KOMPONEN PERENCANAAN IMPLEMENTASI KURIKULUM

Terdapat tujuh komponen utama dari sebuah rencana implementasi yaitu :

1. Kajian Terhadap Program Baru
2. Identifikasi Sumber Daya
3. Definisi Peran
4. Pengembangan Profesional
5. Jadwal
6. Sistem Komunikasi
7. Monitoring Implementasi


Penjelasan:


1. Kajian Terhadap Program Baru

Perencanaan implementasi memerlukan kajian tentang program baru untuk mengetahui sumber-sumber yang memungkinkan serta hambatannya. Kajian ini dapat berlangsung di tingkat kabupaten dan dilakukan oleh panitia perencana program, atau dapat berlangsung di tingkat sekolah. Salah satu faktor yang memerlukan pertimbangan awal adalah apakah program berasal dari internal atau eksternal sistem.

Perubahan yang berasal dari dalam perlu diidentifikasi untuk merevisi program. Dalam situasi ini, perubahan tersebut cenderung lebih diterima, karena merupakan tanggapan terhadap kebutuhan yang diidentifikasi oleh guru di dalam sistem tersebut. Pelaksanaan perubahan seperti ini, yang akan diantisipasi oleh staf, bisa mengurangi jumlah kegiatan implementasi awal. Ketika sebuah perubahan yang dipaksakan dari sumber eksternal, akan muncul perbedaan. Penerbitan pedoman kurikulum baru oleh departemen pendidikan tingkat provinsi memerlukan studi awal untuk menentukan perubahan implikasinya pada sistem lokal. Sebuah rencana implementasi harus mengidentifikasi siapa yang akan menerjemahkan pedoman tersebut dalam praktek di kelas. Hal ini juga diperlukan untuk menentukan perbedaan antara praktek-praktek yang sedang berlangsung di sekolah dan praktik yang diberikan oleh pedoman baru.

Hal ini diperlukan menguji program baru untuk mengidentifikasi dampak spesifik yang harus diantisipasi. Perlunya perubahan, yang dirasakan oleh para guru, konsultan, dan kepala sekolah, akan menentukan tingkat komitmen terhadap pelaksanaan kegiatan. Strategi harus dikembangkan untuk memperoleh pandangan setiap pribadi yang akan terlibat dalam perubahan, untuk memastikan bahwa rencana implementasi menjadi gambaran dari kondisi nyata warga sekolah.

Kajian tentang program baru juga harus mengidentifikasi pengaruh potensial pada keyakinan guru, metodologi, dan sumber daya. Analisis semacam ini difasilitasi jika tujuan dari inovasi secara jelas dinyatakan. Staf sekolah dapat didorong untuk mempelajari dasar pemikiran program yang baru dan membahas persepsi mereka tentang metodologi apa yang harus digunakan dan sumber daya apa yang akan dibutuhkan. Tujuan yang jelas memungkinkan untuk menguraikan dimensi perubahan dan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara praktek yang ada dan yang dituntut oleh program baru. Berdasarkan informasi ini, perencanaan berikutnya dapat dilaksanakan.

Hal ini perlu untuk mengukur perubahan, baik secara eksplisit maupun implisit yang akan dihasilkan sebuah inovasi. Jika program baru mengakibatkan banyak perubahan dalam apa yang akan diajarkan guru atau bagaimana mereka akan mengajar, perubahan besar dapat diantisipasi di sekolah dan lingkungan sosial, sedangkan program baru yang mirip dengan praktek yang ada sekarang hanya akan menghasilkan perubahan-perubahan kecil. Tingkat perubahan dapat bervariasi dari setiap sekolah. Setiap staf harus didorong untuk melakukan pengujian sendiri; pada waktu yang sama, komite pusat dapat mengambil informasi yang dihasilkan dari sekolah dan menggabungkannya ke dalam strategi untuk implementasi seluruh kabupaten.


2. Identifikasi Sumber Daya

Identifikasi sumber daya terdiri dari tiga bagian:
a. Sumber daya cetakan dan audiovisual (seperti buku teks, perangkat belajar)
b. Sumber daya manusia (konsultan)
c. Sumber daya keuangan.
Identifikasi itu mencakup kepastian ketersediaan dan mutu sumber.
Sebelum melaksanakan program baru di ruang kelas, guru harus diberi kesempatan untuk menguji sumber daya bahan ajar dan memberikan rekomendasi tentang kesesuaiannya. Hal ini menjamin bahwa guru telah mempelajari pelaksanaan sumber daya tersebut dalam program baru. Aktivitas ini tentu juga menekankan aplikasi ruang kelas yang sempurna dari program baru yang tidak diharapkan sebelum bahan itu tersedia.

