Medali emas di olimpiade sains internasional dan sistem ranking di dunia pendidikan kita

Assalaamu'alaikum, wr, wb.

Kita sering bangga mengetahui berita keberhasilan siswa Indonesia
mendapatkan medali di event olimpiade sains internasional. Kebanggaan itu
menjadi penyejuk dan pemberi asa akan masa depan bangsa kita, terutama di
tengah tengah berita berita buruk yang terjadi di masyarakat kita yang
kadang membuat kita seperti putus asa atas masa depan bangsa Indonesia.

Tetapi, tahukah anda bahwa sistem pemberian medali emas, perak dan perunggu
di olimpiade sains tidak seperti di olimpiade olahraga yang biasa kita kita
kenal ?

Berbeda dari olimpiade olahraga yang hanya memberikan satu emas, satu perak
dan satu perunggu untuk setiap perlombaan, Olimpiade sains memberikan
penghargaan medali emas, perak, dan perunggu kepada lebih dari tiga
peserta. 10 % siswa dengan nilai tertinggi berhak mendapatkan medali emas.
20% siswa berikutnya mendapatkan medali perak, dan 30% berikutnya
mendapatkan medali perunggu. Dengan demikian, 60% peserta pasti akan
mendapatkan medali emas, perak atau perunggu. Di luar top 60% itu, ada para
peserta yang akan mendapatkan sertifikat penghargaan semacam "juara
harapan"; dan sisanya akan mendapatkan piagam penghargaan sebagai "peserta".

http://en.wikipedia.org/wiki/International_Chemistry_Olympiad

So, what gitu loh ?! :)

Sebagian besar di antara kita tentu akan bergumam, "ooo, ternyata begitu,
tho." dan sejurus kemudian, sisi negatif thinking kita akan berkata, "wah,
ternyata tidak sulit untuk mendapatkan medali di olimpiade sains
internasional." Dan tiba tiba, kita tidak lagi bangga dengan medali medali
yang diraih anak anak kita di olimpiade sains internasional tsb.

Negatif thinking itu menurut saya adalah buah dari sistem ranking yang
diterapkan di sekolah sekolah di negeri kita. Sejak kecil, anak selalu
diranking terhadap anak yang lain. Perankingan itu selalu menghasilkan n
posisi juara nomor x, dimana x adalah bilangan bulat positif dan n adalah
jumlah siswa. Dengan demikian, hanya ada satu orang juara satu, satu orang
juara dua, dan seterusnya, hingga pasti ada satu orang juru kunci juara
ke-n.

Dengan sistem seperti ini, maka hanya segelintir siswa saja yang mendapatkan
apresiasi. Mayoritas siswa tidak mendapatkan apresiasi; tidak peduli
betapapun keras usaha mereka, betapapun tinggi nilai mereka. Mereka tidak
mendapatkan apresiasi dari guru, dan dari masyarakat atas apapun yang mereka
capai, kecuali juara 1, 2 atau 3. Apresiasi menjadi barang langka bagi
siswa. Celakanya, orang tua pun juga memiliki pandangan yang sama. Mereka
ikut ikutan pelit memberikan apresiasi thd anak mereka karena anak mereka
"tidak mendapat ranking". Mayoritas anak Indonesia tumbuh dalam suasana
miskin apresiasi karena guru, orang tua, dan masyarakat sangat pelit dalam
memberikan apresiasi.

Kelak, ketika dewasa, anak anak itu juga akan pelit memberikan apresiasi.
Anak anak itu adalah kita kita sekarang ini. Kita yang tiba tiba turun -atau
bahkan hilang seketika- respek dan apresiasi kita untuk anak kita yang
berhasil meraih medali perunggu, perak, bahkan emas sekalipun di olimpiade
internasional; semata mata karena sekarang kita menjadi tahu bahwa bisa jadi
anak peraih medali perunggu itu adalah ranking 60 dari 100 peserta, bisa
jadi peraih medali perak itu adalah ranking 30 dari 100 peserta, dan bisa
jadi peraih medali emas itu "hanya" ranking 10 dari 100 peserta. Sungguh
celakalah diri kita !

Hari ini, 4 anak saya mengenyam pendidikan sekolah dasar dan menengah di
Kanada. Negara yang masuk dalam kategori negara maju. Maukah saya
beritahukan kepada Anda rangking berapa anak saya di sekolah mereka? Tidak
ada satupun anak saya yang "mendapatkan ranking". Apakah saya kecewa dengan
prestasi mereka? Tidak. Mengapa? Karena sistem pendidikan di Kanada sini
tidak mengenal ranking. Tidak ada ujian kenaikan kelas. Tidak ada ujian
akhir semacam EBTANAS atau UAN.

Semua siswa diapresisasi sesuai dengan attitude mereka, kemauan mereka untuk
terus belajar, mencintai dan peduli kepada teman, guru, orang tua dan
lingkungan mereka. Kemampuan akademik siswa tidak diranking thd sesama
siswa, tetapi thd pencapaian standar kurikulum. Ketika semua siswa telah
mencapai standar kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan "alami"
individu siswa, maka semua siswa adalah sang juara.

Mereka menjadi juara bukan karena bisa mengalahkan teman mereka; karena
teman memang bukan untuk dikalahkan. Mereka menjadi juara karena mereka
mampu menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka dengan baik dan
benar. Mereka menjadi juara karena mereka bisa mengalahkan unsur unsur
negatif dari diri mereka: kemalasan, selfishness, akhlak yang buruk, dan
lain lain. Mereka menjadi juara karena mereka mau belajar untuk menjadi
manusia yang baik.

Apakah hanya Kanada yang tidak menerapkan sistem ranking? Tidak. Konon
kebanyakan negara maju memang tidak meranking siswa thd siswa lainnya. Dan
buktinya, olimpiade sains internasional memberikan penghargaan kepada semua
peserta olimpiade. Bukan karena fakta bhw mereka adalah siswa terbaik dari
negerinya masing masing, tetapi karena tujuan dari pendidikan dan acara
olimpiade itu sendiri adalah mendorong kecintaan para siswa kepada sains.
Bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk bersama sama menjadi sang
juara, yaitu mereka yang gemar berfikir, mau meninggalkan kemalasan dan mau
bersilaturahmi dengan teman teman mereka dari seluruh penjuru dunia.

Mudah mudahan sistem ranking di sekolah sekolah di Indonesia segera lenyap.

Setujukah anda dengan do'a saya ini?

Wassalam,

Rois Fatoni
Dosen Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta

0 komentar:

Poskan Komentar