PEREMPUAN YANG TERLINDAS DAN TERTINDAS DI TEMPAT KERJA

Oleh Tabrani Yunis

Pekerjaan, pada hakikatnya tidak mengenal jenis kelamin. Benar. Cobalah
periksa, apa jenis kelaminnya pekerjaan itu. Pasti anda tidak akan
menemukannya. Nah, jadi, kesimpulannya pekerjaan itu memang netral. Tetapi
kalau jenis-jenis pekerjaan memang banyak. Namun, bukan jenis kelamin. Nah,
sekali lagi bahwa pekerjaan itu tidak ada yang berjenis kelamin laki-laki
atau perempuan. Namun, mengapa dalam system kehidupan kita, sejak dahulu
kala, pekerjaan itu seakan berjenis kelamin?

Pekerjaan-pekerjaan domestik ( rumah tangga), seperti memasak, membuat kue,
menjahit atau mencuci disebut sebagai pekerjaan perempuan, bukan kerja kaum
laki-laki, walau dalam realitas sekarang banyak sekali laki-laki yang
bekerja sebagai tukang masak, tukang menjahit, bahkan tukang cuci. Keluar
dari rumah, ke ranah publik, misalnya banyak perempuan yang bekerja sebagai
pegawai negeri sipil (PNS), namun pekerjaan-pekerjaan yang mereka geluti
tidak jauh dari stereotype perempuan. Sebagai contoh, pilihan yang paling
banyak bagi perempuan adalah menjadi guru. Selain menjadi guru, bidan,
perawat kesehatan, dengan alasan itulah pekerjaan yang cocok bagi perempuan.
Kalau dalam organisasi atau kantor dan perusahaan, perempuan sering
diposisikan sebagai sekretaris atau bendahara yang harus tampil cantik,
dengan argumentasi perempuan dianggap lebih telaten dan pantas untuk posisi
itu. Begitu juga di bank-bank, perempuan lebih banyak diposisikan pada
posisi teller. Mereka seakan dijadikan sebagai daya tarik bagi para nasabah.
Pekerjaan-pekerjaan semacam ini menjadi identik dengan perempuan. Anehnya
ada pula yang berpendapat bahwa kodrat perempuan di dapur, di sumur dan di
kasur. Ironis bukan?

Selanjutnya silakan temukan di majalah POTRET edisi 31. Masih banyak cerita
menarik yang kami sajikan, suara para perempuan yang selama ini mengalami
diskriminasi di dunia kerja.

Salam

Tabrani Yunis

0 komentar:

Poskan Komentar