Lemah di Matematika, Telunjuk Tertuju pada Guru

DENPASAR--Para guru yang mengajar matematika di sejumlah
daerah, termasuk di ibukota Jakarta, dinilai masih sangat lemah. Hal ini,
kata dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Dr Ir Tedy
Setiawan MT, mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami dan mengerjakan
soal matematika.

"Di satu daerah, kita minta guru matematika maju ke depan membahas soal
ternyata banyak salahnya. Dari sepuluh soal yang diberikan, ternyata ada
yang salah delapan," kata Tedy di Denpasar, Bali, Kamis (11/11).

Hal itu dikemukakan Tedy kapada wartawan di sela-sela acara pelatihan
terhadap 100 orang guru matematika se-Denpasar. Pada kesempatan itu Tedy
menjadi salah seorang tutor, bersama pengelola situs Telkomsel Sahabat Guru,
Ery Wahyu, dan Edy Kusnaedi, seorang guru matematika SMA Negeri Balai Endah
Kabupaten Bandung. Pelatihan dilaksanakan atas dukungan program corporate
social responcibility (CSR) perusahaan seluler PT Telkomsel.

Menurut Tedy, lemahnya kemampuan guru matematika kerap disadari oleh yang
bersangkutan, namun mereka tidak punya forum untuk meningkatkan
kemampuannya, sehingga apa yang diajarkan kepada siswa dari tahun ke tahun
tidak ada kemajuan. Padahal ilmu matematika sudah berkembang, termasuk dalam
menggunakan alat bantu berupa komputer atau sarana informasi teknologi
lainnya.

Berdasarkan pengamatannya, kata Tedy, upaya meningkatkan kemampuan
matematika para guru kerap sudah diberikan pemerintah melalui
pelatihan-pelatihan. Namun selama ini pelatihan guru matematika itu lebih
berorientasi pada kurikulum, bukan membahas kontennya.

Mereka, kata Tedy, lebih banyak dilatih membuat laporan atau mengerjakan
hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan. "Padahal guru itu
harus dilatih bagaimana memecahkan atau menyelesaikan soal-soal yang ada,
sehingga secara mudah dapat dimengerti siswa," jelasnya.

Dari pengalamannya memberikan pelatihan, para guru ada yang secara jujur
mengakui bahwa selama ini mereka salah memberikan pelajaran kepada siswanya.
Mereka kadang juga menyalahkan para siswa yang mengerjakan soal dengan cara
berbeda, padahal itu benar.

Di daerah, menurut Tedy, keadaannya lebih parah lagi, di mana para guru
umumnya kesulitan meng-update pengetahuannya, sehingga ketika siswanya
melanjutkan ke kota, mereka kalah bersaing dengan siswa yang belajar di
kota. Karena itu, dia sangat mendukung upaya memberikan pelatihan secara
terjadwal bagi para guru matematika yang ada di daerah, dengan harapan
mereka bisa memperkaya pengetahuan matematikanya.


0 komentar:

Poskan Komentar