Belanja TI tembus Rp100 triliun

JAKARTA: Belanja teknologi informasi Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai Rp100 triliun yang didominasi oleh produk TI buatan luar negeri.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring mengatakan pemerintah akan terus mendorong peningkatan kandungan lokal dalam produk peranti keras dan peranti lunak teknologi informasi.

"Sangat disayangkan apabila nilai bisnis sebesar itu lari semua ke luar negeri. Pemerintah berjanji akan menelurkan kebijakan-kebijakan yang mendukung industri manufaktur lokal," ujarnya di sela-sela pembukaan pameran komputer Indocomtech 2009 kemarin.

Pemerintah sebenarnya sudah mulai memperhatikan industri manufaktur lokal, di antaranya dengan menerapkan kewajiban kandungan dalam negeri pada penyelenggaraan telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) dan broadband wireless access (BWA) atau WiMax.

Selain mengembangkan manufaktur teknologi informasi lokal, pemerintah juga segera mewujudkan Indonesia interconnection pada 2014 berupa keterhubungan yang sinergis antara infrastruktur dan layanan telekomunikasi di seluruh Tanah Air.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring tahap ke-2 yang menghubungkan daerah-daerah di wilayah timur Indonesia.

"Saat itulah masyarakat bisa berkomunikasi di mana saja dan kapan saja dengan harga yang terjangkau. Saat ini pemerintah menilai penetrasi di sektor TI dan telekomunikasi masih sangat rendah," tutur Menkominfo.

Berdasarkan catatan Depkominfo, penetrasi komputer di seluruh Indonesia baru sekitar 1,4% dari jumlah penduduk, adapun penetrasi Internet hanya sekitar 16%.

Yayasan Apkomindo Indonesia (dulu Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia/Apkomindo ) mendukung program pemerintah yang ingin meningkatkan penetrasi komputer dan Internet di Indonesia.

Salah satunya adalah bersedia mendukung dalam hal pengadaan komputer murah untuk program 1 kecamatan 1 komputer.

Konten Internet

Terkait dengan penetrasi Internet, Tifatul tak menutup mata masih banyaknya masyarakat Indonesia yang mengakses pornografi di Internet. "Saya malu mendengar Indonesia merupakan pengakses terbesar situs pornografi," katanya.

Menurut dia, konten atau informasi yang ditawarkan di Internet tak seluruhnya pantas dan harus dikonsumsi, karena ada juga yang seharusnya dihindari, atau konten sampah.

Hanya saja ketika ditanya apa langkah konkret pemerintah untuk meminimalisasi pornografi di dunia maya ini, Tifatul masih berharap pada pendekatan preventif, yaitu hanya sebatas imbauan atau sosialisasi kepada masyarakat. "Pemerintah sudah memiliki Program Internet Sehat dan Aman [Insa]," katanya.

Menurut catatan Badan Regulator Telekomunikasi Indonesia (BRTI), lebih dari 90% pengakses Internet sekarang memanfaatkan jaringan bergerak, apalagi kini harga handset jauh lebih terjangkau.

Pelanggan Internet di Tanah Air diprediksikan mencapai 50 juta dan 11,5 juta di antaranya melakukan askes Internet melalui ponsel. (arif.pitoyo@ bisnis.co. id)

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar