SERI GURU IDOLA - 1, Branding ( Membangun Kekhasan )

Siang ini begitu terik, Pak Bambang masih
mengajar dengan semangat di sebuah kelas pada sebuah sekolah menengah negeri di
kota ini. Beliau adalah guru sejarah yang disukai murid-muridnya. Hari ini
beliau sedang mengajar tentang kronologi peristiwa Sumpah Pemuda. Semua siswa
mendengarkan dengan seksama, tapi siang yang begitu terik membuat mereka merasa
lelah. Beberapa siswa terlihat mulai mengantuk. Pak Bambang melihat kondisi
ini, kemudian ia membuka kacamatanya dan mulai bercerita. Semua siswa beranjak
membetulkan posisi duduknya, mereka tahu jika Pak Bambang sudah membuka
kacamatanya, maka akan ada sesuatu yang menarik yang akan disampaikannya.
Berikut cerita Pak Bambang, ”Sumpah Pemuda bertujuan untuk menyatukan persepsi
organisasi-organisa si kepemudaan saat itu. Agar semua organisasi memiliki
persepsi yang sama tentang perjuangan merebut kemerdekaan, berbicara dan
berpikir sama mengenai kemerdekaan”. Kemudian ia melanjutkan lagi, ”Berbicara
mengenai perbedaan persepsi, saya jadi teringat sebuah cerita. Ceritanya begini
:



Suatu
pagi sekitar jam 08.30 WIB, telpon berbunyi di salah satu bioskop di bilangan
Kota Depok. ”Halo selamat pagi, Bioskop Depok ada yang bisa saya bantu ?”
resepsionis bioskop dengan ramahnya menjawab telpon.

"Pagi
mbak, saya mo tanya, bioskop mulainya jam berapa ya ?" tanya seseorang
diseberang telpon.

"Jam 12.30 pak " jawab resepsionis. "OK deh, terimakasih
ya" sahutnya.

Tak lama kemudian telpon berbunyi lagi, "Haloo, selamat pagi, Bioskop
Depok. Ada yg bisa dibantu ?" kembali sang resepsionis menjawab.

”Pagi juga, maaf mbak, bioskop main yg pertama jam berapa ya ?" ternyata
orang itu lagi yang menelpon. "Oohh, bapak yg tadi ya ? kan tadi sudah
dibilang jam 12.30 pak” dengan sedikit kesal resepsionis itu menjawab.

”Oh gitu, maaf lagi ya mbak, bisa di percepat nggak ya mulainya ? misalnya jadi
jam 10”

”Loh nggak bisa dong pak, itukan sudah dijadwalkan”

”Oke deh mbak, terimakasih ya"

Kriiing.. kriiing.. kriingg.. Jam 9.30 pagi, telpon resepsionis berbunyi lagi.

”Haloo, selamat pagi, Bioskop Depok. Ada yg bisa dibantu ?"

”Maaf mbak, saya orang yang tadi, bioskop jam 12.30 ya mulai nya ? masih bisa dijadwalkan
ulang nggak ya ?"

"Bapak gimana sih, kan udah dibilang tadi, jadwal bioskop sudah nggak bisa
digonta-ganti, jangan ganggu terus dong. Sebetulnya apa sih maunya ?”

"BUKAN BEGITU MBAK, SEKARANG SAYA LAGI DI DALAM BIOSKOP NIH..., KEKUNCI
SEMALAM GARA-GARA NONTON MIDNIGHT KETIDURAN..! !"



Sontak seluruh siswa tertawa
terpingkal-pingkal mendengar cerita Pak Bambang itu, dan mereka yang tadinya
mengantuk kembali terjaga. Para siswapun menjadi lebih mudah mengerti tentang
perbedaan persepsi yang dijelaskan Pak Bambang. Begitulah khas kelas Pak
Bambang. Penuh dengan selingan humor yang membuat siswa begitu menikmati
pengajaran di kelasnya.



Lain lagi dengan Pak Budi, beliau
adalah guru fisika yang memiliki ciri khas yang lain. Saat ia melihat para
siswa mulai bosan, ia akan mengeluarkan tas berbentuk kotak hitam miliknya, dan
saat itulah para siswa akan mulai antusias untuk menanti benda apa lagi yang
akan dikeluarkan Pak Budi dari tas kotak hitamnya itu. Pak Budi adalah guru
yang pandai membuat alat-alat simulasi fisika yang terbuat dari barang-barang
bekas, dan semua siswa akan sangat antusias untuk memahami fisika dengan
alat-alat itu.



Pak Bambang dan Pak Budi adalah
salah satu contoh guru yang mampu membangun brand image yang baik
didepan siswa mereka. Mereka membangun kekhasan yang menarik bagi para siswa.
Bagi mereka, menjadi guru tidak hanya mengajar dalam rangka mengejar kurikulum,
melainkan juga membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Dan pola
pengajaran yang menyenangkan menjadi sebuah kebutuhan terkait hal ini. Mereka
memperlakukan para siswa seperti layaknya produsen memperlakukan konsumen,
dengan berorientasi pada kepuasan konsumen, sehingga konsumen bisa menikmati
jasa mereka dengan perasaan penuh kegembiraan.



Tidak hanya dengan humor dan
alat-alat simulasi, banyak cara lain yang bisa digunakan. Seorang guru pernah
bertanya dalam sessi training saya. Beliau menceritakan bahwa para siswa yang
beliau ajarkan sangat tertarik dan selalu meminta diceritakan dongeng-dongeng
menarik yang biasanya beliau sampaikan. Tetapi, ia sering kehabisan persediaan
dongeng untuk disampaikan. Kemudian beliau bertanya, bagaimana dia harus
menyikapi hal ini ? Apakah dongeng bisa membuat pelajaran menjadi lebih
menyenangkan ? Saya menjawab, ”Jika siswa sudah tertarik dan meminta, berarti
mereka telah mengidentikkan Ibu dengan dongeng-dongeng itu, itulah brand
image yang telah Ibu bangun, tambahkan persediaan dongeng Ibu, kemudian
sampaikan sesuai dengan tema pengajaran, maka para siswa akan mengingat Ibu dan
pelajaran yang Ibu sampaikan.”



Membuat pengajaran menjadi
menyenangkan, ada banyak caranya. Kita bisa memilih apapun caranya yang penting
sesuai dengan tema pengajaran dan kemampuan yang kita miliki. Ada guru yang
menggunakan musik, pantun, multimedia bahkan permainan sulap dalam sessi
pengajaran yang mereka lakukan. Catatan pentingnya adalah gunakan cara yang
sesuai dengan tema pengajaran dan kemampuan yang kita miliki, kemudian jadikan
itu sebagai pembeda antara kelas kita dengan kelas-kelas lainnya.







Catur
Suryo

Ph : 0818-705497

www.sahabatsuryo. blogspot. com



0 komentar:

Poskan Komentar