UNAS di Australia Seperti apa?

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Saya setuju dengan Pak Satria. Kita tidak bisa samakan Indonesia dengan AS atau negara maju yang lain. Kualitas dari sekolah dan guru di sana sangat jauh berbeda dengan sini.

Di Australia saja dengan hanya 20 juta penduduk, dan hanya (tebakan saya) 6-7 juta anak, tidak ada UN. Yang ada hanya ujian per negara bagian (state). Setahu saya tidak ada yang nasional, karena setiap negara bagian (seperti juga di AS) berhak membuat kurikulum sendiri. Walaupun hampir sama, tetap ada Departemen Pendidikan untuk setiap negara bagian yang menyusun dan memantau kurikulum, ujian, dan proses belajar mengajar untuk negara bagiannya saja.

Tetapi kalau tidak salah, setelah semua ujian selesai, memang ada peneliti dari pemerintah federal yang membandingkan hasil antara setiap negara bagian, dan membuat sebuah indeks prestasi untuk menjaga mutu di setiap kota di setiap negara bagian.
Jadi, kalau tidak salah paham prosesnya, mendapatkan nilai A di kota besar seperti Sydney dinilai 100%. Dan setelah dicek ujian dari kota terpencil, dibuat perkiraan bahwa nilai A di situ setara dengan 94% dari A yang diberikan di Sydney (alias tidak sama, padahal sama2 dapat A).

Lalu bisa dilihat betapa jauh bedanya antara siswa di kota besar dan kota terpencil dari hasil ujiannya. Perbedaan bisa dicari, misalnya, murid2 dari kota kecil kelihatan punya pengertian yang lebih sedikit ttg fisika, matematika, dan ekonomi, tetapi ilmunya lebih tinggi di bidang perkebunan, lingkungan, dan biologi. Jadi periset bisa memberi petunjuk pada Dep.Pendidikan di setiap wilayah bahwa guru di pusat Sydney perlu memperhatikan pengajaran lingkungan dan perkebunan, dan di kota kecil, guru perlu memperhatikan proses pengajaran fisika
dan matematika. Dan seterusnya.

Dan hal yang sama diulangi setiap sekian tahun (2-3 tahun, kalau tidak salah, atau mungkin juga setiap tahun). Jadi walaupun tidak ada satu ujian nasional, murid tetap bisa lulus sekolah dengan nilai yang sesuai dengan lingkungannya.
Dan setelah dibandingkan dengan wilayah2 yang lain, universitas bisa paham bahwa nilai A dari Tegal (misalnya) setara dengan B di pusat Jakarta. Dan C dari Tegal setara dengan D dari Jakarta. Dan seterusnya. Berarti universitas tetap bisa membandingkan para siwsa, dan Diknas mengumpulkan ujian dari setiap wilayah (setelah para siswa sudah lulas) dan membuat perbandingan untuk statistik nasional, dan juga untuk membantu dengan perencanaan.

Tetapi kondisi di Australia sangat berbeda dengan sini. Secara hukum, orang dewasa tidak bisa berdiri di depan kelas kecuali sudah lulus kuliah 4 tahun, sudah diuji dan terakreditasi oleh Dep. Pendidikan Bagian Negara. Jadi kalau anda ke kota terpencil, dengan jumlah penduduk haya 10 ribu orang, dan di situ ketemu seorang guru, maka fasilitas sekolahnya hampir persis sama dengan fasilitas di dalam kota besar, dan guru tetap seorang pendidik yang lulus 4
tahun kuliah. (Kalau selain dari guru berusaha untuk mengajar di kelas, bisa ditangkap dan disidangkan! )

Guru tidak sekedar bertanggung jawab atas ilmu yang disampaikan kepada anak di dalam kelas, tetapi juga bertanggung jawab secara fisik dan secara moral untuk menjaga dan melindungi anak. Sangat dianjurkan (tidak wajib) untuk belajar P3K (saya sudah, dan kebanyakan teman juga). Berarti, bila ada anak jatuh dari pohon
di sekolah, tangannya patah dan dia berdarah dari hidung dan mulut, kita bisa mengatasi sebelum bawa ke rumah sakit, dan tindakan pertama itu bisa menyelamatkan nyawanya.

Bullying wajib dicegah, dan kalau terjadi dengan sepengetahuan guru, maka si guru bisa kena sangsi karena tidak intervensi. Dan lebih dari itu, sebagai guru yang terakreditasi, kita malah bertanggung jawab atas kesejahteraan semua anak di mana saja, kapan saja. Jadi kalau kita lihat anak sedang manjat tiang listrik, atau main di sungai yang berbahaya, lalu kita tidak tegor dan berusaha mencegah, maka kita sebagai guru bisa kena pasal hukum. Tidak ada kaitan dengan
apakah mereka murid kita dari sekolah tidak atau tidak.

Begitu besar peran guru di dalam komunitas, dan sebagai orang yang punya tanggung jawab besar terhadap anak secara jasmani dan rohani, kita selalu merasa sebagai guru di mana saja kita berada (seperti halnya polisi dan dokter tidak bisa melepaskan profesinya dengan buka seragam).

Saya pernah mengajar trik2 untuk belajar bahasa Inggris kepada seorang sopir taksi. Kita sudah sampai tujuan, dia sudah matikan argo, tetapi kita masih bicara selama 1 jam. Dia minta penjelasan terus tentang bagaimana dia bisa belajar sendiri (karena tidak sanggup kursus). Sebagai seorang guru, saya merasa beban dari profesi saya untuk mengajar dia, walaupun hanya sepintas itu saja.

Saat kami kuliah dulu, ditekankan kepada kami bahwa pendidikan adalah sebuah profesi, sama seperti dokter, polisi, hakim, dll. Dia mana saja kami berada, apapun kondisi yang dihadapi, kami tetap harus ingat bahwa kami adalah guru.
Kami yang membentuk contoh yang paling baik bagi masyarakat lewat perbuatan kami, dan cara bicara kami. Kami yang bisa mengangkat tinggi derajat kemanusiaan masyarakat kami, dan kami juga bisa menjatuhkannya (seperti yg dilakukan oleh guru Nazi di Jerman dulu). Keberhasilan jutaan anak dan masa depan bangsa ada di tangan kami.

Itu pelajaran yang diberikan kepada saya dan ratusan guru yang lulus bersama dengan saya (hanya satu angkatan dari satu universitas! )

Apakah itu bisa disamakan dengan kondisi di Indonesia? Saya rasa, untuk saat ini, belum bisa. Maka, jangan coba samakan ujian dari negara maju dengan Indonesia. Kondisi pendidikan di sini dan di negara barat sangat jauh.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

(Guru Australia)

0 komentar:

Poskan Komentar