LOGIKA BENGKOK HOTMA

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton acara “Suara Anda” di Metro TV dengan topik Susno Duadji Vs Syahril Djohan. Hadir pada acara tersebut adalah Togar Sianipar (mantan Kapolda Sumsel), Bachtiar Aly (staf ahli Kapolri), Zul Armain (pengacara Susno Duadji), dan seorang dari anggota Komisi 3 DPR yang saya lupa namanya. Selain mereka berempat turut diwawancarai adalah Hotma Sitompul, pengacara Syahril Djohan. Pembawa acaranya adalah Fifi Aleyda Yahya.

Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya acara tersebut tapi saya tertarik pada analogi yang diambil oleh Hotma Sitompul yang mengatakan kira-kira sebagai berikut : Jika ada seorang jendral yang disuap seseorang maka ada dua kemungkinan, yaitu uang itu diterima atau orang itu ditangkap. Ia kemudian secara retorik bertanya, yang mana yang dilakukan oleh Susno Duadji? Analogi ini dengan cepat dilahap oleh Togar Sianipar dan juga Bachtiar Aly dan mereka juga menyatakan hal yang sama. “”Pertanyaan saya apakah orang yang mencoba menyogok itu dibiarkan atau ditangkap,“

Anda tidak perlu terlalu cerdas untuk bisa menyimpulkan bahwa mereka hendak menyatakan bahwa Susno Duadji menerima uang suap dari Syahril Djohan. Kalau tidak menerima suap bukankah sebenarnya Susno Duadji harus menangkap orang yang berusaha untuk menyuapnya? Begitu kira-kira logika yang hendak mereka sodorkan pada kita.

Benarkah logika ini? Ini jelas logika bengkok dan saya sangat heran dan sekaligus prihatin bahwa orang sekelas Hotma, Togar dan Bachtiar Aly yang katanya professor doktor itu dengan nyamannya melahap logika bengkok seperti ini untuk kita kunyah. Sungguh saya sangat meragukan kredibilitas orang yang menggunakan logika bengkok seperti ini.

Sebenarnya dengan mengatakan begini Hotma sudah melakukan blunder. Mengapa? Ya karena secara tidak disadarinya pernyataannya ini sama artinya dengan menyatakan bahwa Syahril telah melakukan perbuatan penyuapan kepada Susno (dan uangnya diterima oleh Susno makanya Syahril tidak ditangkap). Apakah Hotma tidak sadar akan konsekuensi logis dari pernyataannya tersebut? Bukankah ini berarti bahwa secara logika Hotma mengakui bahwa kliennya memang benar telah melakukan penyuapan dan ini bukti bahwa Syaril adalah benar-benar markus? Mungkin Hotma tidak sadar dalam menyatakan hal tersebut karena tujuan Hotma sebenarnya adalah ingin menggiring kita untuk mencurigai Susno bahwa Susno menerima suap dan itu adalah perbuatan ‘Maling Teriak Maling’.

Apakah mungkin Hotma hendak mengatakan bahwa tidak ada suap oleh Syahril Djohan kepada Susno karena buktinya Syahril tidak ditangkap oleh Susno? Tentu tidak mungkin karena faktanya Syahril sendiri ditangkap dan dijadikan tersangka yang sudah mengaku bahwa ia menyuap Susno dan faktanya ia tidak ditangkap oleh Susno. Jadi hanya ada satu kemungkinan dari logika ini yaitu bahwa Susno menerima suap tersebut karena ia tidak menangkap Syahril, tersangka maskus tersebut. Dan kesimpulan ini yang hendak disodorkan oleh Hotma kepada kita dan diamini oleh Togar dan Bachtiar Aly.

