Cicak-cicak Bersatulah dan/atau Tikus-tikus Bersatulah

Reformasi atau
Transformasi?



SBY Kecewa
National Summit ‘Dikalahkan” KPK, begitu judul berita di VIVAnews. Saya Juga
Kecewa Pak SBY (dengan alasan berbeda) karena National Summit adalah ajang
legitimasi politik rencana membuka pintu penghisapan sistematik paling kolosal
sejak Republik didirikan. Ini SKANDAL TERBESAR TAHUN INI!



Dalam salah satu
orasi oleh wakil organisasi pendukung
aksi mendukung KPK kemarin (2 Nopember 2009) di Depan Istana,
diteriakkan bahwa korupsilah yang menyebabkan rakyat miskin.



Tidak ada
keberatan tapi jangan dilupakan bahwa sumber utama kemiskinan rakyat adalah
penghisapan dan penjajahan sistimatis oleh kuasa modal atas negeri yang
kaya-raya ini. Tikus Mati di
Lumbung Padi!. Inilah persoalan terbesar di negeri ini.



Pemberantasan
Korupsi Harus Didukung, Penghisapan dan Penjajahan Baru (serta Antek-anteknya)
Harus Dilawan. Mas Teten Masduki menulis “Cicak-cicak Bersatulah”, saya menulis
“Tikus-Tikus Bersatulah”.



Bila dukungan
terhadap Bibit dan Chandra, KPK, Gerakan Lawan Korupsi di facebook (sebagai
salah satu contoh perlawanan) dengan cepat membesar dan beranak pinak, kenapa
soal perlawanan atas penghisapan dan penjajahan negeri dari ujung mouse tidak
kunjung menjadi masif dan beranak pinak?



Adakah ini soal
jarak dan senjang antara gerakan reformis dan gerakan radikal/revolusione r/transformatif?
Gerakan perubahan sosial tanpa perombakan struktur dan sistim sosial, dengan
gerakan perubahan sosial dengan perombakan struktur dan sistim sosial? Lepas dari itu bagi saya gerakan melawan buaya
dan godzilla ini adalah momentum untuk sampai kepada kesadaran gerakan yang
trasformatif atau revolusioner. Atau gerakan tetap berhenti pada wataknya yang reformis.





Skandal National
Summit Dan Rakyat Yang Selalu Terjepit



Obral Paling
Kolosal Sejak Republik Berdiri



Siaran Pers
Bersama, 30 Oktober 2009



WALHI, KIARA,
JATAM, ICEL, KAU, Institute Hijau Indonesia, Reform Institute, LIMA



(tertanda :
Hendri Saparini, Teguh Surya, Riza Damanik, Siti Maimunah, Chalid Muhammad,
Yudi Latif, Ray Rangkuti, Dani Setiawan, Rino Subagio)





National Summit,
yang diselenggarakan sebagai ajang bagi Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua
mendengarkan keluh-kesah para kuasa modal domestik dan asing, sungguh merupakan
skandal terbesar tahun ini. Summit yang berlangsung pada 29-31 Oktober 2009,
telah menempatkan ihwal keselamatan Rakyat diposisi terendah dibanding hasrat
untuk melayani kepentingan modal oleh rezim SBY-Boediono. Bahkan secara nyata
National Summit menjadi ajang pemberian dukungan politik dan hukum secara penuh
dari kekuasaan terhadap sebuah rencana sistematik paling kolosal sejak Republik
Indonesia didirikan untuk membuka seluas-luasnya pasar obral tanah, kekayaan
alam dan buruh.



Lebih dari empat
dekade rejim pengerukan dan pengurasan bahan tambang, minyak dan gas, hutan dan
perkebunan, kelautan dan perikanan, secara blak-blakan mamamerkan tanpa rasa
malu ketergantungan Indonesia pada kekuatan ekonomi negara asing,
lembaga-lembaga keuangan internasional, serta kekuatan korporasi multinasional
dan transnasional. Tanah tergerus, kekayaan alam menyusut, pemiskinan terus
berlanjut, dampak bencana semakin menghebat dan Indonesia pun menjadi salahsatu
negara penghutang terbesar di dunia.

Selengkapnya

http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 11/cicak- cicak-bersatulah -atau-tikus- tikus.html

0 komentar:

Poskan Komentar