Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana Kamis, 8 April, 2010 16:44

Oleh Dhitta Puti
Sarasvati

It was Miss Emily
herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And
if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a
large calender with photos of the county. She had quite a collection of
these picture calenders, and we got through most of the counties this
way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going
through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields;
if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded
with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a
grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now,
after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my
idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily
put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch
myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the
first time I ever heard of Derbyshire.
(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan menemukan potongan di
atas. Satu bagian dari novel yang melukiskan" bagaimana seorang guru,
dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas
yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di
Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan
daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun
dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa
meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita
mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru,
tepatnya dosen saya sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB.
Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di
hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di
laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di di
salah satu ruangan di lab itu yang merupakan kantornya.. "Permisi Pak,"
sapa saya. Ia membalas, " Halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya berbentuk seperti silinder yang
memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab,
"Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang
kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan
alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia
menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor, aliran
panas akan lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang
terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami
kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang
tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian
bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh
bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses
kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan
cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya
mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajak
saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google
untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan
waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya
memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti
teman-teman seprogram studi saya yang lain. Tetapi perbincangan di hari
itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya , sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater
sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya
kesan yang Pak Halim tinggalkan di hari itu. Suatu hari di laboratorium
surya.

Dipublikasikan di rubrik SHARING YUK, website Klub Guru Indonesia:
http://klubguru. com/2-view. php?subaction= showfull& id=1270514215& archive=& start_from= &ucat=34&

Yang mau ikut sharing, silakan kirim ke info@klubguru. com
Arsip sharing guru lainnya, silakan buka: http://klubguru. com/v2-index- sharing.php

Salam,
/MI

0 komentar:

Poskan Komentar