JK: Penghapusan UN Membuat Anak Bodoh!

SLEMAN - SURYA- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan
ketidaksetujuannya terkait putusan Mahkamah Agung (MA) yang menghapuskan pelaksanaan ujian nasional (UN). Hal itu dinilainya akan membodohi jutaan anak Indonesia.

Ini pendapat pribadi JK yang tidak didukung oleh riset sama sekali. Beliau juga bukan seorang pakar pendidikan, apalagi dalam bidang psikometri. Dulu beliau bisa menetapkan UN karena jabatannya wapres, yang menguasai bidang sosial dan pendidikan, dan bukan karena pertimbangan akademik. Jadi penetapan UN untuk seluruh Indonesia adalah petimbangan politik (kekuasaan) dan bukan akademik.

Demikian hal itu dikemukakan oleh JK saat memberikan kuliah umum pada pembukaan Musyawarah Nasional Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BK-PTIS) di kampus Universitas Islam Indonesia, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/12/09).

"Orang bisa menjadi pintar itu karena belajar. Kenapa belajar, karena akan diujikan. Kalau tidak ada ujian dan semua bisa lulus, untuk apa belajar?" kata Kalla, yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat BK-PTIS.

+ Disini JK kelihatan ancurnya. :-) Memang orang pintar karena belajar. Tapi orang tidak pintar karena ujian. Lha wong fungsi evaluasi aja JK gak paham kok berani ngomong besar seperti ini. Coba resapkan kata-katanya "Kalau tidak ada ujian dan semua bisa lulus, untuk apa belajar?" Ini pernyataan yang beanr-benar ngaco. Dia berpendapat bahwa orang belajar hanya karena ada ujian (dan ujian itu harus bersifat nasional yang berlaku sama untuk seluruh Indonesia)! Dan ini dijadikannya sebagai argumen untuk menetapkan sebuah ujian yang berlaku sama untuk seluruh Indonesia tanpa mempertimbangkan berbagai faktor lain. Sungguh gegabah!

UN, lanjut JK, merupakan sarana untuk membuat seluruh siswa di Indonesia sama pintarnya, karena memakai satu standar. "Siswa di Kendari, Ternate, maupun di mana saja di seluruh pelosok negeri di-set pengetahuannya sama dengan siswa di Jakarta maupun kota besar lainnya," ujarnya.

+ Bukan ujian yang standar yang penting, JK! Tapi pelayanan pendidikan yang standar yang dibutuhkan. Ujian yang standar tidak akan membuat pengetahuan siswa menjadi sama pengetahuannya. Ini ngaco banget. Bagaimana mungkin input dan proses yang berbeda TIBA-TIBA menjadi sama outputnya hanya karena diuji dengan pengukuran yang sama? Ilmu apa yang digunakan oleh JK ini?

Penghapusan UN juga dinilai kemunduran, karena saat ini, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, juga sudah mulai menerapkan UN. "Tanpa itu, siswa akan santai-santai saja belajarnya. Mungkin akan ada yang stres karena UN, tapi lebih baik beberapa yang stres daripada membuat jutaan anak menjadi bodoh," ucapnya.

+ JK ini jelas hanya memperoleh informasi sepenggal-sepenggal sehingga memberikan info keliru seperti ini. Saya menyalahkan para staf ahlinya yang tidak ahli dalam memberikan masukan sehingga keluar pernyataan-pernyata an seperti ini. DI AS TIDAK ADA ujian nasional yang berlaku untuk semua siswa di semua negara bagian. Meski telah ada upaya untuk membuat sebuah standardized exit exams yang ditawarkan kepada semua negara bagian tapi banyak negara bagian yang tidak bersedia. Tak ada pakar pendidikan yang berani meramalkan bahwa AS akan menerapkan sebuah UN yang berlaku untuk semua siswa di semua negara bagian (Ujian Nasional AS) suatu saat. Lagipula karakteristik 'ujian nasional' AS itu sungguh berbeda dengan UN di Indonesia yang serampangan tersebut. Standardized exit ecams yang berlaku di beberapa negara bagian itu telah dimulai sejak kelas 10 dan bisa dilakukan 5 kali selama di SLTA (1 kali di kelas 10, kalau tidak lulus bisa diulangi 2 kali di kelas 11
dan 2 kali lagi di kelas 12). Kalau tetap tidak bisa lulus masih boleh mengulangi setelah lulus SLTA kalau mau dapat sertifikat. Kalau tidak mau ya gak apa-apa dan tetap boleh lulus. Jadi ujian tersebut tidak digunakan untuk MENGHUKUM siswa seperti UN-nya JK ini. Nah! ini yang mau dijadikan sebagai pembanding oleh JK? Certainly not apple to apple.

latief/ Mohamad Final Daeng/kcm

http://www.surya. co.id/2009/ 12/12/jk- penghapusan- un-membuat- anak-bodoh. html


0 komentar:

Poskan Komentar