Dilema mengajar: Isi atau Cara Berpikir?

Kalau kita cermati buku-buku teks untuk siswa hampir semuanya berisi informasi. Proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas pun isinya penuangan informasi yang ada dalam buku. Kemudian pada akhir semester dan akhir tahun ketika ujian tiba, para siswa juga diuji seberapa banyak informasi yang dapat mereka ungkapkan kembali. Isi ujian adalah: nama benda, tanggal, tokoh, tempat kejadian, nama proses, kejadian penting, definisi, rumus, bahkan dalam kesenian pun pertanyaan ujian: Apa judul karya ini? Siapa tokoh aliran musik itu?

Kita, orang awam, bahkan guru dan pendidik masih terkagum-kagum dengan banyaknya informasi yang bisa diungkap kembali oleh oleh seseorang. Penghargaan terhadap hal ini sangat tinggi, bahkan seseorang bisa masuk museum rekor dengan menghafalkan nama presiden sedunia, mengingat nomor telepon dalam buku telepon, menyebutkan nama-nama pemain bola dll. Bukannya tidak menghargai kemampuan menghafal. Tetapi pertanyaannya adalah: Selanjutnya apa? Untuk apa semua itu?

Menuangkan Isi
Proses pembelajaran paling mudah memang belajar isi suatu topik. Dalam sejarah misalnya: tanggal peristiwa, nama tokoh proklamasi, nama pemberontak PRRI, kapan dan di mana terjadinya. Hal yang nyaman bagi guru dan siswa untuk berinteraksi. Mudah bagi guru untuk menyiapkan pelajaran, membuat soal dan menilainya. Bagi siswa, hal ini mudah untuk menghafalkannya serta menjawab pertanyaan dalam ulangan atau ujian. Pertanyaan selanjutnya: Apakah itu berguna bagi siswa di luar sekolah? Apa yang hendak dibawa oleh siswa setelah lulus nanti?

Mengajarkan Cara Berpikir
Amat jarang guru yang memikirkan pertanyaan inti dari sebuah pelajaran. Mengapa saya harus mengajarkan topik ini? Mengapa topik ini penting bagi siswa saya? Mengapa para ilmuwan sejarah berbeda pandangan tentang peritiwa yang terjadi pada 30 September 1965? Bagaimana mereka bisa mencapai kesimpulan seperti itu? Apa yang mereka pikirkan? Bagaimana jika fakta-fakta yang ada dilihat dari berbagai sudut pandang?

Jika saja pertanyaan-pertanya an ini diajukan ketika seorang guru hendak menyiapkan silabus dan rencana pembelajaran dapat dibayangkan betapa berbedanya proses pembelajaran yang terjadi. Siswa akan diajak berpikir mengenai cara berpikir itu sendiri. Proses kejadian dalam sejarah bukan proses tunggal. Mereka saling berkaitan satu sama lain. Interpretasi terhadap apa yang terjadi juga bisa berbeda berdasarkan posisi sosial, politik, pandangan agama dan lain sebagainya. Yang akan terjadi dalam proses pembelajaran adalah sebuah pergulatan pemikiran antar siswa, siswa dengan guru dan juga antar guru.

Dilema
Mana yang hendak dipilih? Menuang informasi yang dengan itu hasilnya mudah diketahui dan siswa bisa lulus ujian dengan mudah karena ujian saat ini masih mengacu kepada pembelajaran model ini. Atau mengajarkan proses berpikir dengan hasil yang akan terbawa sampai dewasa, tertanam kuat pada siswa namun sisah untuk menilainya serta dengan resiko siswa sulit lulus ujian karena tidak banyak mengetahui informasi. Pertanyaannya: Apakah memang itu pilihannya? Atau ada jalan keluar lain?

S Agung Wibowo
http://agung1971. wordpress. com/2010/ 03/29/dilema- mengajar- isi-atau- cara-berpikir/


0 komentar:

Poskan Komentar