Don't Crack Under Pressure

Oleh: Sonny Wibisono *

"Anda tidak bisa memilih bagaimana atau kapan Anda akan mati. Anda hanya
dapat memilih cara menjalani hidup. Sekarang."
-- Joan Baez, penyanyi dan penulis lagu

ANDA tentu sudah sering menonton televisi. Apakah Anda termasuk melihat
iklannya pula? Coba Anda perhatikan salah satu iklan minuman ringan
terkemuka dari negeri Paman Sam. Tema dari iklan minuman tersebut umumnya
mengenai optimisme. Bahkan menjelang pergantian tahun, di bulan Desember,
mereka memperkenalkan jingle baru, yang intinya mengajak untuk senantiasa
menjalani hidup dengan penuh optimisme dan memperbaharui semangat setiap
hari. Menjalani kehidupan seharusnya seperti itu pula. Tak perlu berputus
asa bila menghadapi kesulitan. Jika kita mampu menjalani kehidupan dengan
bersemangat, maka beban seberat apapun akan terasa ringan. Bila kita selalu
optimis dan tak pernah kehilangan asa, percayalah, kita akan selalu
menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Tak percaya? Mari kita simak
kisah berikut.

Anda mengenal nama Hee Ah Lee? Ah Lee dilahirkan dari seorang ibu bernama
Woo Kap Sun pada 9 Juli 1985 di Korea Selatan. Sama halnya dengan seorang
ibu lainnya dibelahan dunia manapun, Kap Sun mencintai anak perempuannya
dengan sepenuh hati, walau sejak dalam kandungan ia mengetahui bila anaknya
akan lahir dalam keadaan cacat. Ah Lee diketahui menderita down syndrome.
Down syndrome merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat
manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan ini berdampak pada
keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak. Ah Lee juga terlahir
dengan kaki hanya sebatas lutut. Penderitaan awal Ah Lee bukan hanya itu
saja, selain mengalami down syndrome dan memiliki kaki yang mungil, Ah Lee
juga hanya memiliki empat jari. Dua dikanan dan dua dikiri. Kelainan ini
dikenal dengan lobster claw syndrome, keadaan dimana jarinya berbentuk
seperti capit udang, tanpa telapak tangan. Ketika dilahirkan, banyak yang
menyarankan agar Ah Lee dikirim ke panti asuhan. Tetapi Kap Sun dengan tegas
menolaknya. Kap Sun justeru menerimanya hal itu sebagai anugerah. Ia
kemudian merawat dan mendidik anaknya dalam dunia nyata. Untuk melatih
kekuatan otot jarinya, Ah Lee diajarkan untuk bermain piano saat berusia 7
tahun. Tentu sangat sulit untuk mengajarkan bermain piano dengan 'nada-nada
yang harus dihitung' bagi anak dengan kondisi mental terbelakang, ditambah
dengan keterbatasan fisik. Sulit, bukan berarti tidak bisa. Ah Lee bahkan
sempat mogok bermain piano setelah mengetahui ayahnya sakit keras ditambah
ibundanya yang terkena kanker payudara. Akan tetapi sang ibunda, Kap Sun
terus memompakan semangat kepada anaknya. Sang ibunda berusaha mengembalikan
rasa percaya diri Ah Lee. Kap Sun terus membimbing Ah Lee agar dapat tumbuh
mandiri, dan tetap penuh percaya diri dalam menghadapi hidup. Untuk bisa
memainkan karya Chopin Fantasie Impromptu, Ah Lee dengan tekun berlatih lima
hingga sepuluh jam sehari selama lima tahun. Hasilnya sungguh luar biasa.
Pada 1992, Ah Lee memenangkan Penghargaan Pertama dalam the Korean National
Student Music Contest. Dan sejak saat itu, berbagai penghargaan atas
keterampilan bermain piano telah diraih Ah Lee. Ah Lee pun telah merasakan
bagaimana rasanya berkeliling dunia, termasuk bermain bersama para artis
terkenal. Pada 2007, Ah Lee melakukan konser piano tunggal di Balai Kartini,
Jakarta. Konsernya ini merupakan bagian dari program tur Hee Ah Lee ke
beberapa negara di Asia Tenggara termasuk dalam penampilannya di Indonesia.

