JS Furnivall–Plural Economy : Kolonialisme-Liberalisme, Lanjutkan!

Sejumlah cendekiawan dan pranata kesarjanaan dengan sadar masuk persekongkolan menyelewengkan ilmu pengetahuan demi tegaknya kekuasaan kolonial. JS Furnivall adalah salah satunya. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1938, terbit karyanya, Netherland India: A Study of Plural Economy. Sebuah opus magnum yang menggetarkan ihwal pentingnya keberlanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia bertirai asap retorika dan diagnosa tajam
ihwal plural economy atau ekonomi majemuk.

Dipetik dari artikel JJ Rizal di Kompas Minggu, resensi buku Netherland India:
A Study of Plural Economy karangan JS Furnival yang edisi Indonesianya telah
diterbitkan oleh Freedom Institute 2009)

Walau demikian JJ Rizal menegaskan bahwa salah jika menuduh Furnival antipati
terhadap pribumi. Bahkan Furnival blak-blakan memaparkan eksploitasi kuasa
kolonial dan kaum modal yang serakah. Ia juga secara khusus memaparkan
pertumbuhan nasionalisme dan gerakan kebangsaan Indonesia.

Namun demikian menurut JJ Rizal “Furnivall alergi kepada para nasionalis
revolusioner. Simpati besarnya untuk para pribumi jinak, pribumi model Barat
yang bertindak dan berpikir persis tuan-tuan putih. Adalah bodoh, menurut
Furnivall, kalau pilih cara revolusioner meraih kemerdekaan. Nasionalisme,
apalagi yang revolusioner, jangan dijadikan dasar negara. Baginya pilihan
terbaik adalah nasionalisme statis yang tidak melihat, bahkan menolak
perkembangan masyarakat dan sejarah.”

Furnival memang mengabdikan dirinya menjadi mesin kolonial untuk menanamkan
garis “Politik Ethis Konservatif”. Yakni ”kebijakan yang diarahkan untuk
meletakkan seluruh kepulauan Hindia di bawah kekuasaan Belanda dan untuk
mengembangkan negeri dan bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di
bawah asuhan Belanda.”

Lepas dari itu semua menurut JJ Rizal, sebagai buku induk ilmu kolonial karya
Furnivall bukan tak berguna. Ia menyarankan membacanya dengan mencontoh cara
Soekarno dalam Indonesia Menggugat membaca dan memakai karya para mahaguru ilmu
kolonial. Comot data dan analisisnya seraya mengingatkan betapa:
”kolonialisme- imperialisme tidaklah mati… tetapi dipakai mengekalkan apa yang
sudah dicapai dengan melalui jalan-jalan yang lebih sunyi, stillere wegen”.

Saya jadi teringat kritik tajam Revrisond Baswir terhadap praktek pendidikan di
Indonesia. Ia menilai telah berlangsung dengan nyaman pelembagaan sistem ‘cuci
otak’ yang bercorak neoliberal dan anti ekonomi kerakyatan pada hampir semua
jenjang pendidikan di Indonesia.

Bahkan ia menilai dari materi ajar dan buku-buku yang disebarluaskan pada
berbagai fakultas ekonomi di Indonesia, tanpa disadari, hampir seluruh fakultas
ekonomi di Indonesia beralih fungsi menjadi pusat pengkaderan agen-agen
kolonial di negeri ini. (Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Pustaka Pelajar 2009.)

Pertanyaannya tak adakah mahasiswa ekonomi sekarang yang membaca buku-buku ajar
ini dengan mencontoh Soekarno? (Saya yakin pasti ada dan bahkan cukup banyak.
Semoga). Ataukah mereka hanya akan membebek saja setelah cuci-otak selama 4-5
tahun masa perkuliahan dan tanpa sadar berpikir dan bertindak
“Kolonialisme- Liberalisme, Lanjutkan!”



timbangan
buku JJ Rizal selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2010/01/js-furnival-kolonialisme-liberalisme.html

0 komentar:

Poskan Komentar