Reuni

Oleh: Sonny Wibisono *

"Perpisahan merupakan awal dari pertemuan tak terduga berikutnya."
-- Anonim

WABAH baru itu bernama reuni. Kafe, food court, ruang besar di hotel,
sekolah, kampus, atau sekadar tongkrongan di pinggir jalan kini banyak diisi
oleh orang-orang yang berkumpul kembali. Istilahnya, ya reuni itu tadi.
Mereka yang sudah lama tak jumpa, berkumpul lagi untuk menjalin pertemanan
yang telah lama menghilang. Tengoklah di food court centre di sebuah
apartemen di daerah Kuningan, awal bulan ini, misalnya. Sebuah reuni dengan
meriah diadakan.

Tak bisa dipungkiri, ini adalah dampak dari situs pertemanan yang marak
belakangan ini. Dengan situs pertemanan itu, mereka yang tak ketahuan
rimbanya seolah berada di depan mata. Sebenarnya reuni secara maya telah
terjadi. Namun pertemuan fisik tetaplah penting. Akhirnya, digagaslah
pertemuan itu. Mereka melepas kerinduan setelah hampir dua puluh tahun
terputus.

Lalu apa yang terjadi dalam peristiwa bertemu kembali ini? Banyak. Kaum
lelaki yang berperut subur. Kaum wanitanya yang juga sudah melar tubuhnya.
Walau mungkin saja masih tetap menyimpan ketampanan dan kecantikannya di
masa lalu. Bahkan terbetik kabar, ada yang telah meninggal. Cerita lainnya,
ada yang diam-diam menjerit histeris karena ternyata pujaan hatinya di masa
lalu tak datang. Ada juga yang tersenyum sumringah karena bertemu lagi
dengan mantan kekasih di zaman cinta monyet dulu. Ada juga yang sudah
berhasil menjadi pengusaha, sehingga bisa menjadi donatur acara tersebut.
Bak permen yang memiliki banyak rasa, banyak perubahan terjadi disana-sini.

Namun tak sedikit yang diam-diam minder karena merasa nasib dan karirnya tak
terlalu cemerlang. Semua beraduk menjadi satu dalam sebuah acara yang
berkemas, temu kangen atau mengenang masa lalu itu. Setelah itu, tak sedikit
yang kemudian melanjutkan acara reuni itu menjadi erat. Mereka membuat
arisan rutin atau kumpul bareng bersama secara berkala. Lalu ada pula yang
mewadahi menjadi suatu paguyuban.

Tak ada yang salah. Bahkan sangat bagus. Menjalin kembali persahabatan yang
telah lama terbengkalai. Hidup dalam suasana kekeluargaan dan keakraban
adalah satu kenikmatan yang luar biasa. Namun tentu saja berkumpul secara
rutin saja tidaklah cukup.

Lantas apa yang harus dilakukan? Reuni atau berkumpul kembali tentunya hanya
satu langkah awal untuk memulai sesuatu yang baru, persis seperti yang
dilakukan puluhan tahun silam, atau tepatnya pada saat kita sedang
bersama-sama duduk di sekolah yang sama. Ingatlah suatu ketika kita pernah
membuat tugas sebuah mata pelajaran secara berkelompok. Bersama-sama membeli
kodok untuk pelajaran biologi, misalnya. Kita sama-sama urunan untuk membeli
kodok tersebut, walau akhirnya harus disembelih untuk dilihat bagian dalam
dari tubuhnya. Kita yang saat itu tak punya uang dan hanya bisa memberikan
sedikit untuk urunan, sehingga terpaksa ditalangi oleh mereka yang punya
kelebihan uang.

Kita pernah pula, mungkin, harus terbaring sakit di rumah. Pada saat itu,
teman-teman kita datang menjenguk untuk memberikan semangat agar lekas
sembuh. Penganan yang seadanya, yang kita tahu merupakan hasil patungan dari
teman-teman menjadi satu penghibur yang terasa manis.

Barangkali kini kita mengalami hal yang sebaliknya. Berkecukupan secara
materi, saatnya untuk membantu teman-teman yang kekurangan. Atau kini kita
yang masih bugar dan sehat, sudah saatnya untuk menggerakkan kaki untuk
menjenguk, apalagi memberikan bantuan pada mereka yang tengah mengalami
gangguan kesehatan. Sekadar untuk bertanya pada mereka tentang keadaan
keluarganya, tentu sangat membantu mereka yang kekurangan.

Mengadakan reuni semestinya memang tidak berhenti dengan usainya kegiatan
itu. Namun yang jauh lebih menyenangkan, silaturahmi yang terjalin membawa
masing-masing dari kita untuk tetap saling menyapa, kembali berkawan, dan
tentu saja memberi bantuan sekecil apa pun, moril dan materiil, bagi mereka
yang membutuhkan. Atau ke depannya, mungkin saja menjalin kerjasama dalam
bentuk lainnya yang saling menguntungkan. Dan yang paling penting, menjalin
kembali tali kasih yang telah terberai. Itulah inti dari reuni.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009


0 komentar:

Poskan Komentar