3. Definisi Peran/Tugas

Deskripsi Peran/Tugas dapat membatu memastikan bahwa tugas-tugas penting tidak diabaikan. Meskipun guru merupakan pelaku utama dari program baru, namun peran kepala sekolah, konsultan dan pengawas sebagai pendukung bagi guru sama pentingnya. Kajian DESSI ini menunjukkan keberhasilan implementasi sangat tergantung pada program baru yang diberikan oleh kepala sekolah dan pengawas, misalnya alokasi anggaran. Kepala sekolah juga memperlihatkan dukungannya melalui penggunaan jadwal yang telah dibuat serta faktor organisasi lainnya.

Peran guru sebagai implementator adalah kompleks. Di dalam kelas, peran guru mungkin relatif stabil, seperti yang terjadi dalam pelaksanaan sebuah program pada posisi transmisi, atau dapat dikatakan guru lebih fleksibel, misalnya, dalam iklim interaktif transformasi kelas. Guru juga mendukung satu sama lain dalam pelaksanaan di luar kelas. Diskusi di antara mereka sendiri dan berbagi masalah umum memberikan dukungan psikologis kepada para guru ketika mereka mencoba menggunakan program baru. Untuk mencapai hal ini, guru perlu tahu baik apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang mereka harapkan dari yang lain selama pelaksanaan. Dengan jelas garis besar tanggung jawab semua orang yang terlibat dapat membantu dalam proses ini.


4. Pengembangan Profesi

Banyak kebutuhan pengembangan profesional para guru dari sebuah program baru akan menjadi jelas sebagai komponen sebelumnya perencanaan selesai. Orientasi program ini akan memberikan suatu indikasi dasar dari sifat pengembangan professional yang dibutuhkan.
Untuk program berorientasi transmision, kebutuhan pengembangan profesional dapat berpusat pada pengorganisasian isi kursus baru. Guru juga mungkin memerlukan bantuan dalam menggunakan sumber daya seperti buku pelajaran. Sebuah program yang berorientasi transaksi bisa menghasilkan kebutuhan untuk membantu guru belajar metodologi pengajaran baru. Dalam program berorientasi transformasi, fokus dari pengembangan profesional dapat membantu guru untuk memahami alasan program dan untuk memasukkan ke dalam keseluruhan program sekolah.
Beberapa karakteristik program pengembangan professional efektif telah diringkaskan oleh Burello dan Orbaught (1982).
1. Program pendidikan magang harus dirancang sehingga program ini dipadukan dan didukung oleh organisasi dimana mereka menjalankan fungsinya.
2. Program pendidikan magang harus dirancang untuk berbagai program kerjasama.
3. Program pendidikan magang haruslah didasarkan dalam kebutuhan partisipasi.
4. Program pendidikan magang ini haruslah responsive terhadap perubahan kebutuhan.
5. Program pendidikan magang haruslah mudah diakses.
6. Aktivitas magang harus dievaluasi sepanjang waktu dan sesuai dengan filosofi dan pendekatan yang ada.

Joyce, Hersh dan Mc Kibbon mengidentifikasikan lima komponen program pengembangan profesional.
1. Presentasi teori
2. Pemodelan atau demonstrasi
3. Praktek dalam kondisi yang disimulasi
4. Umpan balik terstruktur
5. Pembinaan Aplikasi

Model Pengembangan oleh Seller (1984) merumuskan 5 bagian proses pembinaan yaitu:
1. Analisis
2. Observasi 1
3. Perencanaan
4. Observasi 2
5. Umpan balik


5. Jadwal

Tujuan dari jadwal adalah membantu pengurutan kejadian dan memungkinkan alokasi waktu yang cukup untuk menyertai suatu tugas penting. Perencanaan dalam jadwal untuk implementasi membutuhkan analisis yang cermat dari program baru dan juga perlunya guru menerapkannya. Jadwal itu jauh lebih efektif bila dihasilkan diskusi bersama semua kelompok. Estimasi yang akurat tentang seberapa banyak aktivitas pengembangan profesi yang dibutuhkan dan periode waktu untuk setiap tahapan implementasi dapat lebih baik dengan dukungan guru-guru yang akan menggunakan program baru tersebut.

