Impian untuk Pendidikan Indonesia: Belajar pada teman-teman di "Industri Kreatif"

Beruntung rasanya bisa mengakses internet. Meskipun jauh dari tanah air,
saya tetap bisa melihat beberapa liputan televisi di tanah air. Kebetulan
iseng-iseng searching mengenai film Meraih Mimpi saya menemukan rekaman
tayangan Kick Andy di Metro TV mengenai dengan tema Meraih Mimpi.

Saya belum pernah menonton film Meraih Mimpi. Meskipun begitu, saya sangat
bahagia bisa melihat wawancara Andy F. Noya dengan beberapa orang terlibat
dalam proses pembuatan film animasi (bioskop) pertama di Indonesia tersebut.
Meskipun tak mendetail, saya bisa mempelajari proses kreatif yang dijalankan
oleh pembuat film. Proses kreatif yang *bukan hanya dikerjakan oleh sebuah
individu seorang, tetapi proses kreatif yang dikerjakan bersama*, oleh
sebuah tim yang sebagian besar anggotanya berasal dari berbagai daerah di
seluruh Indonesia. Sebuah *karya yang dihasilkan secara kolektif, karya
bersama bukan individu*. Meskipun dalam tim tersebut ada berbagai komponen
individu yang memiliki peran tertentu sesuai keahliannya, animator, pemusik,
tim teknis, artis muda hingga yang tua dan berpengalaman seperti Jajang C.
Noer, orang yang khusus mengurus semua animator, bagian komunikasi, dan
sebagainya. *Setiap aggota dalam tim mempunyai peran sendiri*, mereka
memiliki tugas masing-masing. Tetapi yang penting, *bukan hanya bahwa
masing-masing individu bekerja keras sesuai perannya masing-masing, tapi
mereka tergabung di dalam suatu sistem (organisasi) yang memungkinkan mereka
saling bersinergi, saling mendukung, saling mensupport untuk mewujudkan
sebuah tujuan bersama mewujudkan sebuah tujuan bersama (shared aim and goals
)*.

*Shared aim* saya definisikan sebagai tujuan paling sentral, sifatnya lebih
umum, ideal, dan cenderung masih abstrak. Maka *shared aim* dari tim pembuat
film Meraih Mimpi adalah menciptakan sebuah film animasi yang berkualitas.
Shared aim ini kemudian diuraikan menjadi tujuan-tujuan yang lebih
mendetail. Inilah yang disebut sebagai *shared goals*. Shared goals ini pun
memiliki tingkatan-tingkatan . Ada tingkatan yang sifatnya relatif abstrak
yang diuraikan dari shared aimes. Ingin menghasilkan film yang berkualitas.
Berkualitas itu yang seperti apa? Maka perlulah definisi kualitas dalam film
ini diurakan secara lebih mendetail, misalnya bahwa dilm yang berkualitas
berarti memiliki pesan moral yang baik, memiliki gambar yang bagus dan
hidup, menggunakan musik yang merdu, memiliki kandungan ilmu pengetahuan,
memiliki alur cerita yang baik, dan selanjutnya. Shared goals yang lainnya
sifatnya lebih riil, ditingkat penerapan, misalnya menghasilkan tokoh beo
(berupa gambar) untuk mendukung cerita, mencari pengisi suara mengahasilkan
suara yang menggambarkan karakter tokoh tertentu, dan sebagainya. Berhasil
mewujudkan tujuan-tujuan ini akan menghasilkan kesuksesan. Yang
menarik, *kesuksesan
mewujudkan film Meraih Mimpi bukan hanya kesuksesan seorang individu, tetapi
kesuksesan bersama.*

Hal lain yang berkesan saat saya menonton tayangan Kick Andy ini adalah
ketika pandangan tim, meskipun teman-teman yang terlibat dalam film ini puas
dan bangga bisa ikut menghasilkan karya animasi yang berkualitas, mereka
sadar bahwa mereka masih kurang dalam beberapa hal, termasuk pengalaman.
Mereka sadar, bahwa untuk menghasilkan film animasi yang semakin
berkualitas, *proses harus dijalankan dengan baik, bukan instan.* Proses ini
pun bisa berjalan lama, belum tentu dalam setahun atau dua tahun, mungkin
belasan tahun sehingga akhirnya kualitas film animasi di Indonesia akan
terus meningkat secara berkelanjutan. Ini yang saya sebut sebagai *perubahan
yang evolusioner* . *Perubahan yang evolusioner* terjadi karena refleksi yang
berulang-ulang, karena kesadaran untuk berubah, karena menyadari adanya
kebutuhan untuk berubah. Perubahan yang evolusioner adalah perubahan yang
melalui proses (bukan instan). Perubahan yang evolusioner adalah perubahan
yang bukan sekedar kulit, tapi perubahan yang terjadi dari dalam.

