Anatomy of a Plagiarism

Membaca berita-berita di media massa dan komentar-komentar di forum alumni IA-ITB, bagiku masih banyak "misteri" yang belum terjawab. Apalagi pihak-pihak yang langsung terkait juga masih bungkam seribu basa. Memang sudah dibentuk "pansus" untuk melakukan investigasi dan memberi rekomendasi dalam sebulan -- bahkan menurut dekan STEI (Adang Suwandi Ahmad), Komisi Kehormatan STEI ITB sudah melakukan investigasi sejak akhir tahun lalu [detikNews, 4/16/2001].

Entahlah, kenapa proses investigasi ini membutuhkan waktu begitu lama, seandainya punya akses ke disertasi MZ saya rasa tidak lebih dari 30 menit untuk membandingkannya dengan thesis dari Siyka Zlatanova yang bisa didapat di Internet. Kalau paper yang dikirim ke IEEE untuk konperensi Chengdu sudah jelas, carbon-copy alias jiplakan 100%.

Bukannya tidak sabar menunggu hasil kerja berat tim investigasi, tetapi banyak pertanyaan yang harus kujawab. Misalnya yang datang dari anak muda pemilik toko kecil di BeMall [tipikal anak-anak muda yang "kurang beruntung," tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus berusaha mencari sesuap nasi dengan keringat sendiri]: "Kalau begitu, jadi doktor di ITB itu mudah sekali ya ... apa betul kesimpulan saya ini?"

"Errrr ... barangkali memang begitu ... di negeri ini, paling tidak di ITB, seperti skandal plagiarisme MZ baru-baru ini. Tentu saja bisa jadi ini hanya perkecualian, tidak bisa begitu saja kita gebyah-uyah (generalization) , tetapi ... mungkin ini juga hanya merupakan puncak yang kelihatan dari sebuah gunung es (the tips of an iceberg). Ada baiknya kita mencoba mengerti bagaimana perguruan tinggi yang termasuk "paling baik" di negeri ini bisa kecolongan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang ada di benak si plagiarist ketika merencanakan dan melaksanakan kejahatannya? Apakah ada buku petunjuknya atau "contekannya" ?

Dibawah ini, aku akan berusaha menulis semacm "imaginary" how-to manual, yang mungkin dimulai dengan kalimat: "So you want to be a doctor?" -- dari kampus yang paling beken di nusantara. Beginilah caranya:

1. Daftar ke perguruan tinggi, nggak usah yang paling top, cukup yang "kelas dua" saja (PT2). Ada baiknya PT2 ini merupakan "spin-off" dari satu perguruan tinggi yang beken (PT1). Alasan utama adalah persaingan di PT2 tidak terlalu ketat, jadi besar kemungkinan diterima. Keuntungan lain adalah pelajaran lebih mudah, mudah lulus, dan juga lebih murah biayanya. Kuliah yang rajin sambil cari kontak dengan para pengajar - yang umumnya "diperbantukan" dari PT1.

2. Setelah lulus dari PT2, daftar ke program S2 dan selanjutnya S3 dari PT1. Hampir pasti anda akan diterima. Rekomendasi dari pengajar di PT2 pasti dipercaya oleh pengambil keputusan di PT1 -- lha wong orang-orangnya ya sama saja, atau paling tidak kolega di satu jurusan yang sama. Tentu saja ada "motivasi" lain. Duit anda sangat dibutuhkan oleh PT1, untuk "cross subsidy" atau apapun namanya, mengingat dana itu selalu kurang saja. Kalau mampu jangan pelit-pelit amat lah, masuk sekalian ke "jalur cepat." Dijamin anda akan bener-bener bisa lulus dengan cepat.

3. Soal riset/penelitian atau penulisan thesis. Jangan kuatir, didepan kampus biasanya ada yang terima "pesanan" paper, essay, tugas akhir, thesis atau disertasi. Mungkin bisa sambil pura-pura beli software bajakan atau janjian ketemu di tempat lain yang lebih discreet ketika membicarakan detail topik dan biayanya (siapa tahu ada teman atau pengajar yang kebetulan lewat).

4. Alternative yang lain adalah Internet -- murah-meriah alias gratis (kalau anda memang sudah pengalaman dengan jalur yang cheap ... you may have done it before, may be ever since highscool days). Ketrampilan web-surfing dan bahasa Ingrris sangat membantu. Google-search topik yang dibutuhkan, yang kira-kira diluar expertise para pembimbing (promotor). Ini penting sekali, karena beliau-beliau ini sangat sibuk, jadi tidak akan punya waktu untuk belajar atau membaca hal-hal yang baru -- apalagi hal-hal diluar bidang spesialisasinya yang sempit itu. [Di tanahair ada pepatah "orang berhenti belajar setelah mendapat gelar." It's sad but at least the words rhyme nicely :-]

5. Rajin-rajinlah "berkonsultasi" ke pembimbing, kalau bisa seminggu sekali, atau 2 kali seminggu kalau perlu. [Hey, bukankah anda berada di "jalur cepat"]. Anda sendiri tidak perlu rajin riset, cukup pelajari saja chapter atau bagian yang anda "konsultasikan" itu sebelum menghadap dan menyerahkan sang pembimbing. Anda akan pegang "upper hand" karena siapapun tidak akan bisa mencerna dalam tempo yang singkat -- lagi pula para pembimbing ini profesor dan pejabat yang amat sangat sibuk. Anda coba lempar satu-dua pertanyaan, (polite question, of course ... jangan sok jago!). Mohon petunjuk. Bisa ditebak pembimbing akan "menjaga posture akademik" (for crying outloud, they are the advisors, and you are a mere advisee) dan menasihati begini-begitu ... singkatnya "Lanjutkan!" (does this gives you a déjà vu?)

6. Chapter demi chapter ... ceritanya tidak banyak berbeda. P[ada setiap konsultasi "bimbingan" anda akan selalu kelihatan "begitu menguasai materi dan mampu menjawab pertanyaan, tidak seperti orang yang plagiat," (detikBandung, 19/4/2010). Lanjutkan! Nah, disini anda memutuskan kapan anda mau lulus. [Hey, bukankah anda berada di "jalur cepat"... dan andalah yang pegang kendali dalam proses "bimbingan" ini]. Lengkapi semua persyaratan kredit dan segala macam kewajiban publikasi, baik dalam maupun luar negeri. Rencanakan pesta selamatan wisuda yang heboh ... you earn it!

[Note: Kelihatannya MZ tidak membaca atau meremehkan "disclaimer" berikut.]

7. Jangan sekali-sekali --saya ulangi-- jangan sekali-sekali menerbitkan thesis/disertasi anda atau bagian darinya, walau sedikitpun, di jurnal atau publikasi internasional (baca: luar negeri), seperti misalnya jurnalnya IEEE. Bukan karena mereka ini institusi yang "sacred" tetapi hanya karena banyak dibaca orang (jutaan). Dalam hitungan hari akan ada seorang yang merasa déjà vu, "Hmmm ... I think I've read it before ... somewhere." Dan hanya butuh beberapa detik bagi Google untuk memberikan hasil pencariannya. And kaboom ... suddenly everyone is getting on your case! And you got a new middle name, "plagiarist" -- for the rest of your life. The rest, as they say, is history.

[Bersambung dengan bagian kedua, "Apa yang menyebabkan orang melakukan plagiarisme" dan bagian ketiga, "Bagaimana perguruan tinggi menanggulangi masalah ini"]

Moko Darjatmoko
Madison, Wisconsin*

0 komentar:

Poskan Komentar