Lantas mengapa Togar dan Bachtiar Aly yang guru besar UI itu mengamini logika bengkok Hotma? Togar jelas tidak bersimpati pada Susno yang dianggapnya melakukan ‘cara yang salah’ dalam upayanya untuk melakukan pembersihan institusi Polri. Baca ini. Togar ingin agar ‘bersih-bersih’ di kepolisian dilakukan dengan cara ‘internal’ dan tidak buka-bukaan seperti ini. Jelas ia tidak menghendaki adanya buka-bukaan di institusi Polri dan apa yang dilakukan oleh Susno baginya adalah kesalahan. Jadi kalau Togar hendak mendikreditkan Susno dengan mengamini pernyataan Hotma maka itu jelas karena ia tidak bersimpati pada Susno dengan caranya tersebut. Bagaimana pun Togar adalah pejabat tinggi Polri dan ia tidak ingin institusinya nampak buruk. Ia jelas membela korps dan bukan polisi yang bisa diandalkan untuk melakukan pembersihan di Polri.

Bachtiar Aly juga bisa dimaklumi mengapa ia ikut-ikutan mengamini Hotma yang ingin mendiskreditkan Susno. Ia adalah staf ahli Kapolri dan tidak mungkin ia akan mengambil posisi yang bertentangan dengan tuannya. Meski ini adalah hal yang wajar di ‘dunia profesional’ tapi saya menganggap orang-orang yang tidak bisa bersikap adil dan obyektif dalam menilai sebagai orang yang diragukan kredibilitasnya. Pernyataan Hotma tersebut jelas salah dan merupakan logika bengkok tapi mereka mengamininya hanya karena tidak suka dengan cara Susno. Mereka jelas tidak mampu bersikap obyektif dalam melihat permasalahan.

Mengapa pernyataan Hotma tersebut adalah logika yang bengkok? Karena dengan pernyataan itu sebenarnya Hotma hanya ingin mendiskreditkan Susno dengan menyodorkan dua kemungkinan : Kalau Syahril tidak ditangkap ya berarti Susno terima suap. Benarkah hanya ada dua kemungkinan tersebut? Tentu saja tidak. Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa saja Susno menolak suap tapi tidak menangkap Syahril. Bisa juga Susno menerima suap tapi kemudian menangkap Syaril. Ada banyak alasan mengapa Susno tidak mau menerima suap dan sekaligus tidak menangkap Syahril. ‘Kalau tidak ditangkap berarti terima suap’ hanyalah logika buatan Hotma yang bukan merupakan fakta atau kebenaran itu sendiri.

Tapi seperti yang saya katakan pernyataan Hotma itu sebenarnya blunder. Bukan hanya blunder bagi Hotma tapi juga blunder bagi Togar dan Bachtiar yang mengamininya. Seandainya saya yang berdiri menggantikan posisi Fifi Aleyda Yahya maka pernyataan Hotma yang diamini oleh Togar dan Bachtiar Aly tersebut akan saya balikkan pada mereka bertiga.

“Jika benar bahwa kalau para markus itu tidak ditangkap berarti polisi terima suap, lantas berapa banyak markus yang sudah ditangkap oleh polisi selama ini? Kita tidak pernah dengar ada markus yang ditangkap oleh polisi ketika melakukan penyuapan, maka ini berarti bahwa SELAMA INI PARA POLISI BERTEMAN DENGAN MARKUS MENERIMA SUAP TERUS MENERUS.”

Bukankah begitu logika yang hendak disodorkan? Kalau tidak ditangkap ya berarti terima suap. Karena tidak ada markus yang ditangkap selama ini ya berarti polisi terima suap terus. Logika bengkok Hotma menghantam kembali pada mereka yang mengamininya dan saya yakin Togar dan Bachtiar Aly tidak menyadari blunder mereka dengan mengamini Hotma tersebut!

Sayang logika bengkok ini tidak dilihat o;eh Fifi sehingga kita tidak bisa melihat bagaimana perubahan wajah mereka jika diserang balik seperti itu!

Balikpapan, 17 April 2010

Satria Dharma

http://satriadharma.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar