Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional

Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional

Dasar Pemikiran

Kalau kita merujuk atau mengikuti reportasi pendidikan media cetak
sungguh membuat hati menjadi miris dan menyesakkan dada. Bayangkan
berita tersebut selalu menyudutkan, mutu pendidikan Indonesia sangat
rendah. Dari hasil laporan penelitian International Education
Achieviement (IEA), menyatakan kemampuan membaca untuk tingkat SD saja
Indonesia terpuruk dalam urutan 38 dari 39 peserta studi. Sedangkan
kemampuan daya serap matematika siswa SLTP kita masuk urutan ke 39 dari
42 negara peserta. Begitu juga untuk kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) Indonesia masuk ke dalam urutan 40 dari 42 negara peserta. Laporan
ini mengindikasikan secara umum kemampuan daya serap siswa kita sangat
lemah.

Apalagi, kalau kita mau melongok praktek pembelajaran di kelas sungguh
memprihatinkan. Coba bayangkan, dalam praktek proses pembelajaran di
kelas terlihat persentasi anak yang menguasai materi pembelajaran sangat
kecil sekali. Kalau boleh dibilang anak mampu melakukan proses
pembelajaran dengan benar hanya 10-20 % saja. Itu pun siswa yang
dikategorikan anak pintar atau anak cerdas saja. Apalagi, kalau SDM
gurunya sangat rendah, bagaimana pula output yang dihasilkannya?

Secara umum, jika kita telaah lebih lanjut masalah rendahnya kemampuan
daya serap siswa, ternyata sebahagian besar bersumber dari masalah
internal dari siswa itu sendiri. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan R.L. Mooney dan Mary Alice Price di Amerika,
menyatakan ada 2 kesukaran yang paling menonjol atau paling banyak
dialami pelajar, yaitu:

1. Tidak tahu bagaimana cara belajar yang efektif (don't know
how to study efektively)

2. Tidak dapat memusatkan perhatian dengan baik (unable to
concentrate will).

Selama ini, dalam praktek pengajaran selalu saja timbul kegamangan dan
dilematis. Kesalahan atau ketidakefektifan pemilihan metoda pengajaran
oleh guru tentu berdampak signifikan terhadap pola belajar siswa kita.
Metoda pengajaran yang tidak memberi peluang partisipasi aktif siswa
secara optimal tentu memberi out put yang rendah dan tidak berkualitas
pula. Kondisi belajar seperti ini menyebabkan siswa kita terperangkap
pada metoda belajar klasik dalam menjalankan aktivitas belajarnya, yaitu
terpaku pada metoda belajar menghafal. Padahal, metoda klasik tersebut
hanya membuat siswa hanya pintar membeo dan tataran pengetahuan yang
diperolehpun sangat dangkal, yaitu ingatan belaka. Pada anak mudah
sekali kehilangan gairah belajar. Apalagi anak dihadapkan pada beban
materi pelajaran yang didrillkan itu terlalu sarat. Hal ini membuat anak
terbelenggu dan kehilangan kebebasan untuk belajar. Anak senantiasa
mudah sekali dihinggapi oleh rasa jemu dan rasa bosan dalam belajar.
Kemampuan konsentrasi belajar anak pun hanya mampu bertahan antara 10-20
menit saja setiap mengikuti satu mata pelajaran.

Ketidak mampuan anak membangun intensitas konsentrasi
belajar ini, sehingga bagaimana mungkin anak mampu menguasai materi
pelajaran secara utuh. Dengan demikian bagaimana anak mampu
mengoperasionalkan ilmu pengetahuan yang dihadapkan padanya. Hal seperti
ini membuat wajar, jika mutu produk pendidikan kita sangat rendah.
Harapan untuk membentuk kompetensi siswa pun seperti panggang jauh dari
api.

Faktor kesulitan yang terbesar yang dihadapi setiap guru di negeri ini
adalah bagaimana menyiapkan siswa untuk melakukan proses pembelajarannya
dalam arti belajar dengan benar dan sungguh-sungguh. Mengingat jumlah
siswa yang dihadapi cukup besar, alokasi waktu pembelajaran terbatas dan
sarana/prasarana pun cukup terbatas. Sehingga sangat sulit menciptakan
partisipasi siswa secara aktif seluruh siswa untuk melakukan
pembelajaran. Secara ideal proses belajar itu dapat dikatakan terjadi,
apabila ada proses penggalangan aktivitas keterlibatan
intelektual- emosional seluruh siswa dalam belajar. Guru diharapkan mampu
mendesain materi pelajaran, sehingga mempunyai daya tarik atau daya
magis yang menggairahkan dan menimbulkan antusias siswa untuk
mempelajari pelajaran lebih lanjut, misalnya menyiapkan alat peraga yang
menarik.