Mari kita beralih ke belahan dunia lain. Anda mengenal nama Nick Vujicic?
Vujicic lahir di kota Melbourne, tanggal 4 Desember 1982. Seorang ibu
manapun ketika melihat bayinya yang baru lahir, tentu mencoba untuk segera
memeluknya, tetapi itu tidak dilakukan oleh sang Ibunda Vujicic. Saat
Vujicic dilahirkan, ia tidak mempunyai kaki dan tangan. Ketika ibunya
melihat Vujicic lahir tidak dalam keadaan normal, ia memerintahkan para
perawat untuk membawa Vujicic keluar dari kamar. Dokter, perawat, dan
keluarga tertegun melihat pemandangan menyedihkan ini. Para dokter tak dapat
menerangkan secara medis bagaimana Vujicic dilahirkan dalam keadaan seperti
itu. Ibu Vujicic adalah seorang perawat. Ia menjelaskan bahwa selama
kehamilannya, ia merawat dengan baik bayinya. Ia selalu menjaga kesehatan
dan memakan asupan makanan bergizi. Diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun, bagi keluarga Vujicic untuk menerima hal ini sebagai suatu
kenyataan yang harus dihadapi. Tahun-tahun awal dilewati Vujicic dengan
penuh rintangan dan hambatan. Hingga pada akhirnya, Vujicic bersekolah di
sekolah umum. Pada awalnya Vujicic mengalami kesulitan dalam menjalankan
kegiatan di sekolah umum. Vujicic memang mampu mengikuti pendidikan umum,
karena hanya fisiknya saja yang terganggu, sedangkan otak dan pikirannya
berjalan dengan baik. Tetapi lingkungan sekolah berkata lain, Vujicic harus
menerima kenyataan pahit. Ia mendapat perlakuan yang membuatnya menderita,
dimana Vujicic dikucilkan oleh teman-teman kelasnya. Vujicic jelas merasa
amat tertekan. Pada umur 8 tahun, Vujicic sempat memikirkan untuk bunuh
diri. Lambat laun, Vujicic menyadari kekurangannya, ia terus berdoa agar
hidupnya lebih baik dengan apa yang ia miliki. Vujicic mencoba untuk
bersyukur atas apa yang telah diberikan olehNya. Hingga akhirnya Vujicic
berhasil menyelesaikan pendidikannya, bahkan mendapatkan dua gelar, dalam
bidang Akuntan dan Keuangan Terpadu. Itu terjadi ketika Vujicic berusia 17
tahun. Vujicic kemudian memulai kariernya dengan menjadi pembicara motivasi
yang fokus pada kehidupan remaja masa kini. Ia pun menjadi pembicara dalam
sektor perusahaan yang bertujuan menjadi pembicara inspirasi tingkat
internasional. Saat ini Vujicic telah berkeliling dunia untuk memberikan
motivasi dan inspirasi bagi setiap orang. Baik bagi penyandang cacat, maupun
manusia normal lainnya.

Vujicic dan Ah Lee, hanyalah seorang pria dan wanita dengan keterbatasan
fisik. Namun dengan segala keterbatasannya, tidak menjadikan Vujicic dan Ah
Lee putus asa dalam menghadapi jalannya kehidupan. Vujicic dan Ah Lee bahkan
mampu memperlihatkan kepada dunia apa yang telah mereka lakukan, sekaligus
memberikan inspirasi bagi siapapun untuk tidak pernah menyerah dan putus asa
dalam menghadapi kehidupan. Seperti sebuah slogan jam tangan terkemuka yang
diperkenalkan tahun 1991, 'Don't crack under pressure', yang menggambarkan
bahwa keberhasilan seorang atlet dalam bertanding ditentukan oleh kekuatan
mentalnya, bukan fisiknya. Begitu pula dalam menjalani hidup ini. Don't
crack under pressure. Betul. Jangan mudah menyerah! (250110)

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009


0 komentar:

Posting Komentar