Saya selalu bermimpi bahwa proses sejenis (meskipun berbeda bentuknya) dapat
diwujudkan dalam dunia pendidikan. Proses sejenis di sini berarti *proses
yang dikerjakan bersama, bukan sekedar individu*, proses yang memungkinkan
setiap individu bekerja secara maksimal sesuai perannya masing-masing tetapi
juga disupport oleh sebuah sistem yang memungkinkan setiap individu untuk
saling mensupport, bersinergi, untuk sebuah tujuan bersama.

Impian saya selama ini bukan untuk menghasilkan sebuah sekolah yang sukses
secara mandiri, tetapi impian terbesar saya adalah bahwa *semua aspek-aspek
pendidikan yang ada di seluruh Indonesia maju bersama*. Saya selalu bermimpi
bahwa baik teman-teman guru, pengiat pendidikan alternatif, aktivis
pendidikan nonformal dan informal, pihak media, pembuat kebijakan, dan semua
aspek lainnya maju bersama. Bukan hanya bekerja maksimal sesuai perannya
tetapi juga bersinergi, bekerja sama, saling mengisi, saling melengkapi.
Semuanya memiliki semangat dan energi yang melimpah untuk mewujudkan tujan
bersama.

Impian saya ini pun tak akan pernah bisa diwujudkan oleh sebuah individu
atau sebuah organisasi sendiri, tetapi *harus diwujudkan secara serempak
oleh siapapun yang memiliki impian yang sama*. Saya ingin semua teman-teman
yang bergerak dalam bidang pendidikan maju bersama mewujudkan sebuah tujuan
bersama. Sebelumnya tujuan bersama ini harus dedifinisakan terlebih dulu.
Tentu mendefinisikan sebuah tujuan bersama tak pernah menjadi tugas yang
mudah. Perlu melalui proses dialektika yang tidak singkat dengan berbagai
komponen.

Meskipun begitu, mungkin sementara bisa kita asumsikan bahwa tujuan bersama
ini sama dengan apa yang dicita-citakan oleh para founding fathers bangsa
Indonesia,* mecerdaskan segenap kehidupan bangsa*. Ini adalah *shared
aims*-nya.
Sangat general, ideal, dan masih abstrak. Tentu kita harus bersama
mendefinisikan apa yang dimaksudkan anak bangsa yang cerdas. Ini perlu kita
uraikan secara mendetail, misalnya, anak bangsa yang cerdas adalah anak-anak
yang memiliki kepribadian luhur, memiliki kemampuan berpikir yang baik, *
literate*, memiliki kemampuan berproduksi (dalam bentuk apapun) bukan hanya
mengkonsumsi, dan banyak lainnya. Definisi-definisi ini kemudian diuraikan
menjadi tujuan yang lebih realistik (*shared goals*) misalnya memberikan
akses informasi yang seluas-luasnya kepada setiap anak bangsa tanpa
terkecuali (misalnya dengan mendirikan perpustakan di setiap desa di
Indonesia), memberikan akses terhadap berbagai bentuk pendidikan kepada
setiap anak bangsa (sekolah, komunitas belajar, dan sebagainya), meningkatan
kualitas guru secara berkelanjutan (mengadakan training rutin mungkin
mingguan untuk mengingkatkan profesi guru), dan sebagainya. Ini semua,i baru
pendapat saya pribadi, tentunya bila didiskusikan dengan semakin banyak
orang, akan semakin banyak ide yang dihasilkan.

Saya jadi ingat sebuah buku yang say abaca kira-kira 7 tahun yang lalu,
tentang seorang pemikir pendidikan di Amerika Latin yang mengumpulkan
berbagai orang dari berbagai bidang untuk membicarakan bagaiman bentuk
pendidikan yang paling ideal untuk bangsa mereka. Proses diskusi ini panjang
sekali. Para guru, dokter, pekerja, sejarawan, dan lain tentunya selalu
melihat dunia dengan cara yang berbeda-beda, sehingga mereka tentunya
memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang seperti apakah pendidikan
seharusnya.

Bagaimanapun, sebuah proses untuk mencapai tujuan bersama memang tak boleh
instan. Mungkin perubahan yang terjadi tak cepat, tetapi selama perubahan
sifatnya mengakar, diawali dari sebuah kesadaran bersama (bukan sekedar
karena kemauan penguasa), maka saya pun bersedia bersabar menjalankan proses
ini, demi mencerdaskan kehidupan segenap anak bangsa.


Sumber
*Impian untuk Pendidikan Indonesia: Belajar pada teman-teman di "Industri
Kreatif"*
oleh: Dhitta Puti Sarasvati

http://warnapastel.multiply.com/journal/item/89/Impian_untuk_Pendidikan_Indonesia_Belajar_pada_teman-teman_di_Industri_Kreatif

0 komentar:

Poskan Komentar