Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila

Masih segar dalam ingatan kita saat Presiden Obama mencoba
mengingatkan kita tentang nilai keberagaman di masyarakat. Presiden Obama
sangat lugas mengatakan tentang semangat Bhinneka Tunggal Ika, semangat yang
tentu menjadi nilai dasar kehidupan berbangsa.

Lepas dari pernyataan Obama, kita patut melihat kembali semangat dasar
Pancasila yang sesungguhnya menjadi identitas kita bersama. Zaman Presiden
Soekarno telah meletakkan Pancasila dalam ranah praktis kehidupan berbangsa,
dalam kajian nasionalisme-revolusioner. Pada masa pemerintahan Suharto,
Pancasila diajarkan dalam konteks yang sangat formal, bahkan formalitas
Pancasila telah tereduksi menjadi bagian kognitif belaka.

Di luar segala kekurangan pemerintahannya, Suharto mampu meletakkan
Pancasila sebagai asas yang digunakan sebagian besar masyarakat sebagai
pedoman bernegara. Pada era Reformasi, kajian Pancasila dilakukan lebih
mendalam, berbagai elemen masyarakat mulai kritis mempertanyakan esensi
pancasila dalam ranah kehidupan.

Masyarakat mulai mencari format yang lebih pasti tentang kajian Pancasila
agar berguna dalam keseharian secara praktis dan dapat dimengerti sehingga
Pancasila tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak tersentuh dalam ranah
praktis. Pancasila diharapkan mampu menjadi dasar kehidupan bernegara secara
nyata. Cara yang paling efektif untuk memasyarakatkan nilai Pancasila tentu
dalam ranah pendidikan.

Namun, tentu bukan pendidikan yang menempatkan Pancasila sebagai gambaran
umum tanpa dipahami secara praktis. Sendi-sendi pendidikan harus mampu
menurunkan Pancasila menjadi pedoman praktis relasi sosial. Melalui
pendidikan Pancasila dapat didekonstruksi menjadi bahan yang menarik untuk
dipelajari oleh para pendidik dan siswa. Pancasila dapat menjadi basis
pendidikan karakter yang khas di Indonesia, dengan fokus keberagaman,
toleransi, dan keadlian sosial.

*Basis pendidikan karakter*

Keragaman nilai dalam Pancasila merupakan modal dasar pendidikan karakter.
Kita tidak perlu lagi mencari-cari bentuk bahkan model pendidikan karakter
karena basis kekuatan karakter bangsa telah kita miliki.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama dapat kita jadikan acuan
pembelajaran beberapa nilai. Nilai toleransi selama ini hanya menjadi wacana
dan sulit untuk dilaksanakan dikarenakan berhenti pada tataran wacana
kognitif. Hal tersebut mengakibatkan kelemahan karakter masyarakat. Sekolah
seharusnya mulai mampu mencoba untuk menguraikan sila pertama menjadi
bahan-bahan nilai dalam pendidikan karakter. Misalnya, toleransi,
penghargaan terhadap kepercayaan lain melalui kegiatan-kegiatan permainan
yang menarik.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi bagian penting dalam rantai
karakter bangsa. Memberadabkan sesama manusia menjadi modal utama dalam
relasi sosial. Salah satu faktor dalam pendidikan karakter adalah kemampuan
untuk memberikan apresiasi kepada orang lain. Melalui kegiatan praktis
misalnya kerapian, kebersihan diri, ketekunan merupakan proses belajar untuk
menjadi beradab. Hal tersebut dapat diajarkan melalui manajemen konflik.
Sebagian orang melihat konflik adalah hal tabu sehingga konflik disingkirkan
dari ranah pembelajaran. Padahal, dalam konflik, kita dapat saling
memberadabkan manusia.

Konflik tentu bukan berarti anarkis, konflik dapat diajarkan melalui proses
debat dan pemaparan argumen. Penting kiranya bahwa pendidikan manajemen
konflik bertujuan untuk memberadabkan manusia dengan saling menghargai. Sila

Persatuan Indonesia mampu diuraikan dengan mengenalkan budaya Indonesia
secara fisik. Berbagai hasil kebudayaan nasional sebagai contoh
kebijaksanaan lokal adalah pintu masuk bagi pemahaman persatuan. Karakter
persatuan yang mendasar adalah cinta Tanah Air. Proses cinta Tanah Air tentu
tidak perlu lagi dengan cara-cara yang sangat abstrak.

Karakter ini dapat dibangun dengan membangun kreativitas siswa, tentu dengan
masih membawa ciri khas kebudayaan daerah. Kreativitas siswa sangat erat
dengan kemampuan memahami secara kognitif (*competence*). Dengan bantuan
teknologi, kita dapat mengenalkan keragaman daerah dengan mudah. Bukan hanya
itu saja, proses kreativitas juga makin mudah dengan bantuan teknologi.
Karakter cinta Tanah Air dapat sangat terbantu dengan kehadiran alat modern
sehingga dalam mengajar pun kita lebih mudah dan menarik.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan adalah sila yang saat ini selalu menjadi acuan
dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Satu masalah yang menarik adalah
kita memiliki dasar nilai demokratis, namun tidak dapat dilaksanakan. Nilai
demokrasi yang mendasar adalah taat asas, sesuai prosedur dan menghargai
martabat orang lain sesuai hati nurani (*conscience*).

Inilah yang dapat disampaikan dalam pembelajaran pendidikan karakter siswa.
Siswa dikenalkan dengan prosedur yang benar dan sesuai aturan/asas yang
berlaku. Hal ini bukan untuk mengajak siswa menjadi pribadi yang semata
patuh, namun mengajak mereka menjadi pribadi yang taat. Taat adalah bagian
dari disiplin maka cara sila keempat ini dapat diawali dengan memberikan
latihan disiplin diri untuk menghargai proses yang melibatkan orang lain.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan basis kepekaan
sosial yang sangat mendasar. Manusia yang berkarakter salah satu indikasinya
adalah mampu berjuang untuk sesama, bukan utuk dirinya. Itulah yang dimaksud
dengan keadilan sosial, keadilan sosial tidak perlu lagi dibahas dalam
cakupan yang luas dan menerawang, namun dalam kegiatan sehari-hari siswa.
Apakah siswa telah berbela rasa (*compassion*) kepada siswa lain? Hal inilah
yang dapat diuraikan dalam pembelajaran sehari-hari.

Sudah saatnya bagi tiap sekolah untuk meletakkan kembali Pancasila sebagai
acuan dasar dalam membentuk karakter siswa. Terbukti Pancasila sangat kaya
akan nilai-nilai keutamaan hidup yang mampu menyejahterakan masyarakat
Indonesia. Sejahtera berarti bebas dari tindakan anarkis, lepas dari masalah
fundamentalitas agama, radikalisme kesukuan, dualisme minoritas-mayoritas,
dan perekonomian yang stabil dan merata. Satu-satunya jalan mewujudkan
kesejahteraan adalah melalui pendidikan karakter.

Sekali lagi, tentunya, pendidikan karakter tidak dapat direduksi pada
tataran angka. Bukan berarti sulit dilakukan, hanya membutuhkan keberanian
pihak sekolah untuk meletakkan pendidikan karakter pada ranah afeksi siswa.
Pemahaman terhadap Pancasila secara utuh tentu menjadi syarat pokok setiap
pendidik.

*Penulis adalah guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta*

0 komentar:

Poskan Komentar