, bahkan buku itu menjadi tanggung jawab pemerintah. Bukan orang tua siswa. "Bunda cuma memberi informasi. Kalau mau marah ya ke sana, ke kepala sekolahnya." Pemprov DKI menganggarkan ratusan milyar dana Bantuan Operasional Pendidikan, juga Bantuan Operasinal Siswa. "Untuk apa dana itu." Belum lagi dana di Dinas Pendidikan DKI untuk infrastruktur bangunan sekolah dan kelengkapan alat belajar-mengajarnya. "Ini gemblung!!"....(jangan marah di sini, Bunda cuma kasih infooooooooooo!!!)

Sekolah SD di DKI itu berkategori gratis. Di sebelah persis, hanya dibatasi pagar, SDN 11 yang RSBI itu terdapat SDN 12. Spanduk "sekolah ini gratis" terpampang jelas. di sekolah yang gratis ini, setiap ruang sekolah terdapat kursi dan bangku untuk belajar. Setiap tahun, orang tua siswa tidak dimintai uang untuk membayar uang bangku atau uang kursi. "Jadi, ini aneh dan amat ironis. Sekolah RSBI justru tidak punya kursi dan tidak ada bangku."

Dengan berkelakar, aku katakan ke Adam. "Jika nanti diterima, ayah usul belajarnya lesehan saja. pakai karpet. Kalau diminta bangku dan kursi, adam bawa sendiri dari rumah. Lebih hemat...." Adam setuju. "Yang penting ada internetnya, biar bisa main game..." (wakkksssss)

Jika Adam di terima di sekolah ini, aku geregetan ingin menunjukkan anggaran APBD DKI untuk sekolah SD di seluruh ibukota ini kepada kepsek. Aku juga ingin usulkan kepada musyawarah orang tua murid agar pelajaran dilakukan lesehan saja. Lebih egaliter. Yang kay, yang miskin, yang pangkat, yang bawahan, duduk sama tinggi.

Memang kulihat saat open house sabtu pagi itu mobil orang tua siswa berderet memenuhi badan jalan, mengular hingga ke jalan raya. Tapi, bukan berarti mereka mudah dibodohi atau dikelabuhi hanya untuk kepentingan korupsi!!



Sumber
Forum Pendidikan

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html

0 komentar:

Poskan Komentar