6. Sistem Komunikasi

Kunci keberhasilan implementasi adalah seringnya dibahas/didiskusika n program baru di antara para guru, kepala sekolah dan Tim Kurikulum. Sistem komunikasi yang terbaik akan membantu diskusi itu dengan memberikan informasi tentang program baru dan mencatat pembahasan yang dilakukan.
Sistem komunikasi dapat memberikan dukungan pada guru. Bantuan dari orang lain dapat dilakukan oleh kepala sekolah ketika seorang guru memerlukan bantuan. Melalui sistem komunikasi, profil tinggi tetap dipertahankan untuk program baru. Hal ini dapat memberikan dukungan psikologis bagi guru. Profil ini juga, diperkuat oleh sebuah program pengembangan profesional, dapat menekankan komitmen dewan sekolah untuk inovasi.
Perencanaan sistem komuniksi dimulai dengan identifikasi dari informasi yang dibutuhkan, siapa yang menggunakan informasi ini dan kapan dibutuhkan. Guru ini perlu mengetahui tentang aktivitas pengembangan profesional direncanakan, proses perubahan program yang telah ada dan kemajuan implementasi secara umum.
Kepala sekolah dan tim kurikulum perlu tahu tentang masalah yang dihadapi oleh guru dan kemajuan umum implementasi (pelaksanaan) .
Sistem komunikasi biasanya memiliki dua bagian. Satu bagian adalah sistem jalur formal untuk memastikan informasi penting antara guru dan komite pusat. Jalur tersebut membantu setiap orang untuk mengetahui siapa yang harus dihubungi untuk memperolem informasi tertentu. Yang lain, yang lebih penting, bagian dari sistem komunikasi yang melibatkan jaringan. Jaringan ini terdiri dari kelompok guru dan kepala sekolah dan / atau tim kurikulum yang secara teratur berbagi pengalaman, dari penggabungan pemecahan masalah setiap kelompok, serta peredaran informasi tentang pelaksanaan program baru.


7. Monitoring Implementasi

Tujuan monitoring adalah mendapatkan informasi yang berhubungan dengan pelaksanaan dan penggunaan informasi untuk membantu dan mendukung usaha dari para guru.
Merencanakan implementasi meliputi pengambilan keputusan untuk menentukan apa yang harus dilakukan selama pelaksanaan dan informasi apa yang akan dikumpulkan.
Misalnya, menentukan apakah perubahan diperlukan dalam jadwal, informasi dibutuhkan tentang di tingkatan mana program baru diimplementasikan dalam ruang kelas. Demikian juga keputusan tentang perubahan dalam program baru dan juga kesamaan dalam perubahan yang terus menerus dilakukan. Untuk mengambil keputusan tentang aktivitas tersebut, maka perlu diketahui apa yang dibutuhkan oleh para guru.
Komponen monitoring dari rencana implementasi meliputi keputusan model terbaik yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program tertentu. Keputusan ini tentu mengarah pada informasi yang dibutuhkan untuk monitoring.


Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi ialah sebagai berikut:

A. Karakteristik inovasi atau revisi
1. Perlunya perubahan
2. Kejelasan, kompleksitas perubahan
3. Mutu dan ketersediaan bahan


B. Karakteristik di tingkat sistem sekolah
4. Riwayat usaha inovatif
5. Harapan dan pelatihan untuk kepala sekolah
6. Input guru dan pengembangan profesi
7. Dukungan komunitas dan yayasan
8. Waktu dan monitoring
9. Beban lebih

C. Karakteristik di tingkat sekolah
10. Tindakan kepala sekolah
11. Hubungan guru dan tindakan kepala sekolah

D. Faktor eksternal untuk sistem sekolah
12. Peranan Departemen Pendidikan dan lembaga pendidikan lainnya.

Kendala dasar lainnya dapat terjadi jika keahlian dan sumber yang tepat dan dibutuhkan tidak tersedia. Keahlian ini berhubungan dengan guru (seperti metodologi pengajaran yang baru) dan kepala sekolah (seperti keahlian kepemimpinan kurikulum). Pengembangan profesi dan perencanaan anggaran termasuk juga hal yang penting.

Ringkasnya, pembentukan rencana implementasi menuntut penyelidikan yang cermat terhadap inovasi yang diajukan serta beberapa aspek dari struktur organisasi yang ada, termasuk peran yang dimainkan oleh seseorang. Demikian juga bentuk akhir rencana, haruslah mengantisipasi permasalahan yang dialami.




DAFTAR PUSTAKA
Miller, J. P. & Seller, K. 1985. Curriculum Perspectives and Practice. New York : Longman




0 komentar:

Poskan Komentar