Sumpah Pemuda dan Guru Taman Siswa

Jarang disebut bahwa Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan
Sumpah Pemuda dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito yang berasal dari
kalangan Taman Siswa. Soegondo lahir 22 Februari 1905 di Tuban, Jawa
Timur.

Jika Soekarno pernah tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya
dan menganggap tokoh itu sebagai guru politiknya, maka Soegondo ketika
bersekolah di AMS Yogyakarta pernah mondok di rumah Surjadi
Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara). Maka, jadilah Soegondo seorang
praktisi dan kemudian tokoh pendidikan. Ia memimpin lembaga pendidikan
Taman Siswa di Bandung tahun 1932. Menikah dengan Suwarsih pada tahun
yang sama dan bersama-sama mendirikan sekolah Loka Siswa di Bogor.
Selanjutnya ia mengajar di Taman Siswa Semarang dan tahun 1940 di
Taman Siswa Jakarta. Tahun 1941 ia dipercaya menjadi Direktur Antara.

Tahun 1933 ia menjadi aktivis partai Pendidikan Nasional Indonesia
yang dipimpin Hatta. Bersama dengan Sjahrir dan beberapa orang
lainnya, tahun 1948 Soegondo ikut mendirikan Partai Sosialis dan
menjadi ketua partai ini untuk wilayah Yogyakarta/Jawa Tengah. Setelah
Indonesia merdeka, ia menjadi anggota Badan Pekerja KNIP dan Menteri
Pembangunan Masyarakat pada kabinet Halim (ketika RI jadi bagian RIS)
tahun 1950.

Soegondo melanjutkan pendidikan pada Sekolah Tinggi Hukum di Batavia
tahun 1925 (walaupun tidak sampai tamat). Ia tinggal di rumah seorang
pegawai pos, karena ini ia bisa mendapatkan majalah Indonesia Merdeka
yang sebetulnya dilarang masuk ke Hindia Belanda.

Wawasan kebangsaan Soegondo semakin terbuka setelah membaca terbitan
Perhimpunan Indonesia di Belanda. Inilah yang menggerakkan Soegondo
untuk mendirikan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dengan
beberapa temannya tahun 1926. Tahun 1928, mereka merencanakan rapat
umum yang kemudian dikenal sebagai Kongres Pemuda II. Panitianya
diketuai Soegondo, Yamin sebagai sekretaris, dan Amir Sjarifuddin
sebagai bendahara.

Nyaris gagal

Soegondo melakukan persiapan dengan saksama. Selain membicarakan
dengan para pengurus organisasi kepemudaan, ia juga mendatangi panitia
Kongres Pemuda sebelumnya, serta meminta lulusan Belanda, Mr Sunario
dan Mr Sartono, sebagai penasihat. Kongres ini nyaris gagal karena tak
ada izin. Maka, Sunario bersama Arnold Manuhutu mendatangi pembesar
Hindia Belanda yang dapat mengubah keputusan polisi, yakni K de Jonge.

Perundingan itu tidak selesai dalam satu hari. Hari berikutnya selama
berjam-jam Sunario kembali membujuk pejabat tinggi Belanda itu yang
akhirnya memerintahkan polisi memberi izin, dengan syarat kongres itu
tidak boleh mengkritik kebijakan atau mengeluarkan pernyataan yang
bersifat menghasut dan melawan Pemerintah Hindia Belanda.

Kongres hari pertama tanggal 27 Oktober 1928 sempat dihentikan polisi
dua kali: pertama, ketika seorang pembicara menyebut istilah
”kemerdekaan” dan, kedua, tatkala terdengar ajakan supaya putra-putri
bekerja lebih keras agar tanah air Indonesia dapat menjadi negara
seperti Inggris dan Jepang. Ratusan orang menghadiri kongres itu dan
di luar polisi bersenjata berjaga-jaga. Jadi, acara itu terselenggara
tidak dengan mudah, tetapi berkat kerja sama dan keberanian para
pemuda yang diketuai Soegondo Djojopoespito.

Soegondo meninggal hari Minggu, 23 April 1978, dalam usia 73 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa, Celeban,
Yogyakarta.

Tak punya mobil

Soebagijo IN, wartawan dan penulis sejarah pers, memiliki surat-surat
Soegondo yang antara lain berbunyi: ”Seminggu yang lalu, saya jatuh
dari becak, karena becaknya ditabrak Honda. Untung saya selamat”.
Hanya tulang di kaki Soegondo yang terasa sakit. Sampai akhir
hayatnya, Soegondo tidak pernah memiliki mobil sendiri.

Istri Soegondo, Soewarsih Djojopoespito, meninggal Agustus 1977. Ia
menulis novel Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda (tahun 1940) yang
diterjemahkan kemudian dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh
Djambatan menjadi Manusia Bebas. Di dalam novel itu diceritakan
kehidupan guru-guru yang disebut sebagai ”proletar intelektual”.
Soegondo dan Soewarsih dimakamkan berdampingan di pemakaman Taman
Siswa Yogyakarta.

WR Supratman, pencipta ”Indonesia Raya” yang menyampaikan lagu itu
secara instrumental dengan biola sesaat sebelum penyampaian hasil
Kongres Pemuda II, telah diganjar gelar pahlawan nasional pada tahun
1971. Dua tahun kemudian, M Yamin yang dianggap sebagai perumus Sumpah
Pemuda juga sudah diangkat menjadi pahlawan nasional. Tentu rumusan
Yamin itu tidak sampai kepada publik apabila tidak diadakan Kongres
Pemuda II yang dipimpin Soegondo Djojopoespito tahun 1928.

Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI

0 komentar:

Poskan Komentar