Metodologi Belajar Praktis dan Efektif

Oleh karena itu, sebagai konstribusi yang perlu diperhitungkan dan harus
ada adalah sebuah panduan metodologi belajar bagi siswa. Selama ini
dirasakan belum adanya panduan yang riil untuk membantu siswa mengetahui
bagaimana belajar itu harus dilakukan. Bagaimana cara-cara merespon
stimulus yang dihadapkan padanya, merencanakan belajar dan sistematis
belajar, baik belajar dalam bimbingan guru maupun belajar mandiri.
Bagaimana anak membangun proses penalaran, sikapnya dan psikomotornya.

Kalau kita merujuk pada visi pendidikan yang dirumuskan UNESCO dapat
diketahui, bahwa pendidikan adalah mendidik anak untuk belajar berpikir,
belajar hidup, belajar menjadi diri sendiri, belajar untuk belajar
hidup. Hal ini menunjukkan subjek didik menyadari proses pendidikan
berarti belajar mengendalikan, mengarahkan, menggerakkan dan menyetir
pikiran, sikap maupun psycho motornya untuk mencapai tujuan tertentu
atau menjadi tertentu. Anak belajar tidak hanya mengetahui sebuah
informasi saja, namun mengetahui makna mengapanya dan bagaimananya
sesuatu yang dipelajari, sehingga kompetensi anakpun terbangun
sebagaimana yang dikehendaki.

Untuk dapat mengorganisir jalan pikiran, mengendalikan pikiran,
mengarahkan pikiran, sikap dan psikomotor dengan baik dalam belajar,
siswa mutlak membutuhkan metodologi belajar yang efektif. Metodologi
belajar tersebut menjadi "alat" atau "kail" yang
mengatur dan mengorganisir step by step jalan pikiran yang digunakan
untuk menangkap, mengamati, mencerna, menginterpretasikan , menafsirkan,
merangkai dan menyimpulkan ilmu pengetahuan dengan baik. Dengan kata
lain, anak dengan alat tersebut dapat mengerti apa yang dipelajarinya,
mengetahui bagaimana mempelajarinya dan mampu mengoperasionalkan ilmu
yang diperolehnya.

Tentu kita semua mengharapkan siswa memiliki metode belajar yang efektif
sebagai panduan pengarahan fokus pemikiran, sikap dan psycho motornya
dalam belajar untuk mengurai dan menjelaskan atas objek yang dipelajari.
Dengan alat tersebut siswa mampu menangkap dan memahami bentuk bentuk
operasional yang menghubungkan antarunsur atau bagian yang dipelajari
secara menyeluruh membentuk sebuah pengertian atau maksud. Dengan metode
tersebut membantu menjembatani komunikasi timbal-balik antara siswa
dengan pemberi stimulus belajar (guru). Pada diri siswa pun terus
terpacu untuk membangun jalan pikirannya untuk menjadi atau menguasai
sesuatu hingga tuntas. Dan yang lebih essensial lagi pada siswa sadar
akan dirinya yang belajar, sehingga belajar dilakukan dengan penuh
larutan kegembiraan untuk belajar.

Demikianlah sumbang-saran ini disampaikan dengan maksud sebagai bahan
masukan pemikiran begitu "urgen"nya sebuah panduan metodologi
belajar bagi siswa dalam meningkatkan prestasi dan mutu pendidikan di
Indonesia. Semoga, MENDIKNAS yang baru mau memikirkan, menyusun dan
menggerakkan pengembangan metodologi belajar bagi siswa sekolah di
Indonesia. Jika dibutuhkan, saya bersedia menyumbangkan buah pikiran dan
bekerjasama dalam mempersiapkan metodologi belajar yang efektif untuk
siswa agar kualitas pendidikan di Indonesia dapat ditingkatkan.

Wasalam,

Hendra Surya

0 komentar:

Poskan Komentar