SERI GURU IDOLA 2 - Semua Siswa Itu Cerdas

Suatu hari di sebuah sekolah sedang diadakan pertemuan internal para pengajar yang
dipimpin langsung oleh sang kepala sekolah. Mereka sedang membahas pengunduran
diri seorang wali kelas dari kelas yang mereka sebut sebagai “kelas anak-anak
nakal”. Ini adalah kali kelima dimana wali kelas yang bertugas di kelas itu
mengundurkan diri. Dalam rapat, dibahas tentang calon-calon pengganti wali
kelas itu dan solusi untuk mengelola kelas tersebut. Saat satu persatu diminta
untuk menggantikan menjadi wali kelas, spontan semua guru dengan tegas
menolaknya. Tidak ada satupun yang bersedia untuk menjadi wali kelas di kelas
tersebut. Karena mereka tahu kelas tersebut adalah kelas yang paling susah
diatur, siswanya sering membantah perintah guru, sering keluar kelas saat jam
pelajaran berlangsung, sering membuat gaduh dikelas, bahkan beberapa kaca
sekolah pecah karena mereka bermain sepak bola didalam kelas. Mereka yang
menolak malah memberikan beberapa usulan.
Ada yang mengusulkan untuk dilebur dengan kelas lain, ada yang mengusulkan untuk dititipkan disekolah lain sebagai kelas titipan, ada yang mengusulkan untuk memindahkan kelas tersebut ke sekolah lain.

Kemudian kepala sekolah menutup rapat hari itu dengan keputusannya, “Baiklah, usulan
rekan-rekan akan saya pertimbangkan, kita berikan satu kesempatan lagi,
kebetulan minggu depan kita akan kedatangan seorang guru baru, mungkin ia bisa
mengelola kelas ini, jika yang terakhir ini juga tidak bisa maka akan kita
pilih salah satu opsi dari usulan rekan-rekan tadi. Dan untuk mengisi
kekosongan, maka dalam satu minggu kedepan biar saya yang akan menangani
langsung kelas ini”. Semua guru menyetujui keputusan itu, walaupun dalam
kondisi keraguan mereka terhadap sang guru baru, mengingat guru-guru senior
disekolah itu saja tidak mampu untuk mengelola kelas tersebut.

Seminggu kemudian datanglah sang guru baru, tanpa diberitahukan tentang kondisi kelas ia langsung diminta oleh kepala sekolah untuk menjadi wali kelas di kelas
tersebut. Ia hanya diberikan daftar nama dan absensi siswa di kelas tersebut.
Pak Ahmad nama guru baru itu. Ia menerima tugas tersebut dengan senang hati. Ia
mulai mempelajari kondisi kelas, diperhatikannya daftar nama yang baru ia
terima. Abadi Putra 132, Ajat Sudrajat 129, Anwar Sanusi 125, Amelia Santi 137,
Budi Baskoro 123, Cahya Arisanti 135. Ia mengamati satu persatu nama tersebut
hingga nama terakhir. “Hmm, semua IQ nya diatas rata-rata, tidak ada yang
rendah, sepertinya akan mudah”, gumamnya setelah membaca daftar nama siswa.

Pak Ahmad memulai hari dengan gembira, karena mulai hari ini ia akan belajar dengan
siswa-siswi yang cerdas. “Pasti hari ini akan menyenangkan” ujarnya. Hari
pertama mengajar, Pak Ahmad kerepotan dengan kegaduhan dikelas dan beberapa
siswa yang suka membantah. Esoknya ia berpikir, “Hmm, mungkin anak-anak cerdas
memang membutuhkan penyaluran keinginan untuk berpendapat”. Ia kemudian membuat
sebuah forum diskusi santai, dan para siswa antusias mengikutinya karena mereka
tidak dilarang-larang lagi untuk berbicara di kelas, semua siswa yang sering
membuat gaduh dan yang suka membantah dapat menyampaikan pendapatnya dalam
diskusi santai itu.

Beberapa hari berikutnya kembali Pak Ahmad kerepotan. Kali ini mengenai mereka yang
sering keluar saat jam pelajaran berlangsung. Ia mulai berpikir, “Hmm, mungkin
anak-anak cerdas sering jenuh jika terlalu lama di kelas”. Akhirnya hari itu ia
membawa anak-anak ke kebun belakang. “Anak-anak kali ini kita belajar di luar
kelas, selain udaranya lebih segar, belajar diluar juga bagus untuk
menghilangkan kejenuhan” begitu kata Pak Ahmad kepada para siswa saat memulai
pelajaran hari itu. Akhirnya beberapa variasi-variasi mengajar mulai ia gunakan
mengingat kebutuhan anak-anak cerdas pasti akan lebih variatif. Mulai dari games
dalam ruangan dan luar ruangan, lomba menyanyi dikelas, pengenalan multimedia,
liputan pandangan mata ke sekolah lain, acara-acara sosial ke masyarakat
sekitar sekolah, bahkan ia sering sekali mengubah jadwal pelajaran karena
melihat kebutuhan para siswa saat itu.

Akhirnya kerja keras Pak Ahmad membuahkan hasil, kelasnya menjadi kelas terbaik saat
hasil evaluasi penilaian siswa dibagikan. Bahkan beberapa orang siswa
dikelasnya menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti beberapa lomba di wilayah
tersebut.

Kemudian kepala sekolah menghampiri Pak Ahmad, “Selamat ya Pak Ahmad, meskipun guru
baru, tapi Anda bisa membawa kelas ini menjadi yang terbaik tahun ini”.

Pak Ahmad menjawab dengan rendah hati, “Bukan karena saya Pak, saya hanya memenuhi
kebutuhan mereka, anak-anak dengan IQ tinggi memang memiliki keinginan yang
lebih banyak”.

Kepala sekolah malah mengernyitkan dahinya, “IQ tinggi..?? darimana Pak Ahmad tahu..?? setahu saya semua siswa disini belum pernah mengikuti Tes IQ”.

Dengan sedikit heran Pak Ahmad berujar, “Loh bukannya angka-angka yang ada disamping
nama-nama mereka itu adalah nilai IQ mereka Pak..?? Saya dapatkan angka-angka
itu dari daftar nama yang Bapak berikan waktu pertama kali saya datang ke
sekolah ini”.

“Hahahaha... Ini yang namanya kesalahpahaman berakibat positif. Angka-angka yang ada disamping nama mereka itu sesungguhnya adalah tinggi badan mereka Pak.
Kebetulan waktu itu mereka baru saja mengikuti pengukuran tinggi badan untuk
keperluan pengambilan data oleh salah seorang mahasiswa yang sedang melakukan
penelitian tentang hubungan tinggi badan dan keaktifan siswa”, kepala sekolah
tertawa setelah mengetahui kejadian itu.

Menganggap siswa bodoh ataupun nakal hanya akan menjebak persepsi kita pada kenegatifan, bahkan kecenderungan untuk mengklaim bahwa mereka tidak akan bisa berkembang. Padahal setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, melainkan hanya belum tergali potensi besarnya, galilah potensi mereka,
kemudian lihatlah apa yang akan Anda dapatkan. Untuk menjadi positif, kita
tidak memerlukan informasi negatif yang terlalu hiperbolis. Atau bahkan
terkadang kita tidak memerlukan informasi negatif sama sekali, jika itu malah
membuat sudut pandang kita melemahkan mereka, kecuali jika kita sangat
memerlukannya untuk melakukan perbaikan terhadap mereka.

Sekarang, masihkah kita menganggap ada siswa bodoh di kelas kita..??

0 komentar:

Poskan Komentar