Generasi Daring

Oleh: Sonny Wibisono *

"Siang malamku selalu menatap layar terpaku untuk online online online
online."
-- Saykoji dalam 'Online'

AKHIR pekan silam Bimo sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumah. Senin ada
rapat penting. Dia harus siap dengan presentasi di depan bos besarnya. Namun
jangankan bisa bekerja. Dia malah diganjal kesal tapi dia tidak bisa berbuat
apa-apa.

Riri, anak terbesarnya menguasai laptopnya. Kebetulan, komputer di rumahnya
memang sedang rusak. Si putri sulung yang duduk di bangku kelas tiga sekolah
dasar itu asyik bercengkerama dengan teman-teman sekolah di situs jejaring
sosial facebook. Apes, Riri tak kenal waktu. Namun Bimo juga tak bisa
membujuknya. Dia tak mau mengecewakan anaknya.

Meski akhirnya Bimo berhasil menyelesaikan tugasnya. Namun dia masih merasa
kesal dengan kelakuan anaknya. Di kantor saja dia tidak begitu suka bila
melihat rekan kerjanya yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
membuka berbagai situs jejaring sosial. Membuka situs tersebut boleh-boleh
saja, tapi kenapa harus seharian? Begitu pikir Bimo.

Aneh memang. Kebanyakan temannya itu mengobrol atau memberikan komentar
status rekannya yang tak lain teman satu kantor juga. Bimo geleng-geleng
kepala. "Kayak enggak ada pekerjaan saja." ledek Bimo ke rekan kerjanya.

Beragam situs jejaring sosial memang merambah Indonesia, sebut saja:
Facebook, Twitter, MySpace, Multiply, Plurk, Hi5, dan Tagged. Bimo sama
sekali tidak anti dengan situs jejaring sosial. Dia mengaku banyak bertemu
kembali dengan teman-teman lamanya tak lain karena situs tersebut. Namun
menghabiskan waktu seharian hanya untuk itu, ya itu, dia tak setuju.

Demam situs jejaring sosial memang tengah menjadi trend. Paling tidak sejak
tiga tahun lalu. Lihat saja statistik yang diambil dari Facebook Usage
Figures. Tercatat pada Juli 2009 saja pengguna facebook di Indonesia naik
hampir 3000% atau 30 kali lipat dibandingkan bulan yang sama tahun
sebelumnya. Luar biasa. Itulah data tertinggi di seluruh dunia.

Ya, aneh betul di zaman kayak gini, istilah anak muda Jakarta, bila tidak
memiliki akun facebook atau twitter. Banyak artis di sana. Bisa paling dulu
tahu apa yang dilakukan artis itu ketimbang berita di infotainment.

Para pelaku bisnis pun mencium peluang cantik. Sebuah telepon dibuat online
sepanjang hari. Paket online atau apa pun namanya laku di pasaran.
Masyarakat pada akhirnya tercipta ketergantungannya pada situs jejaring
sosial itu. Itulah yang membuat Bimo tak habis pikir.

Sampai akhirnya, di sebuah siang yang panas. Jalanan macet luar biasa. Bimo
dan temannya mendapatkan tugas untuk bertemu dengan calon kliennya, hampir
saja ikut terjebak dalam kemacetan itu kalau saja dia tidak menuruti
perintah temannya itu.

Awalnya, dia tidak setuju dengan perintah itu. Apalagi setelah tahu info
soal kemacetan itu didapatkan dari jejaring sosial twitter. Ah, ngawur, kata
Bimo, sambil memindahkan saluran radio yang kerap mengabarkan situasi lalu
lintas di Jakarta. Tapi kabar di radio untuk mengetahui kebenaran berita
tersebut tak kunjung ia temukan.

Dari mulut si teman itu pula mengalir berbagai info yang belum Bimo ketahui.
Tragedi Priok berdarah pertengahan April lalu misalnya. Para tweep, istilah
bagi para pengguna twitter, yang tidak menonton televisi dan yang berada di
luar negeri, mengetahui dari menit ke menit peristiwa Priok berdarah.
Termasuk juga berita meletusnya Gunung Eyjafjallajokull di Islandia, yang
menyebabkan hampir semua penerbangan di Eropa terganggu.

Zaman sekarang adalah masanya daring (online) atau dalam jaringan.
Perusahaan sekelas Starbucks, Dell, dan lainnya memanfaatkan layanan mikro
blogging twitter untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh pelanggan
mengenai produk mereka sehingga menjadi bahan masukan yang berharga.

Dinas Rahasia Inggris, MI-5 bahkan akan memecat agennya yang tidak melek
facebook dan twitter. Hal ini mengingat, seperti dikutip harian Daily Mail
awal bulan ini, penggunaan situs jejaring sosial seperti facebook dan
twitter oleh para teroris dalam melancarkan aksinya kian meningkat. MI-5
bahkan berencana akan membuka rekrutmen dan mencari para lulusan komputer.

Walau tak dituntut seperti agen rahasia Inggris, yang harus mengikuti
perkembangan di luar dengan seksama, belakangan Bimo menjadi lebih sering
membuka situs-situs jejaring sosial. Namun dia tetap ingat waktu. Paling
tidak, bila ia ingin pergi dan pulang dari kantor, ia akan melihat
perkembangan lalu lintas para tweep melalui perangkat ponselnya. Kalau
terjadi peristiwa besar, dia pun memelototi perkembangannya.

Dia pun lebih selektif memilih nama-nama dalam list twitternya. Mana yang
penting atau yang sekadar basa-basi. Mem-follow artis? Dia jengah bila hanya
membaca tweet si artis yang menceritakan makan bakso.

Baginya, online penting, karena segudang manfaat didapatkan, tapi pekerjaan
dan berkomunikasi langsung dengan orang-orang di sekitarnya jauh lebih
memiliki urgensi. Betul. Karena kehidupan yang sesungguhnya ada di luar
sana, bukan terkurung dalam layar komputer.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009


0 komentar:

Poskan Komentar