AWAS, KONGKALIKONG PERTAMINA-SPBU NAKAL

Kongkalikong
Wira Penjualan (WP) Pertamina dengan SPBU nakal ternyata bukan isapan
jempol. Akibatnya, pertamax oplosan marak di DKI Jakarta.
DUGAAN patgulipat permainan
kotor Wira Penjualan (WP) Pertamina terlihat dari mengendurkan
pengawasan terhadap SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Hal
tersebut, terlihat dari paskasidak WP Pertamina terhadap SPBU yang
berlokasi di Kelapa Dua, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Semula, dari hasil
pemeriksaan muncul dugaan adanya pertamax oplosan. Namun, mendadak
masuk angin. Berdasarkan dokumen pemeriksaan WP pertamina dalam sidak (Sabtu, 13/2) di SPBU
bernomor 34-11507, mencuat dugaan kuat adanya pertamax oplosan. Selain
itu, alat ukur SPBU yang dikelola PT DPL itu, menyalahi aturan.
Ujung-ujungnya, konsumen akan terus dirugikan.

Dalam dokumen sidak WP yang ditandatangani Kepala Penjualan Pertamina Area
DKI Jakarta, Adi Nugroho, mencatat adanya ketidakberesan dalam alat
ukur SPBU tersebut. Berdasarkan uji tera yang dilakukan alat ukur
terdapat kecurigaan. Khususnya di pompa pertamax dan pertamax plus. Selain
itu, terkait kemurnian BBM-nya, WP Pertamina mencium aroma aneh dalam
pertamax dan pertamax plus. Ketika dilakukan pengecekan stok BBM riil,
muncul keanehan. Terdapat selisih antara stok BBM di buku administrasi
dengan stok riil yang tersimpan di tangki penyimpanan. Misalnya,
berdasarkan stok administrasi, volume pertamax tercatat 3,265 kilo
liter. Sementara stok aktual yang didapat dari hasil dipping mencapai
12,332 kilo liter. Untuk pertamax plus, berdasarkan stok administrasi
tercatat 4,642 kilo liter. Sementara, stok aktual di tangki penyimpanan
didapatkan sebesar 6,432 kilo liter. Dari
data tersebut, sangatlah wajar apabila WP Pertamina mencurigai bak
penampung BBM jenis pertamax dan pertamax plus dioplos dengan BBM jenis
lain. Kemungkinan besar dugaanya dioplos dengan BBM jenis premium. Selanjutnya,
tim dari WP Pertamina yang dipimpin Adi Nugroho, beranggotakan Nazwa
Tandjung dan M Reza, mengambil sample pertamax dan pertamax plus untuk
diuji laboratorium. Upaya tersebut ditempuh guna meneliti kemurnian BBM
yang dicurigai oplosan. Namun,
anehnya, pihak Pertamina tidak langsung menyegel pompa pengisian
pertamax dan pertamax plus. Berdasarkan aturan, seharusnya pompa
pengisian tersebut disegel begitu muncul kecurigaan adanya BBM oplosan.
Demikian pula, sertifikat ‘’Pasti Pas’’ yang dikeluarkan Pertamina,
seharusnya dicabut. Tidak juga dilakukan. Lemahnya
kinerja WP Pertamina menang sudah lama mendapat sorotan tajam DPR.
Ketua Komisi VII asal Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya mengatakan
bahwa temuan WP Pertamina harus ditindak lanjuti Pertamina. Karena WP
Pertamina adalah lembaga yang diberikan amanah untuk memonitoring SPBU.
Apabila terbukti menjual BBM oplosan, harus ditindak tegas. “Tentunya,
Pertamina harus menjatuhkan tindakan tegas. Karena itu temuan dari WP
Pertamina yang tugasnya memonitoring SPBU,’’ paparnya kepada Indonesia Monitor. Menurutnya,
SPBU nakal yang melakukan praktik-praktik haram dengan mengurangi
volume BBM dengan cara “menukangi” alat ukur ataupun mengoplos BBM,
harus dilaporkan ke aparat kepolisian. Karena perbuatan tersebut,
merupakan tindak kejahatan. “Berdasarkan UU Migas sudah jelas. Itu pidana, sanksinya penjara. SPBU-nya harus disegel, pemiliknya harus diperiksa,’’ tukasnya. Pandangan
senada diungkapkan anggota Komisi VII asal F-PAN, Tjandra Widjaja,
Pertamina harus tegas dan terbuka dalam mengawasi SPBU yang dikelola
swasta. Karena peluang terjadinya pengoplosan BBM sangat besar. “Kalau benar harus diberi sanksi keras. Cabut izinnya, serahkan ke polisi kasusnya agar ditindaklanjuti. Kalau perlu, blacklist perusahaan tersebut,’’ tegasnya. Ditegaskan
Tjandra, penyelewengan BBM yang dilakukan SPBU tidak bisa dibiarkan.
Pengawasan terhadap SPBU yang dikelola swasta harus lebih ketat. Karena
secara tidak langsung akan mempengaruhi citra Pertamina sebagai BUMN
yang digadanggadang Go International. “Kalau
pengawasan terhadap SPBU yang dikelola swasta dibiarkan lemah, bahaya.
Selain konsumen merugi, kredibilitas Pertamina bisa hancur. Apa
Pertamina rela, citranya rusak gara-gara perbuatan SPBU nakal yang
dikelola swasta. Saya minta Pertamina serius dalam kasus ini,” tegasnya. Upaya Indonesia Monitor untuk
mengkonfirmasi masalah ini kepada Dirut PT DPL yang mengelola SPBU yang
diduga mengoplos pertamax tidak pernah membuahkan hasil. DS yang hobi
mengoleksi foto pejabat negara itu, sedang berada di luar kota. Berdasarkan
penelusuran, DS adalah pemain lama SPBU dan dikabarkan dekat dengan
Megawati itu, sempat berurusan dengan aparat penegak hukum karena
dugaan mengoplos BBM di 2002. Menanggapi
dugaan kongkalikong WP Pertamina dengan pengusaha SPBU, Humas Pertamina
Area DKI Jakarta, Audy Arwinandha Nasution buru-buru membantah.
Menurutnya, hasil uji laboratorium SPBU nomor 34-11507 yang terletak di
Arteri Kelapa Dua, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, sesuai dengan standar.
‘’Jadi salah kalau disebut ada pertamax oplosan. Bagaimana caranya.
Hasil uji laboratoriumnya, sudah on the spec,’’ tegasnya. ■ Iwan Purwantono
http://www.indonesi a-monitor. com/main/ index.php? option=com_ content&task= view&id=4512& Itemid=39

0 komentar:

Posting Komentar