Terobosan Kurikulum Berbasis Individu

Duduk diam di kelas hanya menulis teori, tentu membosankan. Sekolah
sebaiknya menstimulasi siswanya dengan kegiatan yang menyenangkan. Lembaga
ini kiranya dapat mewujudkan, mata pelajaran yang diajarkan secara konkret
bukan abstrak. Sehingga para murid dapat memahami konsep yang diperkenalkan.

Siswa belajar menggunakan dengan material sebagai alat bantu. Ada rumus yang
harus dilaluinya untuk mendapatkan jawaban, bukan sekedar hapalan. Dengan
demikian siswa mendapat jawaban yang lengkap dan tidak mengantung, sehingga
proses belajar mengajar pun menjadi lebih hidup.

Itulah konsep yang diajarkan Lakeside Montessori School (LMS). Sekolah yang
terletak di bilangan Cibubur, Jakarta Timur itu menggunakan metode
pengajaran Montessori yang mendidik anak berdasarkan, minat atau kemampuan
anak yang bersangkutan.
Bangunan sekolah dengan desain rumah joglo itu didirikan oleh Rosalie
Ticman. Ia memilih konsep Montessori, karena metode pengajarannya menekankan
pada pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah.

Selain itu diajarkan pula ketrampilan manajemen waktu, berkontribusi pada
masyarakat dan lingkungan serta menjadi manusia seutuhnya. “Dengan metode
pengajaran yang tepat dan benar, anak tumbuh percaya diri dan cerdas.
Metode Montessori School, mendorong siswa berkembang berdasarkan
perkembangan psikologis mereka (sensitive period),” ujar wanita asal
Filipina yang bersuami orang Jawa.

Siswa belajar sesuai kecepatan dan kemampuannya dengan pilihan aktivitas
yang disukai. Sehingga proses belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan
siswa akan lebih mudah berkonsentrasi, termotivasi serta berdisiplin.

Berbeda dengan sekolah konsep Montessori lainnya, LMS membuat terobosan baru
pada metode asal Italia itu dengan menerapkan, kurikulum berbasis individu
(per siswa). Tujuannya menjawab kebutuhan siswa, karena setiap anak memiliki
aktivitas berbeda. Sehingga menciptakan interaksi spontan dan individu yang
dinamis antara murid dan guru.

Wanita asal Filipina yang biasa dipanggil Rose itu menjelaskan, setiap anak
dapat berkembang secara optimal sesuai pola alami mereka. Hal itu berbeda
dengan sekolah pada umumnya, bahwa akan-anak dalam satu kelas harus
mengikuti pelajaran yang sama, dan bisa membuat anak-anak yang cepat belajar
akan terhambat, sementara anak-anak yang kesulitan belajar akan semakin
sulit.

Di LMS, anak yang cepat belajar diberi kesempatan mengikuti jalur akselarasi
ke kelas yang lebih tinggi. Ini dimungkinkan, karena dilihat kemampuannya
secara menyeluruh, meliputi intelektual, emosional, sosial, spiritual dan
fisik. Jadi tidak semata karena faktor usia. Sedangkan siswa yang lambat
dalam menyerap pelajaran diberi perhatian khusus agar terpacu. Sehingga
ujian mereka diberikan sesuai kemampuan.

*Pelajaran Khusus*
Materi mata pelajaran tidak akan bisa naik, kalau siswa belum cukup mahir
pada hal yang dipelajarinya. Jadi itu menjadi alat monitornya untuk
menindaklanjuti perkembangan anak, bahwa setiap pelajaran ada perbedaan
level. Jadi bagi yang tertinggal ada pelajaran khusus dengan guru tersendiri
hingga mampu.

“Memang kami akan sangat lelah dan saya agak gila memikirkan ini semua.
Namun berkat kesabaran para guru, semua berjalan baik dan ini demi kebaikan
siswa kedepannya guna memiliki kualitas terbaik. Saya menilai tidak ada anak
yang bodoh. Semua bisa maju sesuai potensinya, karena kami sangat
memperhatikan per individu,” ungkapnya.

Untuk menjaga kualitas perhatian pengajar, ditetapkan rasio siswa maksimal
20 murid per kelas dengan empat guru. Jadi satu guru memegang lima siswa,
sehingga semua murid terkontrol dengan baik. Saat ini LMS memiliki 32 guru.
Sedangkan bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar di sekolah, karena dinilai
penting guna mengenal bahasa asing dengan baik di era globalisasi.

Untuk mengetahui perkembangan anak, setiap Jumat pihak sekolah selalu
memberikan laporan ke orangtua siswa, yang dikirim melalui alamat e-mail.
Jadi ada buktinya secara akademik yang bisa melihat nilai-nilai apa saja
yang didapatkan anak. “Tiap tiga bulannya kami juga memanggil orangtua
siswa ke sekolah, guna berdiskusi dan memberikan laporan PTC (Parent Teacher
Conference). Sehingga kinerja guru pun terlihat karena ada target program
yang harus dilakukannya. Disini tidak ada rapor bayangan,” tegas Rose.

Meskipun sebagai sekolah internasional, Rose menuturkan, LMS juga memiliki
muatan lokal seperti bahasa Indonesia, sejarah dan agama. Selain itu
memfasilitasi ujian nasional, agar siswa tetap bisa melanjutkan ke tingkat
pendidikan yang lebih tinggi lagi di Indonesia. Jadi siswa akan menerima dua
ijazah, dari LMS dan dari pendidikan nasional.

“Karena menggunakan kurikulum berbasis individu, siswa bisa masuk sekolah
kapan saja. Jadi tidak perlu menunggu tahun ajaran baru untuk daftar masuk
sekolah maupun pindah sekolah,” ujar pemilik sekolah terdiri dari playgroup
hingga tingkat SMP, yang rencananya tahun depan akan membuka kelas SMA ini.
[SP/Hendro Situmorang]

Biodata

Nama : Rosalie Ticman
Tempat, tgl lahir : Filipina, 31 Oktober
Pekerjaan : Direktur Eksekutif Lakeside Montessori School
Direktur Asia Financial Network (AFN)


0 komentar:

Poskan Komentar